
Senja pada akhirnya hanya bisa memonyongkan bibirnya, berpikir biasa-biasa laki-laki tersebut meminta nya memanggil.
Suami kuuuu.
Gadis tersebut membatin sambil sedikit mencibir.
Ahhhh kan tadi cuma main-main.
Dia jadi pusing sendiri.
"Jalanan banyak berubah"
Tiba-tiba Cakra bicara, karena suara kendaraan yang lalu lalang lebih kencang dari suara Cakra, Senja buru-buru memajukan kembali tubuh nya, mencoba bertanya ulang.
"Ah?"
Dia memasang telinga nya baik-baik.
"Lubuklinggau banyak berubah"
Cakra mengulang kata-katanya, hal itu jelas membuat Senja mengerutkan keningnya.
"Loh tuan...eh..."
Senja menggigit lidah nya sendiri saat Cakra melotot membulatkan bola matanya.
"Suami ku..... apakah kamu pernah kesini sebelumnya?"
Senja berteriak manja sambil mengedip-ngedipkan bola matanya, minta berdamai dengan kata-kata.
"Belum terbiasa hehehe, suami ku...ohhhh suami kuuuu"
Gadis tersebut kembali bicara dengan manja.
"Aku merinding mendengar nya"
Cakra tertawa kecil.
Apaan? memang nya lucu?!.
Senja langsung menatap kesal kearah Cakra.
"Aku yang merinding menyebutnya"
Protes Senja.
"Saye suke, saye suke, tampak seronok di dengar"
Tiba-tiba Cakra mengeluarkan logat Melayu nya.
__ADS_1
ahhh tiba-tiba malam ini jadi banyak warna, dia merasa sedikit terhibur dari penat nya pikiran dan pekerjaan kantor yang menumpuk.
"Tapi Saye tak suke, macam beban berat di pikul berton-ton"
Lagi gadis tersebut protes, mencoba logat Melayu tapi ternyata rumit juga, dia tidak biasa.
Lagi kali ini Cakra tertawa terbahak-bahak, Senja menatap takjub, baru tahu kalau tertawa lepas laki-laki itu terlihat tampan dengan sudut pandang tersendiri, dia baru kali ini melihat nya tertawa begitu bahagia seolah-olah tidak menyimpan beban didalam nya dan hal tersebut menghilangkan kesan seram dimana mereka pertama kali bertemu dulu.
Senja mengulum senyuman nya, dulu bang Rudi pernah berkata.
"Biarpun tidak kaya dan bukan orang hebat, minimal bisa memberikan vibes positif dan kebahagiaan pada orang lain itu merupakan ibadah terbaik kita, apalagi sampai membuat seseorang kehilangan beban nya, itu akan terasa menyenangkan"
Gadis tersebut menarik pelan nafasnya.
"Benaran pernah ke Lubuklinggau sebelumnya?"
Senja pada akhirnya bertanya dengan serius.
"He em"
Cakra menjawab pelan.
"Ada beberapa kenangan yang tertinggal disini, terkadang begitu aku rindukan dan berpikir ingin kembali"
Cakra bicara sejenak, Membiarkan ingat lama sesekali menghampiri dirinya.
Aku merindukan mu, sangat.
"Semua benar-benar berubah, sudah bukan lagi kota kecil yang seperti desa, sekarang sudah sebesar ini dengan berbagai macam bangunan mewah"
Cakra bicara dengan cepat.
Senja menganggukan kepalanya.
"Kemajuan jaman, yang lama sudah tergerus masa oleh predator mesin raksasa, yang dibawa manusia untuk mencari lembaran bernama uang"
Ucapan Senja jelas benar adanya.
"Penduduk asli sudah berpindah kebelakang, investor asing telah berkuasa di laman depan"
lanjut gadis itu lagi.
itu adalah realita, pribumi nyaris tidak memiliki lagi tanah mereka di bagian depan kota, dijual karena berlomba-lomba mendapatkan sebongkah uang demi untuk bersenang-senang dan menghamburkan uang, begitu menjual tanah mereka pada orang asing, penduduk pribumi menghabiskan uang untuk jalan-jalan, beli kendaraan, bangun rumah gedong di belakang dan pergi keluar negeri untuk bersenang-senang, untung jika sadar diri di sisihkan untuk umroh atau haji.
pemikiran sempit karena tidak pandai mengelola lahan dan tidak bisa berbisnis hingga akhirnya tanah bumi ibu Pertiwi perlahan di jajah kembali oleh orang asing dari negara anta beranta, kemudian menyalahkan pemerintah karena pembangunan milik luar dimana-mana, Realita nya mereka lupa, mereka sendiri yang memberikan jalan untuk para penjajah.
"Secara perlahan penjajah masuk tanpa dirasakan"
Ucap Embun pelan.
__ADS_1
"Kamu ternyata jauh lebih smart dari apa yang aku pikirkan, jika sekolah tinggi aku ragu kamu tidak melampaui diri ku"
Ucap Cakra cepat, kalimat nya memuji tapi berharap jangan lupa kodrat nya sebagai seorang istri.
"Aku tidak bermimpi untuk jadi istri yang menduduki kepala suami, karena kodrat istri berada di samping suami,selama cukup lahir dan batin, tanggung jawab dunia akhirat, aku tidak pernah ingin melampuai kodrat ku sebagai perempuan, takut di mintai pertanggungjawaban di akhirat kelak"
Senja berucap pelan.
Cakra diam sejenak, membawa motor tersebut terus bergerak kedepan, ucapan Senja membuat dia tidak mampu menggerakkan bibirnya.
"Kapan terakhir kali suami ku kesini? oh ya ampun bayangkan susah nya aku bilang suami ku"
Senja kembali mencairkan suasana.
Cakra terkekeh.
"Terakhir mungkin 18 tahun yang lalu"
Laki-laki tersebut berucap pelan.
Mendengar ucapan Cakra seketika Senja tertawa terbahak-bahak.
"Gilaaaa itu bulan dan tahun berapa? jangan-jangan aku baru lahir beberapa bulan atau bahkan belum bisa jalan"
Dia berusaha menghitung usia, sekarang dia baru 19 tahun, Cakra ke Lubuklinggau 18 tahun yang lalu, bagaimana ceritanya?.
Mendengar celotehan Senja, Cakra diam sejenak.
"Ternyata usia kamu semuda itu"
Ucap laki-laki tersebut pelan.
"Suami ku...aku baru tahu kamu ternyata sangattttt tua sekali"
Lagi Senja tertawa terbahak-bahak, dia pusing memikirkan jarak usia mereka, Cakra usia nya jelas lebih dari 35 tahun,kalau tidak salah 36 tahun entah lewat atau belum.
dia benar-benar menikahi bapak-bapak eh Om Om, untungnya ganteng dan mapan, kalau tidak Senja bisa pusing memikirkan nya.
Ditengah tawa Senja yang begitu lepas, Cakra melirik gadis tersebut dari kaca spion motor, laki-laki tersebut mengulumkan senyuman nya.
"Tapi aku cukup tampan untuk ukuran usia tua, kamu tidak malu membawaku kemana-mana"
jawab nya dengan Pede nya.
"Ishhh"
Senja memunyungkan bibirnya.
Iya sih, memang.
__ADS_1
batin gadis tersebut sambil mengulum senyuman.