
Ada yang bisa menebak kemana Cakra membawa nya?!.
Senja terlihat bergetar, tidak bisa mengontrol degup jantung dan emosionalisme didalam hati nya, bukan emosi karena marah namun emosionalisme karena rasa bahagia, terharu, sedih, senang dan entah lah tidak ada yang bisa di ungkapkan oleh Senja dengan kata-kata.
Mereka berada di sebuah ruangan yang cukup luas, ada mama dan papa mertua, ada mak dan bapak, ini bukan kejutan ulang tahun tapi kejutan kecil untuk diri nya yang membuat dia berkaca-kaca.
Congratulations.
Ada gambar ucapan selamat, ada beberapa berkas yang siap ditandatangani dan ada tanda penerimaan yang dia impikan selama ini.
Dia diterima disalah satu universitas bergengsi, melanjutkan masa depan mengejar cita-cita nya, kuliah di universitas impian yang pernah menjadi bagian dari impian paling terbesar nya.
Dan ... disampingnya ada tiket luar biasa yang menjadi impian dia untuk Mak dan bapak, mungkin bagi orang kaya impian ini seperti memetik buah saking gampang nya, tapi bagi orang miskin hal ini tentu mimpi terindah yang di harapkan dalam doa dan usaha pagi, siang, sore dan malam.
Menunaikan ibadah umroh.
"Abang?"
Dia bertanya dengan bibir bergetar, mereka akan pergi bersama satu keluarga.
"Ini..."
"Bukan mimpi"
Cakra langsung menyahut cepat, merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Senja masuk kedalam pelukan nya, sudah tahu betapa cengeng istri nya, pasti langsung mewek dan mencari dada untuk disandarkan atau di peluk kemudian menangis setiap kali terharu akan sesuatu, dia mulai paham kebiasaan istri kecil nya.
"Ahhhhhh"
__ADS_1
Senja langsung masuk kedalam dekapan Cakra, persis seperti anak kucing kecil yang masuk kedalam dekapan sang empunya, terlalu manis dan imut, terlalu menggemaskan yang terkadang membuat Cakra ingin memguyel-nguyel pipi tembam istri nya.
Mak dan bapak juga mama Niar dan Papa Gunawan cuma bisa mengulum senyuman mereka melihat keromantisan kedua orang tersebut, sangat bahagia melihat respon yang diterima Senja.
Cakra Membuat rencana matang tentang semuanya, kala itu pernah bertanya kemana cita-cita Senja, universitas apa yang menjadi impian nya, jurusan apa yang diharapkan nya.
Setalah obrolan panjang lebar, Cakra berpikir dengan sangat keras, mencoba meminta bawahan nya bergerak ke Lubuklinggau, melihat nilai ijazah dan bertanya apakah ada kemungkinan besar Senja masuk atau tidak di universitas impian nya.
Rupanya sang istri pernah mendapatkan jalur undangan untuk masuk ke sana di tahun sebelum nya, karena tidak punya biaya dia melepaskan impian nya. Tinggal di kota besar pasti membutuhkan banyak biaya, ketakutan bapak dan Mak melepaskan anak perawan di kota metropolitan menjadi pertimbangan besar dan keras hingga membuat Senja membuang seluruh impian dan cita-cita nya.
Cakra benar-benar berusaha keras untuk bisa membuat impian Senja tercapai, tanpa harus membuat sang istri ikut ujian dan tetap masuk melalui jalur undangan, dengan berbagai macam koneksi dan kekuasaan itu memang bukan hal yang sulit, tapi membagi waktu untuk mondar-mandir mengurusi perusahaan dan berbagai macam keperluan untuk melengkapi berkas-berkas Senja jelas bukan hal yang mudah.
Belum lagi drama untuk mendapatkan ijazah, dia persis seperti pencuri yang diam-diam mengambil ijazah dan berbagai macam perlengkapan dokumen istri nya.
Belum lagi harus mengurus keberangkatan umroh diam-diam, apalagi mengurusi kasus Mell juga soal Rudi yang terus menekan pikiran nya, semua sungguh-sungguh menyita banyak waktu Cakra hingga membuat dia seringkali terlambat pulang dalam keadaan terlambat.
"Bagaimana Abang?"
Suara Senja terlihat memecah keadaan, membuat Cakra melebarkan senyumannya, menatap perempuan tersebut yang kita mendongakkan kepalanya.
"Usaha dan doa, sedikit perjuangan dan drama untuk mendapatkan semua nya"
Ucap Cakra sedikit terkekeh.
"Sempat di anggurin istri karena pulang terlambat beberapa kali dengan dalih sibuk sampai lupa waktu makan dan istirahat"
Lanjut Cakra lagi.
__ADS_1
Wajah Senja seketika memerah, ingat beberapa kali dia marah karena Cakra lupa waktu,lupa segalanya, pulang lewat tengah malam bahkan beberapa kali telat makan, belum lagi drama pura-pura balik marah saat dia merajuk karena kesal.
"Marah Kemarin juga bagian dari rencana?"
Tanya Senja masih dangan bola mata berkaca-kaca.
"Sebenarnya ingin pura-pura marah untuk kejutan hari ini, tapi mama langsung marah-marah karena kata nya sedikit berlebihan, menantu nya curhat terus bikin Mama jadi emosi dengan anak nya sendiri"
Laki-laki tersebut menoleh kearah Mama Niar, wanita itu seketika terkekeh kecil.
"Mana tega dengar menantu curhat panjang lebar, yah gimana lagi"
Mama Niar bicara sambil membiarkan tangan suaminya merangkul dirinya.
"Pasti mama dengerin Senja curhat sambil nahan tawa juga kan?"
Pada akhirnya Senja coba-coba menjebak.
"Campur aduk menjadi satu, mama kayak nya tidak cocok jadi aktris, beberapa kali hampir kelepasan menahan perasaan"
wanita tersebut kembali terkekeh.
Seketika tawa dari semua orang menggema, Senja mengulum senyum malu nya kemudian memunyungkan bibirnya kearah Cakra.
Masih kesal dengan sandiwara suaminya, tapi kejutan hari ini mengalahkan segalanya.kali ini dia memeluk semua orang bergantian, merasa terlalu bahagia dengan semua kejutan.
"Ma...pa...Mak... bapak..."
__ADS_1
Ahhhh bagaimana menjabarkan kebahagiaan nya? ini terlalu sempurna, kado indah dan istimewa dari banyak buah kesabaran, bonus dari Allah SWT untuk kehidupan orang susah yang diberikan jodoh luar biasa dengan keluarga yang juga luar biasa.