Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Tidak mungkin seperti yang dia takutkan


__ADS_3

Disisi lain.


Riana yang tadinya bergerak masuk ke dalam gedung pernikahan Pullman Jakarta Central Park sejenak berpikir untuk pergi ke toilet, perut nya tiba-tiba terasa tidak nyaman.


Gadis tersebut sengaja meninggalkan mama nya yang terlihat gelisah sejak tadi, dia pikir apa yang dipikirkan oleh Mell, seolah-olah ada beban yang tengah menghantam mama nya.


Tapi Riana adalah Riana, memiliki sifat 11-12 dengan mama nya, mana mau peduli pada perasaan orang lain meskipun itu mama nya sendiri, dia lebih memikirkan soal perut nya ketimbang bertanya ada apa dengan mama nya.


Hanya akan menyulitkan dirinya jika bertanya soal mama nya, malas sekali.


Gadis tersebut bergerak meninggalkan Mell.


Dia pikir dia tidak harus menggunakan toilet digedung pernikahan, antrian sesak pasti akan terjadi, dari pada dia harus menunggu lama atas rasa perut yang tidak baik-baik saja, lebih baik keluar dari sana dan mencari toilet pada Pullman Jakarta Central Park Mall nya saja, berjalan memutar meminta sopir mengantar nya berpindah tempat.


"Pak, putar masuk ke mall"


Begitu tiba diparkiran dia meminta sopir bergerak pergi dari sana.


Sang sopir mengerutkan keningnya, menatap nona muda nya sambil menggaruk-garuk kepalanya, dia pikir sejak dulu nona muda nya memang sangat ribet kehidupan nya, dan apapun yang diinginkan nya harus diberikan tanpa ada bantahan.


"Baik nona"


Dia patuh, langsung naik ke mobil, menunggu anak majikan nya segera naik ke mobil yang dikendarai nya, begitu Riana naik buru-buru laki-laki tersebut bergerak memutar dari sana, mengikuti perintah gadis muda di samping nya.


Meskipun cukup sulit keluar dari area parkiran hotel Pullman Jakarta Central Park, untungnya masuk ke mall cukup mudah mengingat hari masih pagi dan pengunjung masih cukup sepi.


Dia mencari area parkiran terbaik, menepikan mobilnya dan berhenti pada tempat yang paling strategis, Mengingat mereka pasti lagi-lagi harus kembali memutar masuk ke gedung pernikahan.


Riana langsung bergerak turun dari mobil nya, berencana masuk ke dalam mall tersebut, tapi sejenak bola mata Riana menangkap satu mobil yang jelas tidak asing untuk dirinya, gadis tersebut mengerutkan keningnya.


"Papa?"


Dia diam sejenak untuk beberapa waktu, kemudian buru-buru berbalik dan membuka pintu mobil tersebut lagi.


"Itu mobil papa kan mang?"

__ADS_1


Dia bertanya pada sopir pribadinya.


mendapatkan pertanyaan dari putri majikan nya, laki-laki tersebut menoleh kearah mobil Fortuner keluaran terbaru tahun ini yang mendominasi berwarna hitam di sisi kiri mereka.


"Iya non"


Dia jelas tahu itu mobil tuan besar nya.


Mendengar Jawaban sopirnya, Riana diam, dia langsung menutup kembali pintu mobil, bergerak cepat masuk kedalam mall tersebut dengan cepat.


Tidak tahu kenapa perasaan menjadi tidak enak, dia berusaha terus bergerak masuk untuk mencari toilet paling terdekat sambil kepalanya terus dipenuhi tanda tanya.


Agak ingat dengan pesan yang dikirim sahabat baik nya.


"Aku mau ke mall sebentar ketemu seseorang, jadi tidak bisa pergi dengan kamu Na"


"Ketemu siapa?"


"Adalah"


"Bapak pernah bawa gadis cantik dalam mobilnya waktu bibi ngambil paketan non"


"Na benar dah, aku pernah lihat Vervita sama papa kamu ke hotel"


"Na kek nya aku tidak bisa datang ke pesta ulang tahu kamu"


"Na lain kali saja yah"


"bapak baru saja pergi sama seorang gadis tadi"


"Bapak bawa cewek cantik yang mirip sama teman kamu"


Jutaan suara menghantam kepalanya.


Riana terlihat panik, kekhawatiran menerjang dirinya.

__ADS_1


"Papa kamu sudah berkali-kali selingkuh, tidak mengecilkan kemungkinan selingkuh lagi dengan orang paling terdekat kamu kan?"


"Bagaimana kalau papa kamu selingkuh dengan teman baik kamu?"


Dan Riana berhenti dari posisi nya, mematung sambil menatap keseluruh arah mall tersebut.


"Tidak mungkin kan?"


Batin nya pelan.


"Kamu punya pacar?"


"Ada"


"Siapa?"


"Nanti lain kali dikenalkan"


"Dari kalangan mana?"


"Pengusaha, di satu perusahaan"


"Kok tidak pernah cerita?"


"Aku dan dia tidak bisa mempublikasikan hubungan kami saat ini, ada banyak pertimbangan yang terjadi, Papa ku sepertinya akan sulit merestui kami"


"Kenapa?"


"ada banyak faktor yang mempengaruhi'


Riana mencoba menutup kedua telinganya dengan kedua belah telapak tangannya.


"Tidak mungkin kan?"


Lagi dia membatin dengan jutaan kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2