Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Laki-laki yang begitu dia cintai


__ADS_3

Kembali ke masa pagi.


Hari H Senja dan Cakra.


pagi.


Vervita naik ke atas mobil Anggara, membenahi posisi nya kemudian berkata.


"Angga menunggu kita di sana, pa"


Setelah bekata Begitu Vervita menoleh kearah laki-laki yang sudah dia anggap seperti papa sendiri tersebut.


Anggara tahu Vervita mencintai Rudi Anggara, putra kandung nya. Tapi nyatanya Rudi belum membalas perasaan gadis tersebut sama sekali, selain hati nya pernah terluka karena mencintai gadis lain di masa kemarin, laki-laki tersebut mempertimbangkan banyak hal untuk menerima Vervita.


Entahlah dia tidak tahu.


"Apa Angga baik-baik saja?"


dia bertanya, fokus menatap kearah depan namun khawatir dengan putra nya, Rudi paling suka di panggil Angga sejak dia masih anak-anak, laki-laki tersebut berkata Angga merupakan identitas yang tidak terpisahkan dari dirinya.


"Anggara, aku suka nama belakang ku,pa"

__ADS_1


Senyuman indah dari anak usia belia, menatap dirinya dalam pandangan penuh cinta.


Entah seberat apa kehidupan Rudi saat mereka berpisah karena ulah Mell, Anggara tidak berani bertanya.


Mencari mereka pontang-panting kesana-kemari setelah ingatan nya kembali, bertemu Angga pada satu kebetulan karena jelita.


Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyakinkan putranya jika dia dibodohi Mell hingga menelantarkan mereka, Vervita adalah jembatan penghubung dirinya dan Angga untuk bisa bicara Antara satu dengan yang lainnya.


Karena itu dia selalu memberikan jalan untuk Vervita bisa bersama Angga, dia pasti akan mendukung mereka hingga ke jenjang pernikahan sekalipun jika Angga tidak bersedia.


Vervita hanya menunggu hingga Angga membuka hati nya.


Vervita tersenyum manis, menatap laki-laki paruh baya lebih disamping nya yang dilanda kecemasan.


"Papa sudah tahu soal penyakitnya"


Saat laki-laki tersebut berkata begitu, mimik wajah Vervita berubah, seketika bola matanya berembun, dan didetik berikutnya tangis Vervita pecah.


Dia menyembunyikan nya begitu lama, menanggung beban seorang diri soal kesehatan Angga, kali ini tangis nya pecah, dia terisak-isak tanpa bisa dia menahan nya.


Anggara terlihat diam, memilih tidak melanjutkan kata-katanya, dibalik tangis Vervita ada hati nya yang ikut hancur yang baru tahu kondisi putranya.

__ADS_1


"Aku bagaimana hidup tanpa dia, pa?"


Pada akhirnya gadis tersebut bertanya, membuang pandangannya, membiarkan dirinya menatap ke sisi kaca dimana dia berada.


yah aku bagaimana hidup tanpa dia? satu-satunya orang yang mengulurkan tangannya ketika aku terluka adalah dia.


Masih Vervita ingat, dikala dia terluka karena Mell dan Riana dimana kala itu papa nya terkena serangan jantung karena perusahaan tidak baik-baik saja, dia duduk di lantai rumah sakit, menekuk kan lututnya dan membiarkan kepalanya berada diantara lutut nya, Vernita menangis dalam diam di heningan malam, tanpa siapapun disekitar nya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Angga berdiri tepat dihadapan nya, mengulurkan tangannya dengan tatapan sedingin gunung McKinley yang merupakan puncak gunung tertinggi di Amerika Utara.


"Aku akan meminjamkan bahu ku untuk kamu, menangis lah disini sesuka hati mu"


Laki-laki tersebut selalu berkata begitu, menepuk bahunya dengan lantang sembari menatap dalam bola mata Vervita, dengan sukarela meminjamkan bahu kokoh nya pada Vervita, dia terlihat sombong dan kokoh dari luar padahal Angga begitu rapuh dan terluka dari dalam.


Lalu bagaimana bisa dia kehilangan satu-satunya tempat yang dirasakan nya sebagai tempat ternyaman dirinya selama ini jika Angga pergi meninggalkan semua orang?!.


"Dia tidak mau melewati operasi nya juga tidak bersedia di kemoterapi"


Ucap Vervita lagi kemudian, dia memejamkan bola matanya, membiarkan sisa air matanya terus tumpah membasahi bumi.

__ADS_1


__ADS_2