Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Jangan mempermalukan dirimu


__ADS_3

demi apapun Riana pikir apakah dia harus berdebat dengan laki-laki di hadapan nya itu saat mendengar apa yang diucapkannya?!.


rasanya jutaan kemarahan menghantam dirinya saat ini, dia berusaha untuk menahan segala perasaan yang satu persatu, sejak tadi Rudi terus mengompori dirinya bahkan tidak memiliki sedikitpun rasa hormat kepada dirinya, seolah-olah sejak awal laki-laki itu memang tengah menguji batas kesabarannya.


"apakah tidak bisa sedikit saja menyenangkan hati seorang gadis? kau hanya seorang sekretaris tapi cara bicaramu seolah berkata kau adalah tuannya"


gadis itu mulai marah sembari menggenggam erat telapak tangannya, jika saja dia tidak lagi memiliki kata malu mungkin dia sudah jambak-jambakan dengan laki-laki di hadapannya.


tapi setidak-tidaknya meskipun dia memang perempuan yang memalukan tapi dia tidak mungkin menghilangkan harga dirinya hanya karena apa yang diucapkan oleh Rudi.


"aku pikir saat Cakra memilihmu sebagai sekretarisnya, pasti ada yang ,salah di otak laki-laki tersebut"


Riana bicara sedikit menggebu-gebu, berdiri dari posisi nya, berpikir jika ini sudah melampaui batasan nya, dia sedang berusaha membuat kericuhan dimalam hari, membiarkan suaranya meninggi.


Di dalam mobil Vervita gelagapan.

__ADS_1


"Aishhhh sial"


gadis tersebut terlihat kelengkapan berusaha untuk langsung keluar dari mobil tersebut tanpa berpikir dua tiga kali, dia yakin tidak lama lagi Riana akan membuat kericuhan.


begitu turun dari mobilnya gadis tersebut berlari terseok-seok, agak sulit karena dia menggunakan helm sedikit tinggi sedangkan di sisi kirinya ada got nya yang jika dia tidak berjalan hati-hati maka dia akan jatuh.


gadis tersebut jelas panik karena dia tahu Riana tidak akan main-main dengan kemarahannya.


"Na.... hari sudah malam"


Vernita mencoba menahan mulut Riana yang suaranya mulai meninggi, dia pikir 2 oktaf lagi suara itu naik,seisi rumah juga tetangga kiri kanan dipastikan akan keluar sekarang juga.


"Aku tidak pernah protes Riana benar, banyak diam selama ini,kali ini aku terpaksa menentang, kita datang ke kediaman orang Na, kamu bukan istri Cakra, kalau istrinya kamu datang kesini wajar, kamu bukan siapa-siapa Nya demi Allah, hanya mantan adik ipar yang tidak lagi punya urusan apa-apa"


Ucapan Riana jelas menyakitkan tapi dia berusaha untuk mengingatkan, berharap gadis tersebut paham arti posisi sesungguhnya dan tahu adab meskipun sedikit.

__ADS_1


"pikirkan saja nanti siapa yang pada akhirnya malu"


dia terpaksa mengeluarkan seluruh kata-katanya, terdengar sangat kejam dan tidak berperasaan, tapi itu realita yang harus Riana hadapi, Riana harus paham Cakra bukan lagi siapa-siapa di dalam keluarganya.


"minimal hargai dirimu sendiri Na, tidak usah menghargai orang lain"


Lanjut gadis tersebut lagi cepat, bola matanya bertemu dengan bola mata Riana, bisa dilihat bagaimana ekspresi gadis di hadapannya tersebut, Riana menatap nya dengan tatapan berkaca-kaca.


"tapi aku mencintainya Vervita, sejak awal seharusnya dia milikku bukan milik gadis lain"


bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Riana saat ini, wajah memelas penuh kekecewaan dan juga air mata yang siap jatuh tumpah.


Dia menunggu Cakra bukan dalam waktu sejenak, berawal dari rasa kagum menjadi kakak ipar nya hingga berakhir mencintai nya dan berharap bisa turun ranjang setelah kematian jelita.


Dia mendapatkan banyak harapan dimana papa nya berhasil membujuk Om Gunawan, Bahkan mama nya berhasil mempengaruhi Mama Niar, tapi kemudian tiba-tiba semua berubah, Cakra mengambil keputusan nya sendiri dibelakang semua orang.

__ADS_1


"Ini benar-benar sakit"


Ucap Riana pelan dangan air mata yang tidak dapat dia bendung lagi.


__ADS_2