Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Mendekati puncak akhir


__ADS_3

Setelah bulan madu


Kembali ke kediaman utama Gunawan.


"Pengantin baru, pulang"


Suara bahagia terdengar dari dalam, begitu beberapa keluarga melihat sepasang pengantin baru pulang, Senja yang baru turun dari mobil di serbu para keluarga, dipeluk dan di cium secara bergantian.


Mama Niar terlihat mengulum senyuman, menatap menantu nya sejenak kemudian menatap kearah Cakra. Meskipun awalnya marah dengan pilihan Cakra, begitu tahu siapa gadis yang dipilih nya seketika semua ketidaksukaan nya buyar dan musnah begitu saja.


Tidak pernah menyangka gadis kecil yang pernah dia Amin kan doa nya untuk Cakra agar menjadi jodoh nya adalah Senjakala.


"Dia tumbuh sebesar ini bukan? dia pilihan mama sendiri, berdasarkan doa dan harapan yang terucap tanpa sengaja"


Gunawan pernah bicara begitu pada nya, pada moment bersama melewati pillow talk meskipun di usia tua, hal tersebut sering dilakukan untuk memperkokoh cinta mereka berdua, bicara dengan nyaman berdua sambil mengenang masa muda.


38 tahun bersama sungguh luar biasa, melewati suka dan duka bersama dan berbagi berbagai kisah.


Gunawan laki-laki paling sabar menghadapi dirinya, karena dia wanita yang kehidupannya selalu dituruti oleh orang tua nya, apapun yang dia inginkan harus selalu ada, menciptakan karakter sedikit egois dan ingin menang sendiri, saat keinginan tidak sesuai realita dia akan kecewa tapi Gunawan benar-benar luar biasa, selalu mengingatkan dirinya dalam kesabaran, menggenggam erat telapak tangan dan memeluknya hangat sembari berbisik lembut dibalik telinga nya.


"Tidak ada segala sesuatu di dunia ini hanya berdasarkan kata kebetulan, sayang"


Seulas senyuman masih mengembang dibalik bibir nya, saat Senja bergerak mendekati dirinya dengan malu-malu, masih cukup takut menatap dan berhadapan dengan dirinya, Seolah-olah tahu dia yang sejak awal kurang respek pada Senja atas pilihan Cakra.


"Ma!"


Senja mengulurkan tangannya, menyalami nya kemudian mencium lembut tangan tersebut secara perlahan. Setelah itu perempuan tersebut melepaskan genggaman tangan nya, terlihat bingung atas apa yang mesti dilakukan selanjutnya namun siapa sangka mama Niar tiba-tiba menyentuh lembut kedua belah pipi Senja, mencium hangat kening nya kemudian berkata.


"Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya atas pernikahan kalian"


Rasanya ada angin surga yang menghantam, membuat bola mata Senja sejenak berkaca-kaca, dia sedikit kehilangan kata-katanya, tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


"Ma..?"


Wanita tua itu mengembangkan senyumannya, memeluk erat tubuh Senja setelah agak lama melepaskan pelukannya kemudian menyentuh lembut perut Senja.


"Semoga diberikan Rizky dengan segera oleh Allah SWT"


Pengharapan mama Niar telah lama, tapi tidak berani terlalu berharap, tidak boleh pula takabur, karena semua Allah SWT yang menentukan.


"Amin ya rabbal alamin"


Cakra tiba-tiba merangkul Senja dihadapan mama nya, mengusap lembut bahu istrinya kemudian mencium lembut puncak kepala Senja.


Seketika wajah Senja memerah, sedikit malu karena diperlakukan seperti itu didepan mama Niar, takut wanita tersebut marah, karena terkesan dia mengambil putra nya semakin dalam tapi siapa sangka respon mama Niar biasa saja, malah semakin melebarkan senyuman nya.


"Berikan pada Mama, kamu sudah memiliki Senja berhari-hari, sekarang semua orang juga menginginkan nya hari ini"


Wanita tersebut menggoda, menunggu Senja masuk ke pelukan nya. Ragu Perempuan cantik itu maju, mendekati dirinya hingga mama mertua merangkul nya dan membawa nya masuk kedalam diikuti Cakra dan semua orang.


Di ujung pintu Rudi berdiri, melebarkan senyuman nya menatap kebahagiaan Senja. Sejenak dia memejamkan bola matanya, mencoba menarik pelan nafasnya.


"Sejauh ini aku mengantar amanah mu bi, maaf karena hampir khilaf menginginkan dia"


Laki-laki tersebut membatin, mengenang satu wajah yang pernah menangis dihadapan nya dulu sebelum ajal menjemput.


"Jika bibi pergi lebih dulu, berjanjilah Ga, Berikan Senja untuk Cakrawala setelah dia dewasa, ambil Dewantara lewat Gunawan, dia akan membantu mu hingga tuntas saat kamu bilang ini permintaan terakhir Rasty sebelum meninggal"


"Percayalah akan ada masa kamu dan Mak akan kembali ke Gunawan group saat usia mu cukup kelak"


Dua pesan itu terus terngiang di telinga nya hingga kini.


"Aku sampai pada titik ini bi, tapi aku tidak yakin bisa bertahan hingga akhir"

__ADS_1


Setelah bergumam begitu, Rudi mengehela pelan nafasnya, dia berusaha membalikkan tubuhnya Secara perlahan namun satu pemandangan membekukan dirinya.


Kletakkkkk.


Mell berdiri tepat dihadapan nya, menatap Rudi dengan penuh kemarahan, tangan kanan nya menggenggam sebuah pistol yang mengarah tepat di kepalanya.


Rudi terlihat diam sejenak, tidak lama kemudian laki-laki tersebut melebarkan senyuman nya, dia merentangkan kedua tangannya kemudian memejamkan bola matanya.


Doorrrr.



Suara dentuman tembakan memecah keheningan, membuat seluruh orang-orang seisi rumah tercekat.


Di ujung gerbang Vervita berlarian dengan kencang, masih mencoba menghubungi Rudi berkali-kali melalui handphone nya diikuti Riana yang berlarian dibelakang nya.


"Akhhhhhhh"


Suara teriakan melengking memecah keadaan.


Mell menatap tubuh besar tinggi tersebut tumbang, diiringi tangan kanan nya yang menurunkan senjata dan tangan kirinya menggenggam sesuatu yang menghantarkan dia hingga kesana sesuai petunjuk yang diberikan.


Satu kepuasan menghantam dirinya saat dia berhasil melesatkan peluru di kepala laki-laki tersebut dibalik kemarahan nya yang menggebu-gebu.


"Ma.."


Satu suara bergetar bergema dibalik telinga nya, Riana menjatuhkan air matanya menatap sosok mama nya.


"Riana?"


*******

__ADS_1


Catatan \= Kita nyaris sampai pada puncak episode, siapkan banyak tisu ya makkkk


__ADS_2