
Riana diam untuk beberapa waktu, menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut sembari isi kepalanya terus menari-nari sejak tadi.
"biarkan aku bertemu dengan mama Niar"
Ucap gadis tersebut tiba-tiba.
"Kau hanya akan membuat malu diri mu"
Rudi jelas menolak nya.
"kenapa begitu yakin aku akan membuat malu diriku sendiri?"
"Apa aku harus membawa mu kaca paling besar agar kamu tahu bagaimana sifat kamu selama ini?"
Laki-laki tersebut bicara dengan datar, sama sekali tidak menampilkan ekspresinya, menatap ke arah Riana untuk beberapa waktu, menyadarkan gadis tersebut dengan tamparan ucapannya.
Riana terkekeh, cukup tidak percaya mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"belakangan kamu lebih melunjak dari biasa nya, mungkin karena kamu menjadi kesayangannya Om Gunawan atau karena kamu menjadi sekretaris kepercayaannya Cakra,. jadi tidak lagi memandang siapa aku di dalam keluarga Gunawan"
__ADS_1
Gadis itu mencoba untuk mengingatkan posisi Rudi yang sebenarnya.
kata-kata Riana cukup membuat Rudi menaikan ujung bibirnya.
"aku hanya menjalankan tugas dan perintah, kamu bukanlah salah satu anggota dari Gunawan, jadi tidak ada tempat untukku menghargaimu atau menghormatimu jika sulit sekali untuk bicara denganmu secara baik-baik, aku harap kamu tidak lupa posisi mu yang sebenarnya saat ini"
kata-kata Rudi jelas menusuk hatinya, mengingatkan Riana di mana posisinya saat ini.
meskipun Cakra pernah menikah dan menjadi suami kak jelitanya, tapi realitanya setelah kakaknya meninggal benang yang terhubung dalam keluarga mereka jelas berputus apalagi setelah Cakra menikahi gadis lain.
mereka jelas tidak memiliki hubungan apapun, bahkan tidak ada urusan perusahaan antara satu dengan yang lainnya yang saling mengandalkan atau bahkan mengikat saham.
"kata-kata mu sangat pedas sekali, tapi kamu jangan lupa aku tetaplah kesayangan mama Niar, posisi istrinya satu hari akan bergeser, tidak lama lagi dengan caraku sendiri"
"aku akan menyimpannya sebagai sebuah peringatan"
ucap laki-laki tersebut kemudian.
sejenak mereka terdiam, di Riana menelisik laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"Aku ingin tahu, belakangan kamu seolah-olah berusaha mengatur kehidupan antara aku dan Cakra, cukup aneh saat Cakra semakin menghindari ku dan kamu...."
Rania enggan melanjutkan kata-katanya.
sebenarnya ada banyak sekali kecurigaan di terbit di dalam hatinya dari laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, meskipun sifatnya terlalu berlebihan tapi dia tahu cara tidak mungkin membencinya seperti hari ini jika tidak ada campur tangan seseorang.
"Lupakan saja, aku ingin menunggu Cakra, biarkan aku bicara dengan nya"
Pada akhirnya gadis tersebut memilih untuk duduk di sebuah pelepah bambu panjang yang dijadikan tempat duduk di depan rumah, dia enggan menoleh kearah Rudi.
Sifat keras kepalanya jelas tidak tandingan nya, siapa yang akan bertahan berlama-lama meladeni gadis model Riana, kecuali orang gila atau orang yang memang lebih gila dari nya yang bisa bertahan menghadapi Riana.
Rudi hanya menaikkan ujung bibirnya.
"aku pikir mereka tidak akan kembali, tengah malam ini mereka memilih untuk menikmati bulan madu di luar rumah"
ucapkan di kemudian sembari menatap tajam wajah Riana.
Riana langsung membulatkan bola matanya ketika mendengarkan ucapan Rudi.
__ADS_1
"Apa?"
ekspresi wajah pias tampil di balik wajahnya.