
Masih di hotel xxxxxxx
Kota Lubuklinggau.
Cakra sejenak menarik nafasnya untuk beberapa waktu kemudian laki-laki tersebut menatap Senja yang terlelap meringkuk di samping nya, masih bisa dia dengar Isak tangisan yang tersisa dibalik bibir gadis tersebut dimana seolah-olah ada beban yang sudah lama sekali di tahan untuk tidak keluar selama ini.
"Bolehkah aku memuji? pujian ku biasanya begitu mahal dan tidak akan keluar untuk sembarang orang"
Cakra membatin pelan, menyentuh perlahan wajah cantik Senja yang telah tenggelam kedalam alam mimpinya.
"Kau gadis yang hebat"
Batin nya lagi sembari berusaha mengembangkan senyuman nya, laki-laki tersebut melepaskan tangan nya dari wajah Senja, Memilih membaringkan tubuhnya tepat disamping gadis tersebut.
Dia menatap kearah langit-langit kamar untuk beberapa, membiarkan bola matanya terus fokus lurus keatas, dan mengizinkan pikiran nya memporak-porandakan ingatan nya ke masa kemarin.
*****
Kembali ke masa kemarin.
Tempat tinggal Cakra.
"Mama tidak mau tahu, kamu nikahi Riana dan semuanya selesai"
__ADS_1
Mama Niar pagi-pagi datang ke tempat tinggal nya sudah mulai berkicau, kepala nya yang sakit karena mengurusi proyek terbaru pembangunan di salah satu wilayah Jawa sudah berdenyut-denyut sejak 1 Minggu kemarin dimana beberapa warga tidak memberikan izin pembangunan karena dalih merusak lingkungan disekitar jika mereka membangun rumah sakit swasta disana.
sebenarnya urusan nya dengan Gunawan group tidak ada , mereka hanya bagian perusahaan konstruksi bukan bagian pihak pemilik rumah sakit yang harus mengurus izin dan lain sebagainya dari warga sekitar dan pemerintahan.
tapi karena kebetulan hanya dia satu-satunya orang yang bisa dihadapi oleh semua orang saat itu maka jangan ditanya bagaimana sakit dan kepala Cakra harus berusaha untuk menenangkan semua warga dan juga menjelaskannya satu persatu tentang keadaan.
pembangunan terhenti hanya untuk menunggu izin dan kedatangan dari pihak pemilik rumah sakit swasta, semua pekerja mereka jelas telah bergerak, terpaksa berhenti beberapa hari tanpa pekerjaan, sedangkan semua orang jelas butuh makan juga butuh untuk mendapatkan pembayaran.
Belum lagi dia harus mengurus proyek terbaru yang belum sampai pada titik kata deal karena beberapa faktor yang menjadi pemberat keadaan.
Bohong juga sebuah perusahaan tidak berputar pada banyak persoalan keuangan dan tagihan milyaran yang harus selalu standby setiap bulan nya.
dikala kepalanya terasa ingin pecah mamanya tiba-tiba datang dan membuat kekacauan dan juga perencanaan di luar keinginannya.
"Ma... bisakah kita membicarakan nya nanti? ada banyak sekali hal yang harus Cakra urus saat ini"
"Ada 2 pilihan, nikahi Riana dan bersiap turun ranjang atau sama anak teman mama yang dokter, anak Santoso dan Irna, kamu tidak akan rugi menikahi mereka, Riana pewaris tunggal Anggara dan Vivi seorang dokter yang papa nya juga memiliki perusahaan nya sendiri"
Wanita paruh baya lebih tersebut terus bersikeras.
"Ma..."
Cakra berusaha menghela kasar nafasnya, menahan amarah nya yang sebenarnya sudah membuncah di ubun-ubun sejak beberapa hari ini.
__ADS_1
"Kalau masih nolak juga, mama akan mati secepatnya sebelum menggendong cucu, tidak peduli apa kata orang, pokok nya mati, yah mati, mama mau mati saja"
Selalu itu menjadi senjata andalan mama nya untuk menekan dirinya.
Dan demi apapun Cakra langsung mengendurkan leher kameja nya dengan cepat.
"Cakra sudah punya calon istri pilihan sendiri"
Dia terpaksa melakukan nya, lelah dengan ucapan Mama Niar.
Bayangkan bagaimana ekspresi mama nya kala itu.
"Ya? kau...bilang apa?"
*****
Kembali ke masa sekarang.
Cakra kembali melirik kearah Senja, bisa dia lihat gadis tersebut semakin tenggelam kedalam tidurnya, sembari sesekali terdengar sisa Isak tangis dalam jeda waktu yang cukup lama.
"Maaf melibatkan kamu dalam persoalan pelik keluarga kami, ini mungkin tidak mudah untuk kamu, ini juga tidak mudah untuk ku, kita hanya butuh waktu untuk saling mengerti dan memahami, juga butuh waktu untuk bisa menyatu"
Laki-laki tersebut berbisik pelan, memiringkan tubuhnya dan menatap dalam wajah Senja.
__ADS_1
"Tapi aku berjanji tidak akan membuat air mata kamu keluar selama bersama ku, Senja"
Lanjut nya lagi.