
kembali ke masa kemarin
Beberapa Minggu sebelum pernikahan Senja dan Cakra
Ruang kerja Mell
Dewantara group.
"Masuk"
Seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan lebih masuk secara perlahan dari arah pintu depan dimana ruangan Mell berada, berjalan tenang kedalam setelah mendapat kan sahutan dari Mell.
Bisa di lihat Mell tampak sibuk dengan beberapa berkas yang ada di tangan nya saat ini, proyek lama dan proyek terbaru yang dikerjakan oleh Dewantara group cukup menyita waktu nya, dia harus berbagi pikiran yang terpecah antara proyek lama yang berjalan, proyek terbaru yang sebentar lagi bergerak, isu perselingkuhan baru Anggara dan derita putri nya Riana tentang asmara yang tidak terbalas dengan Cakra, semua persoalan yang menghantam nya saat ini benar-benar mengganggu pemikirannya belakangan ini.
"Sudah mendapatkan kesepakatan nya?"
Mell bertanya pada laki-laki yang kini berdiri di hadapan nya, dia sama sekali tidak menoleh atau menatap laki-laki muda tersebut, saat ini dia masih memfokuskan dirinya pada berkas-berkas ditangan nya karena dia harus mengejar jadwal rapat yang akan berjalan dalam beberapa waktu kedepan juga, semua harus selesai hari ini sebelum warna langit berubah menjadi gelap.
"Semua sudah selesai, hanya tinggal menunggu seluruh berkas ditandatangani oleh ibu"
laki-laki tersebut menjawab cepat.
"Berikan pada ku, aku akan menyelesaikan semua setelah rapat"
Mell bicara cepat, membiarkan sekretaris nya tersebut meletakkan berkas-berkas nya keatas meja di hadapannya sedangkan tangan-tangan nya masih terlalu sibuk menandatangani sisa berkas yang tersisa.
"Tapi sekretaris bapak Gunawan menunggu berkas nya ditanda tangani sekarang Bu, beliau ada di depan"
Tiba-tiba laki-laki tersebut bicara pelan, memilih meletakkan map mendominasi berwarna hitam ke hadapan Mell secara perlahan.
"Setelah ibu menandatangani nya, bapak Gunawan langsung meng ACC semua nya melalui sekertaris nya, karena kabarnya bapak Gunawan dan keluarganya harus pergi ke luar kota untuk urusan lamaran putra pertamanya"
Ragu laki-laki tersebut bicara, memilih untuk memperhatikan Mell beberapa waktu, ingin tahu reaksi yang didapatkan nya saat bicara soal lamaran putra pertama Gunawan group.
"Ya?"
Mell seketika menghentikan gerakan tangannya, dia langsung mendongakkan kepalanya kemudian menatap kearah sekretaris nya sambil menggerutkan keningnya.
"Kau bilang apa? lamaran? siapa?"
Mell jelas saja cukup terkejut mendengar nya, dia pikir bukankah Niar dan dirinya sudah membuat kesepakatan untuk lebih mendekatkan Riana dan Cakrawala.
"Lamaran pak Cakrawala, Bu"
Laki-laki tersebut menjawab cepat.
__ADS_1
"Karena itu..."
Dia ingin melanjutkan kata-katanya tapi Mell seketika menyela.
"Apa kamu tidak salah mendengar? dimana sekretaris nya, biarkan dia masuk sekarang juga"
Percayalah Mell seketika merasa jantung nya bergejolak kasar, kemarahan terlihat menyeruak masuk kedalam hati nya, dia pikir bagaimana bisa Cakrawala ingin melamar seseorang dan acara tersebut berjalan tanpa pembicaraan terlebih dahulu pada dirinya.
Sekretaris nya buru-buru berbalik, mematuhi perintah Mell memanggil sekretaris Gunawan group, tidak lama seorang laki-laki muda masuk kedalam, melangkah tenang menatap Mell sejak dari pintu depan.
Wanita tersebut menatap tidak sabaran, sambil meraih berkas yang diberikan oleh sekretaris nya tadi dia mulai membolak-balikkan beberapa kertas dengan kemarahan nya.
"Kau sekretaris Gunawan?"
Mell mengeram, menahan amarah nya sambil menatap kertas dihadapan nya satu persatu, konsentrasi nya tiba-tiba pecah saat ini.
"Iy, Bu"
Laki-laki tersebut menjawab cepat.
"Lamaran siapa yang digelar keluarga Gunawan?"
Mell berusaha untuk memastikan pendengaran awal nya dari sekretaris nya tersebut, Sembari bola matanya memastikan berkas-berkas dihadapan nya benar dan tidak ada manipulasi atau kesalahan dalam penulisan.
"Pak cakrawala muda"
Mell yang mulai menggerakkan pena nya ke atas berkas-berkas tersebut seketika memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, rasanya ingin sekali dia mematahkan pena yang ada ditangan nya.
"Lamaran?"
Dia berusaha untuk menetralisir detak jantungnya, tanpa sengaja satu kertas terjatuh karena tergesa-gesa, membuat sekretaris nya menjongkokkan tubuhnya dan meraih kertas yang jatuh tersebut, menyelipkan dibelakang bagian berkas yang lain dengan cepat.
Mell mengabaikan nya, dia pikir ini baru lamaran, dia masih bisa menghancurkan nya setelah ini, Mell harus tenang dan tidak harus tergesa-gesa untuk bergerak.
Ditengah kemarahan nya, dia mulai menandatangani berkas-berkas ditangan nya, mencoba profesional dengan kerjasama mereka.
"Aku beberapa kali melihat mu, siapa nama mu?"
Tanya Mell kemudian.
"Rudi Anggara"
Tanpa menunggu lama, laki-laki tersebut menjawab dengan cepat pertanyaan dari Mell, tatapan tajam penuh intimidasi dari bola mata laki-laki tersebut dipenuhi kilatan kemarahan yang membara diiringi gerakan tangan Mell yang kembali melambat.
Wanita tersebut mendongakkan kepalanya bersamaan dia menyelesaikan tanda tangan di kertas terakhir nya.
__ADS_1
"Ya?"
Dia mengerut kan keningnya, nama tersebut mengingatkan nya pada nama seseorang, wajah tersebut juga agak mirip dengan seseorang.
Mell tercekat, menelisik wajah laki-laki muda dihadapan nya, dia memperhatikan mata, hidung, bibir, alis, rahang dan....
Wanita tersebut buru-buru menggelengkan kepalanya, berpikir tidak mungkin laki-laki itu bocah yang sama yang pernah dia seret dengan kejam untuk keluar dari keluarga Dewantara.
Masih dia ingat tangisan dan teriakan bocah laki-laki yang masih berseragam putih biru kala itu, menangis sambil memohon kepada nya agar tidak di usir dari rumah, dia bahkan yang menjambak rambut anak itu, menyeretnya dengan kasar persis seperti ibu tiri yang memperlakukan anak tirinya dengan kejam.
Tidak mungkin.
Mell mencoba menetralisir detak jantung nya untuk beberapa waktu.
"Aku harus menghadiri rapat sekarang juga, kau bisa menyelesaikan semuanya dengan sekretaris ku, Rudi"
Ucap Mell kemudian, dia berdiri dan menyalami Rudi, terasa genggaman tangan laki-laki tersebut cukup kencang menekan tangan nya.
"Senang bekerjasama dengan anda, Bu Mellisa"
Ucap Rudi dengan tatapan tajam dan datar nya.
Mell diam hanya menganggukkan kepalanya, kemudian wanita tersebut bergerak cepat meninggalkan Rudi dan sekretaris nya.
Begitu pintu tertutup dan Mell menghilang dari sana, sekretaris Mell memberikan 1 kertas yang berada di tumpukan kertas lainnya yang ditandatangani oleh Mell tadi nya.
Laki-laki tersebut membuka lipatan atas kertas tersebut, dimana disana terpampang jelas bagian Kop surat paling atas nya yang tertulis dalam huruf kapital besar yang membuat Rudi mengembangkan senyumannya.
SURAT PENGUNDURAN DIRI.
yang telah resmi ditandatangani oleh Mell sendiri.
Kletakkkkk.
1 cap perusahaan langsung di bubuhkan di sana oleh sekretaris Mell tanpa rasa.
Dua laki-laki tersebut saling menatap antara satu dengan yang lainnya dengan penuh kepuasan.
"Bagaimana?"
Satu suara menyeruak masuk dari headset bluetooth Rudi Anggara.
"Dia sudah menandatangani nya, Pa".
Rudi bicara pada papa nya diseberang sana, yang tidak lain tuan Anggara.
__ADS_1
"Itu bagus"
Satu suara lain terdengar diseberang sana, itulah adalah suara tuan Gunawan.