
Kembali ke masa Mell melabrak Anggara dan Vervita
Pullman Jakarta Central Park hotel.
"Kau berani menampar ku, Anggara?"
Mell bertanya dengan bibir gemetaran, tangan kiri nya menyentuh pipi kiri nya sendiri dimana bola mata Mell terlihat berkaca-kaca, dia masih melirik kearah Vervita yang menggenggam erat pinggang suaminya, gadis tersebut terlihat seperti tanpa dosa, mencoba membenahi rambut nya.
Beberapa petugas hotel dan security mengamankan situasi, mendorong para penonton agar pergi dan melarang menjepret kan kamera atau merekam Vidio pada mereka semua, beberapa orang mencoba meraih handphone pengunjung untuk menghapus Vidio atau foto yang dibuat.
"Berani-berani nya setelah berselingkuh dibelakang ku, kau bukannya menjelaskan tapi malah menampar ku..."
Kali ini dia meninggikan suaranya, Mell marah, begitu marah, merasa malu dengan keadaan nya saat ini, dia ingin melangkah maju tapi tiba-tiba Anggara berkata.
"Sekali saja kau menyentuh nya, aku pastikan kau tidak akan pulang kerumah malam ini"
Mendengar ucapan Anggara, Mell terlihat membulatkan bola matanya, dan didetik berikut nya wanita tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Kau mengancam ku? betapa beraninya? apa kau lupa? semua yang kau gunakan milik siapa?"
Mell bertanya tanpa malu, seolah-olah Dewantara memang milik nya.
"Kau bocah, apa kau kehilangan urat malu mu? kau berkencan dengan papa sahabat baik mu, kau ingin membunuh ku? kau bagaimana bisa menjadi begitu tidak tahu malu?"
Saat Mell Berkata begitu, seolah-olah Dejavu, dia pernah berada pada masa ini dalam situasi yang sama, menatap angkuh Wanita yang menatap nya dengan air mata bercucuran karena merasa dikhianati, yah dia menatap penuh kemenangan pada mama Hesty, sahabat baiknya sendiri, Wanita yang mengangkat nya menjadi seorang putri.
"Aku memperlakukan kamu layaknya seperti putri ku sendiri, kau.."
Mell menghentikan kata-kata nya, seolah-olah sadar dia benar-benar merasa Dejavu pada masa ini, entah kenapa bibir nya bergetar, kemarahan yang meluap berganti pada ingatan mematikan dimana dia menghancurkan kehidupan Hesty dan keluarganya.
"Apa ini balas dendam, Anggara?"
Tiba-tiba wanita tersebut bertanya pada laki-laki dihadapan nya.
Yang ditanya terlihat menatap datar kearah dirinya, menaikkan ujung bibirnya dengan pandangan datar yang mengerikan.
Riana berusaha untuk menahan beban tubuh nya, terkejut mendapati kenyataan soal papa nya, dia bergetar dan berusaha meraih pegangan, ingin sekali bertanya pada sahabat baiknya tersebut kenapa tega melakukan semua itu, mengkhianati dirinya dan mama nya yang begitu baik pada Vervita.
Tapi sekelabat ingatan menghantam dirinya soal gosip tentang mama nya.
"Apa kamu tidak dengar gosip di masa lalu? Mell itu ber.cin.ta dengan Dewantara yang notabene nya papa sahabat baiknya sendiri, menyebabkan kematian mama sahabat baiknya dan membuat dia berhasil jadi istri Dewantara yang berikutnya, lebih mengerikan nya lagi setelah jadi ibu tiri dari sahabat baiknya dia malah menyingkirkan putri nya tersebut demi bisa menikahi menantu laki-laki nya"
"Sudah dengar, itu sangat menjijikkan"
"Benar-benar manusia tidak tahu diri"
__ADS_1
"Bukankah kabar nya dia itu mantan Kupu-kupu malam di club malam xxxxxxx? kata nya di masa itu dia berada pada level tertinggi hingga membuat banyak pengusaha sangat mengenal dirinya"
"Aih aku jadi khawatir dengan suami ku"
"Ikat baik-baik suami kita"
"Entahlah kalau karma menghampiri satu hari, aku rasa semua orang tidak akan menyalahkan pengganggu rumah tangga mereka"
"Iya lah itu kan hukum tabur, karma tanam, nanti akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan kelakuan kita, Allah SWT itu kan tidak tidur?"
Riana menutup sejenak bola matanya, dimasa itu ketika dia mendengar gosip terus berhembus, dia mencoba menutup telinga rapat-rapat karena yakin mama nya tidak mungkin sepicik itu.
Mama nya wanita berkelas yang tidak mungkin mantan wanita tidak-tidak.
Dia berusaha menahan bola matanya yang berembun, mencari seseorang yang mampu memberikan kekuatan untuk dirinya, tapi alih-alih mendapatkan nya, dia pada akhirnya.
"Ma.."
Riana masih sempat memanggil mama nya, membuat Mell menoleh ke belakang dan.
Brakkkkkkk.
Mell seketika membulatkan bola matanya.
"Riana...."
"Pa?"
Vervita menatap Anggara, berharap laki-laki tersebut meraih tubuh Riana, laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya, dia malah berkata.
"Temui Angga (Rudi) di lantai atas, dia membutuhkan kamu disana, papa akan menemui seseorang untuk menyelesaikan semuanya"
Vervita diam untuk beberapa waktu, menatap Mell yang histeris di depan mereka, dia merasa begitu kejam, tapi pada akhirnya Vervita memejamkan bola matanya, memilih mengabaikan hati nuraninya lantas berbalik dan mengejar langkah laki-laki yang dicintainya.
Disisi lain tuan Gunawan terlihat berdiri di satu tembok besar hotel tersebut, menyandarkan tubuhnya di sana sambil mendongakkan kepalanya, dia meraih rokok yang ada didalam kantong celananya, meraih pamatik dan membiarkan diri menyulut api rokok dibibir nya secara perlahan.
Dia menghisap pelan rokok tersebut sambil memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
"Dia hancur Juna, apa kau melihat nya?"
tuan Gunawan bicara didalam hati nya, dia membuka bola matanya saat seseorang berjalan melewati dirinya, kemudian sosok tersebut menyandarkan dirinya tepat disisi kiri Gunawan.
Mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
"Kita bergerak sejauh ini?"
__ADS_1
Anggara bertanya, meraih rokok juga di kantong celananya, menyulutkan api di dalam rokok tersebut, kemudian secara perlahan menghisap nya.
Gunawan terlihat menaikkan ujung bibirnya.
"Untuk nya ini tidak seberapa"
Jawab Gunawan pelan.
Dua laki-laki seumuran tersebut menikmati rokok mereka, memilih diam dan menikmati kepulan asap rokok yang melayang-layang di udara.
*****
Flashback
"Mari membuat kesepakatan"
Anggara bicara sambil menatap wajah laki-laki dihadapan nya, duduk disebuah kafe dalam gaya klasik sembari dia menghisap rokok di tangan nya.
Rudi (Angga) putra nya memilih membuang pandangannya, menikmati keindahan mahakarya di sisi kanan nya, Vervita tengah tertawa bahagia dibalik kaca menggoda seekor kucing British Shorthair yang bergerak nakal sejak tadi.
Gunawan mendengar ucapan Anggara dimana kedua lengan nya saling bertautan antara satu dengan yang lainnya.
Dia belum menjawab pertanyaan Anggara, membiarkan netra nya menatap laki-laki dihadapan nya untuk beberapa waktu.
"Aku bersedia melakukan nya tapi ada syarat yang aku minta"
Gunawan membuka suaranya.
Anggara menunggu syarat yang diajukan Gunawan.
"Katakan"
"Berikan Senja untuk cakrawala"
Rudi (Angga) sama sekali tidak menoleh kearah Gunawan, sang tuan besar nya tersebut, dia mengembangkan senyuman nya sambil terus menatap Vervita.
Dia ingat apa yang ditawarkan diri nya pada tuan Gunawan beberapa waktu yang lalu.
"Aku menemukan putri mantan kekasih anda pak, Senja putri Rasty, hidup bersama ibu ku di kota Lubuklinggau, anda bisa menikahkan Senja untuk Cakrawala, menggantikan cinta pertama anda yang tidak pernah tergapai"
Anggara mengangguk kan kepalanya untuk beberapa waktu.
"Aku akan minta Anwar (Papa senja) untuk memberikan putri nya pada Cakrawala"
Ucap laki-laki tersebut kemudian.
__ADS_1
Rudi memejamkan sejenak bola matanya, membiarkan hati nya bergemuruh dalam banyak kemungkinan,entah apa yang dia rasakan, tapi realitanya Senja memang untuk Cakrawala dan senja tidak akan pernah tercipta untuk diri nya.