
Dua hari kemudian
Jakarta.
Niat nya ingin berlama-lama liburan tapi waktu sangat tidak memungkinkan, pekerjaan mulai berteriak memanggil Cakra, tidak mungkin lagi di wakilkan dengan siapapun saat ini.
"Bisakah menundanya untuk besok?"
Dia bertanya diseberang sana namun apa daya jawaban di sana berkata cukup tidak memungkinkan, beberapa relasi bisnis menunggu, beberapa proyek harus di kerjakan.
"Hati-hati dijalan"
Itu sebaris pesan Mak dan bapak, memeluk Senja dengan erat sebelum kepulangan mereka.
Sangat berat melepaskan anak kesayangan mereka, tapi ini jelas takdir dan nasib yang dipilih dan diberikan Allah SWT kepada putri mereka.
"Semoga Allah SWT selalu memberikan kebaikan atas kalian, di jadikan keluarga sakinah, mawadah dan warohmah"
Itu jelas menjadi harapan seluruh orang tua.
__ADS_1
"Jaga putri saya baik-baik nak Cakra, kami memang orang tidak mampu, tapi tidak secuil kulit pun pernah kami menyakiti atau melukainya, dia bahkan tidak tahu apa rasanya di cubit sama Mak nya, karena keluarga kami cukup hangat, lembut dan Sabar mendidik anak-anak hingga besar"
Barisan pesan disampaikan bapak untuk Cakra, mengingatkan jangan sesekali memukul Senja.
"Kalau sudah tidak Sesuai keinginan, kembalikan pada kami dengan cara baik-baik, seperti awal mengambil seperti itu lah cara mengembalikannya"
Cakra terdiam, menatap wajah bapak yang terlihat sendu dan sedih, menyakinkan Cakra jika Senja adakah separuh kehidupan nya.
"Mak akan menyusul Minggu depan sama bapak dan April, saat acara ngunduh mantu"
Mak bicara berbisik pada Senja.
Tapi April setelah memeluk nya dan berkata hati-hati dijalan lebih dulu, menghilang begitu saja tanpa tahu kemana.
Dan kini mereka sudah tiba di kediaman Cakra, sedangkan Mama dan papa Cakra memilih kembali ke kediaman mereka sendiri begitu juga kak Nabila.
Lelah bukan main.
Itu kata semua orang.
__ADS_1
Senja memilih membersihkan diri lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur, tidak paham bagaimana posisi dia tidur tapi dia sudah terlalu lelah untuk melakukan kegiatan apapun saat ini, terlalu lelah untuk turun cuma buat ngambil air minum untuk di konsumsi, terlalu lelah pokoknya, saking lelahnya dia benar-benar seperti kucing cantik yang memilih tidur tanpa mau diganggu oleh siapapun.
"Apakah kamu lapar? aku...."
Cakra keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk mandi mendominasi berwarna putih sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk lainnya, bicara cepat tanpa melihat dimana Senja, niat hati ingin mengajak Senja makan sejenak sebelum memilih tidur tapi siapa sangka saat bola mata menatap ke sisi kiri di ranjang mereka, gadis tersebut sudah terlelap dalam tidur cantik nya.
Meringkuk lucu dan manis, seperti anak kecil yang begitu kelelahan habis main kejar-kejaran atau petak umpet, tidak bergerak sama sekali saking lelahnya.
Cakra sejenak diam dalam posisi nya, menatap sosok Senja yang tenggelam didalam rasa lelah nya.
Laki-laki tersebut mengulum senyumannya, pada akhirnya memilih untuk bergerak mendekati Senja.
Begitu tiba di tepian kasur memilih untuk berdiri dan menatap dalam wajah Senja, laki-laki tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
Hingga pada akhirnya secara perlahan laki-laki tersebut meletakkan handuk kecil yang ada di tangan kanan nya untuk dia mengeringkan rambut nya bergerak naik ke atas kasur dengan gerakan yang begitu lembut.
Cakra membenahi lembut rambut Senja yang menutupi wajahnya secara perlahan tanpa mengeluarkan suaranya.
__ADS_1