
Batu Urip taba
Lubuklinggau
Rumah panggung.
Begitu mobil yang mereka naiki masuk ke halaman rumah panggung yang ada di depan mereka, bola mata mama Niar seolah-olah tidak lepas menatap bentuk rumah yang ada di hadapannya tersebut.
tidak tahu kapan rumah itu dibangun yang jelas rumah itu adalah bangunan lama yang di zaman sekarang ini sudah nyaris tidak pernah lagi terlihat, wanita itu pikir di tempat seperti inikah Senja tinggal selama ini?!.
Oh bagaimana bisa gadis tersebut hidup seperti itu,Fuhhhh.
Mama Niar menghela nafasnya, entah apa yang ada di pikiran nya.
"Kamar mandi nya ada?"
Sebelum turun dari mobil, wanita tersebut bertanya pada Senja sambil mengerutkan keningnya, ekspresi wajah wanita tersebut terlihat tidak baik-baik saja.
Senja menganggukan kepalanya.
"Ada dibelakang ma"
"Permanen apa kayu? toilet nya di semen atau ada keramik pecah-pecah nya begitu?"
__ADS_1
Bayangan wanita tersebut terlihat tidak nyaman, dia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa masuk ke kamar mandi seperti itu.
Rumah mereka sekelas hotel, jadi tidak pernah melihat toilet yang seperti apa yang dia bayangkan tadi, hidup disana pasti akan sangat menyulitkan dirinya.
"Kita nginap di hotel saja"
Mama Niar menarik cepat lengan Nabila, berbisik pada putrinya dengan terburu-buru, solusi terbaik untuk dirinya saat ini jelas menginap di hotel saja, mana mampu dia tidur ditempat seperti itu.
"Kan ga mungkin langsung ke sana mama, malam ini tidur disini dulu, ditambah lagi kalau kita ke hotel akan mempersulit semua nya mama"
Nabila terlihat protes.
"Kamu sanggup tidur ditempat ekstrim begini?"
"Tentu saja bisa, ini tidak ekstrim sama sekali ma, Waktu KKN didesa tempat nya jauh lebih ekstrim, rumah ini keren loh ma,di jaman nya hanya orang berduit yang punya rumah begini"
Nabila terus bicara, menyakinkan mama nya tempat ini jauh dari kata layak, di jaman dulu hanya orang-orang tertentu yang mampu membangun rumah seperti ini, mereka bisa di kategorikan orang kaya di jaman itu.
"Mama seperti tidak pernah tinggal dirumah ini saja"
Lagi Nabila protes.
"Tentu saja tidak pernah"
Mama Niar menjawab dengan sewot, cukup tidak suka mendengar protesan putri nya, dia pikir bagaimana bisa putri nya menceramahi dirinya saat ini.
__ADS_1
Dasar.
wanita itu memonyongkan bibirnya sembari berjalan melangkah untuk naik melewati tangga yang masih terbuat dari semen menuju ke arah pintu kayu sebatas pinggang di mana di atas rumah tersebut beberapa orang telah menunggu mereka.
satu laki-laki tua seumuran suaminya yang wajahnya jelas terlihat jauh lebih tua juga seorang wanita seumuran Mama Niar dimana meskipun tidak dipungkiri perempuan itu masih cantik dan terlihat muda dengan tubuh kurus dan juga kulit putihnya menunggu kedatangan mereka dengan senyumannya.
ada seorang gadis muda yang mungkin masih sekolah SMA, ikut menyambut mereka dengan senyuman terbaiknya.
lalu beberapa orang di sisi kiri dan kanan yang tidak terlalu ingin Mama Niar pedulikan, yang dia pedulikan saat ini adalah dia ingin tahu apakah mungkin yang berdiri di pintu kayu sebatas pinggang tersebut adalah orang tua Senja.
"Assalamualaikum"
ketika Papa Gunawan mulai memberikan salam.
"Waalaikumsalam"
terdengar sahutan dari semua orang yang ada di hadapan mereka.
******
Rumah yang paling indah dan mewah adalah ketika kamu memasuki nya meskipun rumah tersebut tampak sederhana dan biasa namun mampu menjadikan kamu bagaikan tinggal di syurga dengan jutaan keharmonisan didalam nya.
dan rumah paling menyiksa adalah ketika kamu memasuki nya meskipun rumah tersebut bagaikan istana tapi menyimpan aroma neraka dan membuat mu pagi, siang, sore dan malam untuk lari daripadanya.
Assalamualaikum Mak bapak, meskipun tidak indah tapi ini akan menjadi rumah yang selalu aku tuju dikala aku merindu.
__ADS_1