
Senja jelas saja sejenak terdiam, menatap bantal yang di tepuk-tepuk oleh tangan Cakra untuk beberapa waktu.
Dia meragu, takut untuk berbaring.
"Lalu punya impian kuliah dimana kalau ada rejeki?"
Cakra kembali buka suara, membiarkan Senja memilih pilihan nya untuk berbaring atau duduk, tapi dia yakin ngobrol lama dalam dua posisi akan menyulitkan Senja,gadis tersebut pada akhirnya akan memilih sendiri posisi terbaiknya dan dia tidak harus memaksa.
"Aku belum memikirkan hingga sejauh itu"
Senja menjawab pelan.
"Tapi waktu SMA biasanya pernah terpikirkan ingin kemana? sangat mustahil kalau tidak sampai memikirkan ingin melanjutkan kemana kalau ada rejeki?"
"Kata bapak terlalu tinggi harapan'
Dia menundukkan kembali kepalanya.
"Itu bagian dari rencana, bukan harapan Senja, mereka dua hal cukup berbeda, sama seperti kebutuhan atau keinginan mereka juga memiliki pengertian atau definisi yang berbeda"
Cakra sedikit protes.
Senja seketika mengembangkan senyumannya secara spontan.
"Aku tahu"
"Katakan saat itu pernah berencana dimana?"
__ADS_1
Dia menunggu jawaban nya.
Senja terlihat malu-malu.
"Universitas Indonesia, mungkin..."
Suara Senja terdengar begitu halus.
Mendengar ucapan Senja seketika bola mata Cakra membulat.
"Katakan nilai raport dan ijazah?"
dia penasaran, selama ini hanya peduli soal kesepakatan pernikahan.
"Sejak TK selalu ranking 1 , hanya di SD ranking 2 sebab yang ranking 1 putra dari kepala sekolah nya hahaha"
"Itu hal yang wajar yang Mak katakan saat aku menangis pulang bawa raport Ranking 2, merasa tidak terima sebab aku begitu yakin semua mata pelajaran ku jelas di atas dia, bahkan dikelas aku paling mencolok dan bahkan paling pintar mengambil hati guru, tidak ada yang tidak suka pada ku"
Dia ingat pada masa itu, menangis sesenggukan menghadap emak karena mendapatkan angka 2 di raport nya.
"saat SMP kembali ke ranking 1 hingga SMA, tidak menyangka saat SMA masih bertahan bahkan jadi juara sekolah, karena itu wali kelas selalu berkata, nanti tamat SMA kuliah yah, sayang.."
Senja menghentikan kata-kata nya.
"Karena itu sebelum lulus berharap bisa kesana, tapi saat bapak dinyatakan kritis berkali-kali, aku membuang mimpi ku jauh-jauh, saat itu mereka bilang dapat beasiswa, tapi bukan berarti biaya hidup ditanggung pemerintah bukan?"
Senja bercerita seolah-olah ingat kenangan ditahun-tahun berat kemarin.
__ADS_1
"Mak juga takut melepaskan aku di kota besar, Mak bilang dikota besar banyak laki-laki yang mampu menghancurkan masa depan gadis kampung yang polos, Mak... tidak mengizinkan, kata nya kuliah di sini saja, tapi ternyata aku tetap tidak bisa membagi waktu Antara kerja dan kuliah, semakin waktu ku tergerus bekerja, semakin sulit untuk aku kuliah, Lubuklinggau tidak ada pekerjaan 24 jam, jam kerja berkisar antara pukul 7 pagi hingga 5 sore, jika ada ship dimulai dari jam 3 sore hingga 10 malam, kesehatan bapak jauh lebih penting saat itu, aku bekerja di 2 tempat untuk bisa mengurangi beban saat tahu bapak semakin parah dan akan di operasi"
Senja tidak melanjutkan kata-katanya, dia mendongakkan kepalanya, mencoba menahan tangis nya yang mungkin akan tumpah.
Cakra diam, memilih membisu, dia beringsut dari posisi nya, meraih Senja perlahan dan menenggelamkan nya kedalam pelukannya.
"Maaf"
Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Cakra.
"Aku hanya spontan ingin menangis"
Dia terisak didalam pelukan Cakra, menyimpan beban tidak pernah lepas selama bertahun-tahun, dia punya harapan dan cita-cita, tapi dia membuang semua nya karena keadaan.
Seringkali dia berkata.
Andaikan aku kaya, punya uang maka aku bisa melakukan semuanya.
Tidak harus hidup seperti ini kan?!.
Tapi dia tidak menyesali nya, diluaran sana ada yang lebih menyedihkan dari hidup nya, dia masih bisa sekolah hingga SMA, tidak sedikit yang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan sekolah mereka Karena keadaan.
Bersyukur satu-satunya cara Senja untuk melewati hidupnya.
Hingga dia masuk pada titik terendah, memilih menerima tawaran Cakra untuk biaya operasi bapak.
"Semua pasti baik-baik saja"
__ADS_1
Cakra masih memeluknya, berbisik pelan sembari mengelus lembut belakang kepala Senja.