SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERTABTAKAN


__ADS_3

Kedua matanya ikut berpaling, menatap sosok tampan yang perlahan menghilang di balik dinding gedung itu. Aisyah bernapas lega, setelah sedikit lama dirinya serasa hembusan napas itu tidak berjalan baik. Kembali meng-ayunkan langkah kaki itu, menuju arah kiri dalam gedung.


Diri itu menyusuri lorong yang sedikit sepi, di mana dia menjumpai tak banyak karyawan yang melewatinya. Melangkah, dan melangkah. Mata itu semakin dia pertegas, saat dari jauh sepasang pupil matanya, mendapati sebuah pintu ruangan.


Ayunan kaki semakin Aisyah percepat, saat diri itu sudah tak sabar untuk segera tiba di sana.


Langkah kaki itu, sudah Aisyah hentikan-saat diri itu sudah berdiri di depan ruangan yang ingin dia datangi. Perlahan tangan itu terangkat, dan memberi suara ketukan di sana.


"Masuk..."


Jemari itu segera menggapai gagang pintu, dan memutarnya ke arah kiri.


Pintu ruangan telah terbuka, dan di sana menampilkan sosok wanita paruh baya bertubuh tambun, yang menatap Aisyah dari balik kaca mata minusnya.


"Selamat siang, Bu!" sapanya, dengan senyuman kikuknya-kala pandangan itu begitu intens padanya.


"Siang. Dan silahkan masuk." pintanya, saat Aisyah masih berpijak di depan pintu ruangan.


Dengan sedikit kegugupan yang melanda, Aisyah melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang tidak begitu luas itu. Jemari mengulur, dan menggapai ujung kursi, sebelum melabuhkan tubuhnya di sana.


Tak ingin berlama-lama Aisyah segera, mengutarakan niatnya-untuk datang ke perusahaan itu.


"Sebelumnya saya minta maaf, karena sudah mengganggu waktu anda. Saya datang ke sini dengan tujuan ingin melamar pekerjaan. Saya dengar dari sahabat saya, kalau ada membutuhkan tenaga tambahan di bagian tenaga bersih-bersih."


"Apakah kamu membawa ijasah terakhirmu, dan juga surat lamaran?"


"Saya membawa dua-duanya, Bu!" Aisyah menjawab cepat, dengan segera meletakkan sebuah map merah di atas meja kerja.


Tangannya sedikit mengulur panjang, menggapai map merah itu-dan berbalik arah padanya. Membuka ujungnya, dan menelusuri setiap tulisan yang tercantum di san.


"Jadi namamu, Anisa Mahardika?" tanya Lidya tiba-tiba, dengan sekilas menatap pada Aisyah.


"I..Iya, Bu..Nama saya Anisa Mahardika." jawabnya tersenyum kikuk, karena itu semua hanya kebohongan.

__ADS_1


"Dan nama panggilanmu, Anisa?" tanya Lidya lagi, dengan menatap penuh pada Aisyah.


"Iya, Bu! Nama panggilan saya Anisa. Nisa juga boleh, senyaman Ibu saja."


Pertanyaan pun tak terdengar lagi, dari dalam mulut Lidya. Jemarinya menarik gagang laci kerjanya, dan menggapai sesuatu di dalam sana.


Lembaran kertas yang berada di dalam genggamannya, Lidya letakkan di atas meja menghadap pada arah Aisyah.


"Ini surat kontrak kerjanya. Bacalah terlebih dahulu, agar kamu mengetahui konsekwensi yang harus kamu patuhi, sebelum bekerja di perusahaan ini. Dan jika kamu menyetujuinya, kamu sudah mulai bisa bekerja besok."


Wajah Aisyah nampak begitu berseri-seri. Mendengar ucapan yang baru saja dikatakan Lidya, kalau dia sudah mulai bisa bekerja di Company Group mulai esok hari. Melukis senyuman yang tak pernah luntur, dan menggapai sebuah pena yang tersimpan rapi di atas meja. Dan saat akan mengggoreskan tanda tangannya di sana, seketika jemari itu berhenti di udara, saat tiba-tiba saja, Lidya bersuara.


"Apakah kamu tidak akan membacanya terlebih dahulu? Sebelum kamu mentandatangani surat kontrak kerja ini."


Senyuman kecil menghiasi wajah Aisyah. Menatap pada Lidya, yang begitu intens menatapnya.


"Saya sudah yakin, untuk bekerja di sini Bu! Karena saya sangat mengharapkan dapat bekerja, di Company Group."


"Kalau begitu silahkan tanda tangan di bawah sini, jika kamu sudah sangat yakin, untuk bekerja di perusahaan ini." Ujung jari Lidya menunjuk pada sebuah tulisan- pada bagian bawah kertas, di mana Aisyah akan melabuhkan tinta hitam di sana.


****


Matahari yang tadinya bersinar penuh, kini mulai meredup yang di mana kembali mendatangkan senja. Angin meniup begitu kencang. Kekuatannya sedikit menggoyahkan pohon-pohon besar, yang berjejer di dalam hutan, di mana ada barisan jalan raya yang melewatinya.


Sebuah mobil mewah melaju dengan cepat, perlahan lajuan kendaraan roda empat itu memelan, dan berhenti di mana sudah ada dua kendaraan roda empat, yang sudah terparkir di depannya.


Dua kakinya segera Aditya turunkan, saat pintu mobil itu sudah terbuka lebar. Mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada beberapa pria, yang merupakan anggota polisi.


"Maaf! Aku sedikit terlambat sampai ke lokasi ini. Dan bagaimana? Apakah sudah ada petunjuk? Yang mungkin dapat membantu kalian, untuk menemukan jenasah Ibuku."


"Maafkan kami Tuan! Tapi kami sama sekali tidak menemukan apapun. Bahkan anak buah saya sudah menyelam lebih jauh dari lokasi kejadian, tapi tidak menemukan kerangka, atau barang-barang yang di miliki Ibu anda, saat terjadinya kecelakaan."


Terlihat guratan kekecewaan yang terpampang nyata di wajah tampan, Aditya. Sudah bertahun-tahun dia mencari jenasah sang Bunda, yang mengalami kecelakaan tunggal- dan mobil yang di kendarai memasuki sebuah sungai yang terdapat di tengah hutan.

__ADS_1


"Apakah kemungkinan jenasah Ibuku, terseret arus air, atau dimakan binatang buas?"


"Itu tidak kemungkinan, Tuan! Karena seperti yang kita tahu, banyak hewan liar di sini, dan untuk terbawa arus air-itu bisa saja terjadi karena kecelakaan ini sudah terjadi sangat lama."


Menghembuskan napas tegasnya. Dua matanya mengedar ke segalah arah, menatap kesetiap sudut area, saat bayangan sang Bunda kembali memenuhi isi pikirannya.


"Besar harapanku, kau masih hidup Maa! Walaupun itu, sangat tidak mungkin." bathin Aditya.


"Baiklah. Tapi aku minta, tetap lakukan pencariannya. Telusuri sungai ini, ke mana dia bermuara. Mungkin saja, ada petunjuk yang kita temukan."


"Baik Tuan, Adit"


*****


Hari baru kembali hadir, tak kalah bintang, dan bulan yang bersinar di awan gelap- perlahan menghilang saat matahari kembali menyinari bumi.


Senyum tak pernah pudar dari wajah Aisyah, kala kedua kakinya meng'ayun memasuki area Company Group. Suasana hati yang baik, di penuhi dengan kebahagian membuat wanita Aisyah tak memusingkan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan mencemooh.


"Terserah apa penilaian mereka. Yang jelas aku harus bekerja, demi kedua anakku." gumam Aisyah pelan.


Ayunan kaki itu dia hentikan seketika, tak kalah ada pesan masuk pada ponsel miliknya. Menelusupkan jemarinya ke dalam tas, dan mendapati pesan yang dikirim Silla.


"Semangat Aisyah! Dan aku yakin, kamu pasti akan betah bekerja di sana, karena yang kudengar Presdirnya sangst tampan."


Hanya melukis senyum tipisnya, dan segera menyembunyikan ponselnya, di dalam tas yang menggelantung di pundaknya. Ayunan kaki tetap melangkah, dengan mata tertutuju dalam tasnya saat masih memeriksa barang bawaannya.


Hingga tiba-tiba saja.


"BUUGGG!" Dan dia pun terjatuh, saat tubuh itu bertabrakan dengan seseorang.


Wajahnya meringis, saat menahan kesakitan pada bokongnya. Amarah sudah menyelimuti wajah tampan pria itu, melihat seorang wanita berkulit hitam, dan juga bertahi lalat sedang mencari-cari sesuatu, dan Aditya meyakini kalau wanita itu sedang mencari kaca mata yang berada didekatnya.


"Ya Tuhan...Apakah aku baru saja, bertabrakan dengan wanita Afrika ini?! Bisa-bisa aku ketularan kulit hitamnya, saat tadi kami bertabrakan tadi." gumamnya kesal.

__ADS_1


"Hei Culun..." Nada menggema, saat tatapan matanya sudah bak sebuah belati, yang siap menghabisi mangsanya.


__ADS_2