
Cengkraman tangan Rangga begitu kuat, dan tentu saja itu sangat menyakitkan untuk Aisyah. Terlihat genggaman tangan yang begitu membungkus, hingga menampilkan urat-urat saat bercampur dengan emosi.
"Apa yang Bapak bicarakan?! Saya tidak mengerti, dan tolong lepaskan tangan saya, " pinta Aisyah dengan berusaha melepaskan tangannya, dari genggaman tangan Aisyah.
"Kau masih saja, berusaha menutupinya!"
"Saya tidak mengerti dengan apa yang Bapak bicarakan?! Apa maksud Bapak? Dan saya minta tolong lepaskan tangan saya!"
Memerah kian menyelimuti wajah tampan Aditya-begitu mendengar jawaban bohong dari Aisyah, yang masih saja berusaha menutupi siapa dirinya?
"Kau adalah Aisyah, wanita yang sudah mengandung anakku. Dan katakan di mana anakku?!" Memerah begitu memenuhi wajahnya, dengan kilatan api yang begitu membara dalam iris hitam mata itu.
Takut semakin menyelimuti diri Aisyah-mendapati bagaimana kasarnya Aditya memperlakukan dirinya. Tapi karena tidak ingin kehilangan kedua putrinya, Aisyah tetap kekeh untuk tidak mengatakan pada Aditya-kalau dia adalah wanita yang sudah mengandung anak pria itu.
"Saya tidak mengerti, dengan apa yang Bapak tanyakan. Dan anak siapa yang Bapak maksud?!"
Aditya menyeringai rendah, dengan sorot mata yang semakin saja tajam, mendapati Aisya yang kekeh tidak mau mengatakan padanya, siapa dia sebenarnya.
"Kau masih saja tidak mau mengakui siapa dirimu? Tapi aku yakin, dengan memakai cara ini kau pasti akan mengatakan siapa kau?!" ucap Aditya dengan langsung menarik paksa tangan Aisya, menuju kamar yang biasa dia pakai untuk melepas lelah, saat bekerja.
"Lepaskan saya Pak! Lepaskan... Apa yang akan Bapak lakukan pada saya?!" Cucuran air mata sudah mengalir bebas dari kelopak mata Aisyah, saat Aditya membawanya dengan paksa ke dalam kamar.
"Ayo ikut saya! Saya akan membuat kamu mengakui, siapa dirimu sebenarnya?!" Dengan menarik kuat tangan Aisyah, saat wanita itu berusaha melepaskan genggaman tangan Aditya, yang mencengkramnya dengan sangat kuat.
Tak berdaya melawan tenaga Aditya yang begitu kuat, membuat mau tidak mau tubuh itu terseret oleh langkah kaki pria itu ke dalam kamarnya. Ketakukan semakin saja menyelimuti wajah Aisyah, kala Aditya membawanya ke dalam kamar mandi.
Saat berada di dalam kamar mandi, Aditya segera menghempas kuat tangannya yang mencengkram, yang membuat tubuh mungil itu terhuyung.
"Katakan padaku, Kau itu adalah Aisyah-kan? Dan di mana anakku?!"
"Anak mana yang Bapak maksud?! Dan saya sama sekali bukan Aisyah."
Aditya terkekeh pelan, saat api amarah kian membakar diri pria itu.
__ADS_1
"Ternyata kau wanita yang sangat keras kepala. Dan dengan terpaksa, aku harus memakai cara kasar agar membuatmu mengaku."
"Apa yang akan Bapak lakukan pada saya?" tanya Aisyah, dengan saat rasa takutnya kian menjadi, dalam dirinya.
Seringai jahat di wajah Aditya kala dua kakinya mengambil langkah pelan, menghampiri pada Aisyah.
"Pak... Saya mohon, jangan lakukan ini pada saya!" pinta Aisyah dengan linangan air mata, dan mengatupkan dua tangannya agar Aditya dapat luluh.
Tidak mengindahkan apa yang dikatakan wanita itu-Aditya kembali mencengkram kuat tangan Aisyah. Menyentuh kepala wanita itu, dan membawanya ke dalam bathube. .
keras kepalanya Aisyah yang tidak mau mengatakan siapa dia? Membuat seorang Aditya Wirawan, sudah tidak berpikir jernih lagi. Dan sama sekali tidak berpikir, kalau yang dia lakukan ini, bisa saja menghilangkan nyawa Ibu dari anaknya.
"Cepat katakan! kalau kau itu Aisyah-kan...?! Cepat katakan...." Dengan sedikit teriakan, akan api amarah yang sudah benar-benar mengusai dirinya.
Napasnya ter,engah-engah, dengan air mata yang terus mengalir, saat diri itu ditarik ke luar dari dala bathube.
"Saya benar-benar sama sekali tidak mengerti apa yang Bapak maksud!"
Aditya kembali membawa kepala Aisyah, membenamkan dalam bathube itu, saat wanita itu masih saja tidak mau mengakui siapa dia?
Aisyah terlihat tidak berdaya, dengan tubuh yang terhuyung-huyung saat wajahnya ke luar dari dalam bathube.
Aditya segera menghempaskan tubuh wanita itu ke dinding kamar mandi, hingga kepala itu sedikit membentur dinding kamar mandi. Dua tangannya memegang ujung baju Aisyah.
"Pak... Saya mohon lepaskan saya, Pak... Lepaskan saya.." pintanya dengan air mata, yang terus saja tumpah.
"Aku akan melepaskanmu, setelah aku mengetahui siapa dirimu?!" Dan dengan satu tarikan, semua kancing baju itu terlepas, hingga menampilkan kulit yang berbeda. Yaitu hitam, dan putih.
Aisyah begitu kaget, saat Aditya merobek bajunya, hingga buah dadanya, ter,ekspos di depan pengusaha tampan itu. Hingga yang bisa dia lakukan , hanyalah menyilangkan dua tangannya, agar yang sedikit menyembunyikan buah dadanya di depan Aditya.
Dia adalah pria normal. Dan tentu saja, mendapati pemandangan indah di depan matanya, membuat arah tatapan mata itu sulit dia alihkan.
Hingga tegukan ludah pun Aditya telan tanpa dia sadari, saat mendapati tubuh mulus Aisyah, setengah ter,ekspos di depannya.
__ADS_1
Seperti tergaja dari hayalan dewasanya, Aditya berusaha menghempaskan pikiran mesum itu dari dalam otaknya, pada wanita itu.
"Tidak! Aku harus tetap pada tujuanku," bathinnya.
"Kau adalah Aisyah! Dan kau tidak bisa membohongiku lagi."
Aisyah memalingkan wajahnya dengan berani, dengan tubuh yang setengah telanjang. Wanita itu kembali menangis, saat tak bisa menyembunyikan dirinya lagi, di depan ayah biologis dari kedua putrinya.
"Saya mohon... Lepaskan saya Pak... Lepaskan saya. Biarkan saya hidup tenang, dengan anak kita," pintanya dengan tatapan memohon, dan air mata yang terus saja tumpah.
"Aku akan melepaskanmu, jika kau sudah memberikan anak yang kau kandung itu, padaku!" pinta Aditya, dengan nada yang terdengar tegas.
"Tidak Pak! Saya tidak memiliki siapa-pun. Orang tua saya sudah membuang saya, begitu mereka tahu kalau saya hamil. Jadi saya mohon pada anda, jangan ambil mereka dari saya. Jangan Pak..."
****
Mendengar suara keributan di dalam, membuat Simon terlihat begitu khawatir. Pria itu menggedor-gedor pintu ruangan, bermaksud agar Tuannya dapat membuka pintu itu. Tapi semuannya nihil. Dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Aisyah, membuat Simon mengambil jalan pintas yaitu dengan mendobrak pintu ruang kerja Tuannya.
Dua kaki itu segera dia ayunkan dengan langkahnya yang panjang, akibat rasa paniknya yang sudah menyelimutinya.
"Tuan... Aisyah..." Dengan terus melangkah, dalam ruangan itu.
Daun telinganya- mendengar suara tangis Aisyah yang berasal dari dalam kamar mandi, dan itu membuat Simon segera menghampiri ke sana.
Kaget, bahkan sangat kaget. Saat tiba di dalam kamar mandi, pria itu mendapati keadaan Aisyah yang begitu kacau, dan hanya menggunakan bra saja.
"Tuan! Apa yang anda lakukan? Kenapa anda setegah ini padanya?!"
"Wanita ini sudah sangat keterlaluan! Dia menyembunyikan dirinya dariku."
"Tapi semua ini, bisa dibicarakan baik-baik, Tuan! Tidak harus memakai cara seperti ini."
"Kalau sejak dulu dia sudah memberikan anak padaku! Pasti hal ini tidak mungkin aku lakukan padanya."
__ADS_1
"Tapi dia juga anakku! Aku yang melahirkannya, dan aku juga yang mengandung.." teriak Aisyah, yang tidak terima saat Aditya akan mengambil anaknya.
"Dan aku sama sekali tidak perduli! Dengan colotehanmu, yang sama sekali tidak berpengaruh untukku. Karena aku akan pada tujuanku, begitu menemukan keberaanmu-aku akan mengambil anakku."