SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
PROTES SELLA


__ADS_3

Tubuh yang masih berada di dalam mobil-Aisyah condongkan ke luar dari dalam,setelah dia mendengar perkataan dari Simon.


Aisyah tak langsung melanjutkan langkahnya. Dua kaki itu masih setia dia pijakkan, dengan lemparan mata tertuju pada hunian berlantai tiga itu.


"Rumah! Apa istana?" gumam Aisyah, yang begitu menganggumi kediaman milik Aditya.


"Mau sampai kapan, kau memangdang rumah ini terus Aisyah? Apakah kau tidak ingin bertemu dengan kedua anakmu?" tanya Simon tiba-tiba, yang membela seketika suasana itu.


"Ma..Maaf!" jawab Aisyah dengan wajah merona, akibat malu dengan kelakukannya sendiri.


"Kalau begitu, ayo kita masuk!"


"Baiklah," jawab Aisyah dengan melanjutkan mengayunkan langkah kakinya, ke dalam rumah mewah itu,ber,iringan bersama Simon.


Lagi-lagi Aisyah begitu mengangagumi rumah mewah itu. Disain yang elegant, dengan perabotan yang tentunya sangat mahal yang menghiasi isi dalam rumah itu.


"Si brengsek ini! Ternyata benar-benar kaya. Dan aku rasa aku tidak mungkin pernah bisa melawannya, dalam hak perebutan anak, sekali pun aku diposisi yang benar," umpat Aisyah dalam hati.


"Ayo kita temui Nona Bella, dia sedang sakit."


Mendengar k putri tertuanya dalam kondisi sakit, membuat wajah Aisyah seketika berubah tegang, dengan tatapan penuhnya pada Simon.


"Maaf, tidak memberitahukan padamu sebelumnya, aku hanya tidak mau membuatmu cemas."


"Apa yang membuatnya sakit, Simon?"


"Dia begitu merindukanmu, dan hal itu diperpara kala Tuan Aditya tidak mengijinkan mereka untuk tetap tidak bertemu denganmu."


"Apakah kondisinya sangat parah?" Terlihat jelas kecemasan di wajah Aisyah, saat mengetahui kondisi putri sulungnya sedang sakit.


"Tidak. Tapi justru dengan keadaannya seperti inilah, baru membuat hati Tuan Aditya luluh."


Aisyah mendesahkan napasnya. Sesak di dada itu, mendengar apa yang baru saja Simon katakan. Marah tentu saja. Tapi ada hikmah di balik semuan ini. Dengan sampai putrinya jatuh sakit, baru bisa membuat dia dapat berkumpul dengan kedua putrinya.


"Sabar Aisyah... Sabar... Ini demi kedua anakmu," gumamnya dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita temui mereka."


"Ayo!" jawab Simon dengan mengayunkan langkah kakinya beriringan bersama Aisyah, menuju arah tangga.


Setelah sudah berada di depan kamar kedua putrinya, Simon segera melebarkan daun pintu itu yang kebetulan tidak terkunci. Dua kaki pria itu langsung ber,ayun ke dalam kamar, guna memberitahukan kedatangan Aisyah pada kedua anaknya.


Pandangan mereka yang berada di dalam teralihkan seketika pada pria itu, dan tentu saja Bella yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan sang Bunda.


"Paman... Di mana Mommy? Apakah kau tidak datang bersamanya?" tanya Bella cemas.


Tubuh yang bersembunyi di belakang tubuh besar Simon, segera beranjak dari ke luar dengan melemparkan senyuman pada sang putri.


"Mommy di sini Bella..." Aisyah melukis senyum hangatnya, dengan tatapan penuh kerinduan.

__ADS_1


"Mommy..." Sella seketika berlari kecil, menubrukkan tubuhnya pada sang Bunda, begitu mendapati kedatangannya.


"Mommy... Aku sangat merindukanmu, aku sangat merindukanmu Mommy!" Sella membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang Bunda, mengobati rasa rindu yang begitu teramar sangat.


Aisyah menarik dirinya, guna melepaskan pelukan itu. Senyuman hangat menyelimuti wajah cantiknya, dengan belaian penuh kasih sayang pada sang putri.


"Bukankah Mommy sudah bilang, kalau selamanya kita akan selalu bersama."


"Mommy.. Kakak sakit."


"Ayo..." Ajak Aisyah dengan menggenggam jemari kecil Sella, melangkah menuju Bella yang tengah terbaring lemah di ranjang.


Aisyah melabuhkan tubuhnya pada tepian ranjang, dengan Sella yang bersandar manja padanya.


Senyuman dia lukis di wajah, memandang penuh cinta pada sang putri, dengan wajah memucat dan mata yang nampak memerah.


"Mommy..." panggil Bella dengan suara paraunya.


Aisyah tersenyum. Jemarinya membelai lembut di pipi Bella, guna menghapus buliran bening yang sudah jatuh pupil matanya.


"Jangan bersedih lagi, karena Mommy sudah berada di sini."


"Apakah kau tidak akan pergi lagi?"


"Tentu saja,"


Mendesahkan napas panjangnya, saat harus menjawab pertanyaan yang sulit itu. Tapi seketika dia memberi senyuman, guna membuat sang buahati bahagia. Dan tentu saja, dia akan berjuang agar mereka terus bersama.


"Tentu saja Sayang, Mommy dan Daddy akan bersama-sama membesarkan kalian berdua."


"Mommy.. Aku ingin makan dari tanganmu," pinta Bella.


Ani yang mendengar keingian putri tertua Tuannya, segera menghampiri pada Aisyah, dan menyodorkan mangkok putih itu padanya.


"Permisi Nona, ini bubur milik Nona Bella."


Meraih mangkuk itu dari tangan Ani, dengan memberi senyum tipisnya. " Terima kasih Bibi, karena kalian sudah mengurus kedua putriku beberapa hari ini."


"Sama-sama Nona! Dan selamat datang di rumah ini. Kenalkan saya Ani! Kepala pelayan di rumah ini," ucap Ani dengan mengulurkan tangannya.


"Aisyah. Aisyah Maharani," Jawab Aisyah saat membalas uluran tangan itu.


Sisi yang juga berada di sana, tentu saja tidak mau ketinggalan berkenalan dengan Ibu dari kedua anak Tuannya itu. Dua kakinya melangkah kecil, menghampiri pada Aisyah yang duduk di tepian ranjang.


"Nona..Kenalkan saya Sisi, pelayan di rumah ini. Dan ternyata anda sangat cantik."


"Terima kasih Sisi, dan aku Aisyah. Senang berkenalan denganmu."


"Saya juga senang berkenalan dengan anda, Nona!"

__ADS_1


****


Tampan. Itulah gambaran dari seorang Aditya saat ini. Penampilan yang selalu formal, sangat kontras dengan penampilannya malam ini. Hanya dengan kaos putih polos, dan celana jeans pendek berwarna biru. Dua itu Aditya ayunkan dengan pelan, saat dua kakinya melewati satu persatu anak tangga, yang membawanya pada lantai dua.


Baru saja gagang pintu itu akan dia patahkan, samar-samar dia mendengar suara asing, dan dia sangat meyakini kalau itu adalah Aisyah.


"Ini sangat di luar dugaanku. Suka atau tidak suka, aku akan hidup bersama wanita ini. Dan ntah sampai kapan, hanya waktu yang bisa menjawabnya," gumam Aditya.


Menghembuskan napas panjangnya, sebab sesungguhnya hati itu sangat berat, tapi tidak berdaya untuk menolak. Dengan satu kali hentakan, pintu itu akhirnya terbuka lebar.


Semua mata memandang pada arah pintu. Canda, dan tawa mereka, dan juga Aisyah memudar seketika begitu datangnya sang pemilik rumah.


"Kenapa aku jadi deg-degan begini?" gumam Aisyah dalam hati, begitu pandangannya teralihkan dia mendapati pria yang membuat beberapa hari ini dia bersedih.


"Kenapa suasana jadi canggung begini? Tidak! Aku harus tetap bersikap normal. Agar wanita itu, tetap tunduk dan takut padaku," bathin Aditya.


Sella tersenyum lebar-begitu mendapati sang Daddy yang sudah berada kembali di kamarnya. Dua kaki kecilnya melangkah cepat pada Ayahnya, dengan rona bahagia tak pernah lepas dari wajah itu.


"Daddy... Mommy sudah datang."


"Daddy sudah mengetahuinya."


"Ayo Daddy! Apakah kau tidak ingin menyapa Mommy!" Dengan menarik paksa tanagan Aditya, yang membuat tubuh itu mau tidak mau terhuyung mengikuti langkah kaki putrinya.


"Mommy.... Ini Daddy. Apakah kau tidak mau menyapanya?"


"Menyapa?" Wajah Aisyah nampak memucat, akibat malu dengan ucapan putrinya.


"Iya Mommy.."


"Ha..Hallo Tuan.." sapa Aisyah dengan wajah gugupnya.


"Ha..Hallo.."


"Mommy..." Sella memanggil dengan wajah cemberutnya.


"Ada apa Sayang?"


"Kenapa kau memanggil Daddy dengan sebutan Tuan? Sebenarnya kau harus memanggil dengan sebutan Pa, atau Mas... Karena teman kami Enjel, Mommynya memanggil Daddynya begitu. Iyakan Kakak?"


"Iya Mommy, aku juga mendengarnya," timpal Bella pula.


Bisa dibayangkan bagaimana memerahnya wajah Aisyah, dan Aditya saat ini. Tidak ada cinta, maupun perasaan di antara keduanya. Hanya karena kesalahan seseorang, membuat keduanya mau tidak mau harus hidup bersama.


Simon turut melukis senyumnya. Dalam hatinya pria itu begitu bahagia. Dan dia sangat yakin, kalau Bella dan Sella mampu membuat kedua orang tua mereka saling jatuh cinta.


"Ma..Ma..Mana bisa Mommy memanggil seperti itu," jawab Aisyah terbata.


"Kenapa kalian tersenyum?! Apakah kalian pikir ini lucu?!" tanya Aditya kesal, kala mendapati senyuman Simon, Ani, dan juga Sisi.

__ADS_1


__ADS_2