
Cahaya matahari kembali bersinar terang, meredupkan gelap, juga membuat bulan, dan bintang yang semalam memancarkan sinar indanya, kini sudah berlalu pergi.
Gelisah. Itu-lah, gambaran dari seorang Karla, saat ini. Saat melewati sarapan pagi nya di ruang makan, wanita itu nampak jauh lebih fokus dengan ponsel-nya, hingga nasi goreng yang tersaji di depan-nya, sama sekali belum dia sentuh sedikit pun.
Papa Andi hanya diam. Pria paruh baya itu, terus melemparkan tatapan matanya pada Karla, namun dengan sendok yang tetap dia kayu, pada tumpukan nasi goreng yang menjadi menu, sarapan paginya hari ini.
Membiarkan terus, namun Papa Andi dibuat penasaran, dengan rupa Istrinya yang nampak tidak tenang, dan terus menatap pada layar HP-nya.
Sendok yang berada di dalam genggaman, Papa Andi letakkan dengan memberi tatapan seriusnya pada sang Istri.
"Apa yang kau pikirkan, Karla? Dari tadi aku melihat kau terlihat begitu gelisah," tanya Papa Andi tiba-tiba, membela suasana hening yang sedari tadi hanya keributan alat makan saja.
"Aku tidak apa-apa, Sayang! Aku baik-baik saja," jawab Karla cepat.
Dua alisnya bertaut, memberi tatapan mata penuh selidik pada Karla.
"Benarkah? Tapi dari tadi yang aku lihat, kau terlihat gelisah, dan bahkan sarapan pagimu belum kau sentuh sama sekali."
Karla tersenyum kikuk, saat wanita itu dihujani dengan pertanyaan seperti itu oleh sang suami, karena nyata-nya dia tengah berbohong. Sedari tadi Karla megirimkan pesan pada Sisi, tapi sampai saat ini Pelayan muda itu, belum juga membalas satu pesannya, sama sekali.
Dan mau tidak mau, hanya kebohongan yang dia katakan pada Papa Andi, agar pria itu dapat percaya.
"Aku sedang menunggu telepone dari sahabatku Sayang, katanya hari ini dia sudah sampai di Indonesia, tapi sampai sekarang dia belum menghubungiku juga, bahkan satu pesanku pun belum dia balas."
"Benarkah?" Menyurutkan alisnya, kala tatapan mata menatap pada Karla dengan lebih tajam, memastikan kejujuran ucapan wanita itu.
"Iya, Sayang.." jawab Karla dengan mengukir senyum manisnya, untuk Papa Andi.
Larut dalam perbincangan, tiba-tiba saja salah satu Pelayan pria, menghampiri pada Papa Andi, dan berbisik pelan di telinga pria itu.
"Benarkah??" tanya Papa Andi, yang masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan salah satu Pelayan rumahnya itu.
"Iya, Tuan! Mereka berada di depan."
Tanpa berucap, dan berpamitan pada Karla, Papa Andi langsung bangkit dari duduk-nya, dengan mengayunkan langkahnya menuju ruang tamu, di mana sudah ada tamu, yang menunggu kedatangan pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa? Aku jadi penasaran," gumam Karla, dengan lemparan pandangan menatap pada Papa Andi, yang sudah berlalu pergi dari ruang makan.
Langkah Papa Andi yang semula normal, kini dia kayu dengan pelan. Bingung, dan heran di wajah pria tua itu seketika, saat tiba di ruang tamu, dia mendapati ada tiga orang Polisi, bersama putra-nya Aditya.
Saat dua kaki-nya sudah memijak di ruangan itu, tanpa basa-basi Papa Andi langsung melontarkan pertanyaan pada putranya , dengan nada yang tidak bersahabat.
"Aditya! Apa-apa,an ini?! Kenapa kau membawa Polisi ke rumah Papa?!"
Tubuh yang membelakangi, kala menikmati sebuah lukisan yang menancap di dinding, langsung Aditya balikkan begitu mendengar suara Ayah-nya.
"Selamat pagi, Paa.." Senyuman dia lukis di wajah. Aditya nampak tenang, saat menghadapi pertanyaan Papa-nya yang penuh akan amarah.
"Papa sedang tidak bercanda dengan-Mu, Adit! Katakan. Untuk apa kau membawa Polisi kemari? Memang kejahatan apa yang dilakukan orang di rumah ini? Sampai kau membawa Polisi ke sini!" Emosi Papa Andi makin meluap-luap, dengan sikap putranya yang menurutnya sudah sangat keterlalun.
Tersenyum, dan Aditya melemparkan tatapan matanya pada Brigadir Anto.
Namun saat Polisi muda itu baru saja akan bersuara, tiba-tiba saja Karla datang.
"Sayang..Ada apa ini? Kenapa ada Polisi di rumah kita?" Wajah bingung, dengan dua kaki yang dia langkahkan menghampiri pada Papa Andi.
Tatapan mata Karla melempar ke arah lain, dan dia begitu kaget! Saat mendapati keberadaan Aditya di rumahnya.
"Selamat pagi Mama tiriku, aku yakin kalau kau pasti sangat kaget, mendapati keberadaan ku di rumah ini." Senyuman penuh misteri, dengan tatapan tajamnya.
Wajah pucat, tapi berusaha dia pudarkan dengan senyuman.
"A..Aku? Aku kaget kau berada di rumah ini? Tentu saja tidak Adit! Bukankah ini rumah Papamu, jadi tentu saja kau punya hak berada di rumah ini."
Tersenyum kecil, dan kemudian Aditya kembali bersuara.
"Ohh..Iya, Karla! Kemarin aku pergi ke Semarang, dan aku menjemput seseorang di sana!"
Terkejut! Bahkan wanita itu, sangat-sangat terkejut, setelah mendengar penuturan Aditya. Berubah pucat seketika wajahnya, sebab dia begitu yakin, kalau anak tirinya itu, sudah mengetahui kejahatannya.
"Karla...Katakan ada apa ini? Apa yang dimaksud Aditya? Apakah kau menyembunykan sesuatu dariku?!' Nada suara Papa Andi sudah mulai naik, kala penasaran dan juga bingung dengan sebenarnya apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Sersan Jon, Sersan Bima! Tangakap wanita ini!"Titah Brigadir Anto, pada kedua anak buahnya.
Papa Andi menyela. Pria tua itu langsung menggunakan tubuh-nya sebagai tembok, untuk menghadang kedua petugas Polisi, yang akan memasangkan borgol, di tangan Istri mudanya.
"Istriku tidak melakukan, kejahatan! Kenapa kalian ingin menangkapnya?!" tanya Papa Andi yang nampak tidak terima, dengan apa yang dilakukan oleh kedua petugas Polisi itu.
"Paa..." Suara panggilan dari seorang wanita, berhasil mengalihkan tatapan mereka.
Papa Andi sangat terkejut, begitu pria tua itu melihat Istri tertua-nya, Melinda, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Melinda, kau?? Bukankah kau sudah meninggal?" Wajah Papa Andi menatap dengan intens. Mendapati kenyataan Istri tertua-nya yang berada di depan mata, membuat pria itu terlihat bingung, karena merasa tidak percaya.
"Kau tanyakan pada wanita disampingmu itu, apa yang sudah dia lakukan padaku selama ini? Dia menculikku, dan menjadikan-ku sebagai budaknya, di vila miliknya, yang berada di jawa tengah."
Karla nampak begitu terkejut, dengan kemunculan Melinda, yang tentu saja tidak dapat membuat wanita itu, menyembunyikan kejahatannya lagi.
Tatapan matanya mengarah pada sebuah senjata api, yang berada pada seorang petugas Polisi. Bergerak cepat mengambil senjata api itu, dan menodongkan tepat ke kepala Papa Andi.
"Jika kalian mendekat! Aku akan membunuh si tua ini!"
"Apa yang kau lakukan pada ku, Karla?!"
"Apa perduliku, Andi?! Asal kau tahu, dari dulu aku sama sekali tidak menyukaimu. Aku menikah denganmu, hanya karena ingin memiliki hartamu saja."
Papa Andi nampak sangat kaget. Tapi pria itu, tak berdaya saat ini, karena Karla terus menodongkan pistol ke kepalanya.
"Kau memang wanita IBLIS, Karla! Jadi apakah berita itu benar?! Kalau kau menyukai?!"
"Ya! Bukan hanya menyukai, tapi aku benar-benar jatuh cinta pada putramu. Tapi sayang-nya, cinta ini bertepuk sebelah tangan. Padahal aku rella melakukan apa saja, untuknya!" Karla kemudian tersenyum miris, sejuta kesedihan terlihat jelas di wajah wanita itu, menatap pada Aditya yang tengah menatap penuh kebencian padanya.
"Lepaskan, Papaku Karla!"
"Tidak! Aku tidak akan melempaskannya! Ayo jalan!" pinta Karla dengan nada membentak, agar Papa Andi melangkah ke luar bersamanya.
Saat sudah berada dekat dengan mobil, Karla segera membuka pintu mobil itu. Mendorong kuat Papa Andi, hingga pria tua itu terjatuh ke lantai, dan menghujani-nya dengan beberapa tembakan.
__ADS_1
"DOORR.....DOORR....DOORR..." Dan mengagetkan mereka semua yang berada di sana.
"