SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
TAKUT BERGANTI PAKAIAN DI DEPAN RATI


__ADS_3

Lidya menyimpulkan senyum kecilnya. Wanita paruh baya itu mengetahui, kalau Aisyah tengah dilanda dilema yang cukup berat. Tidak ingin bekerja di sini, tapi wanita itu tak mempunyai pilihan lain- karena sudah menandatangani surat kontrak kerjanya.


"Bagaimana Aisyah?!" Lamunan itu memecah, saat tiba-tiba saja, Lidya bertanya padanya.


Aisyah tersenyum getir. Sorot matanya kembali beralih pada Lidya, yang tengah menantikan jawaban darinya.


"Baiklah, Bu! Saya akan bekerja di sini." jawabnya pasrah.


Hening seketika melanda ruangan- saat tak ada yang berbicara dari kedua wanita bedah usia itu. Aisyah tenggelam dalam dunianya sendiri, memikirkan hari-harinya- yang harus dia lewati- selama bekerja di sini.


"Bolehkan saya tahu, alasan apa yang membuat kamu ingin membatalkan kontrak kerjanya?" tanya Lidya tiba-tiba.


"Karena saya..." Baru saja mulut itu akan bersuara, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk...." pinta Lidya, pada pengetuk pintu di luar sana.


Pintu ruangan terbuka lebar. Dan menampilkan sesosok gadis berseragam OB- dengan potongan rambut sebahu, yang melangkah ke dalam ruangan.


"Selamat pagi, Bu!" sapanya ramah, dengan memberi senyumnya.


"Selamat pagi juga, Rati! Oh, iya. Kenalkan ini Anisa. Dia adalah Office Gril yang baru, di Company Group. Dan saya minta, kamu membantunya untuk memberitahukan hal-hal apa saja- yang menjadi tugasny, selama menjadi Cleaning Cervise di Company Group."


"Baik, Bu! Saya akan memberitahukan Anisa, tugas-tugas apa saja yang mesti dia kerjakan selama bekerja sebagai Cleaning Cervise, di Company Group." Dan arah pandangnya beralih pada Aisyah. "Hai, Anisa...Kenalkan aku Rati, Office Gril di sini." Rati mengulum senyumnya, saat tangan itu dia ulurkan pada Aisyah, yang masih duduk di kursi.


Aisyah seketika bangun dari duduknya. Tangannya mengulur, saat membalas uluran tangan wanita muda itu-dengan senyuman kecil di wajahnya.


"Aku Ais..." Bibir itu seketika dia katupkan, saat hampir saja- Aisyah menyebut nama aslinya.


"Maksudku! Namaku Anisa. Lengkapnya Anisa Mahardika." lanjut Aisyah, dengan menampilkan senyum kikuknya.


"Oh..Iya, Rati! Apakah kamu sudah membawa seragam buat Anisa?"


"Sudah Bu. Ini ada dalam kantong yang saya bawa."

__ADS_1


Dan arah pandang itu beralih pada Aisyah, dan segera menyerah sebuah kantong pada Ibu muda itu- di mana ada berisi seragam OB wanita itu.


"Ini, Anisa! Seragammu."


"Terima kasih." jawabnya, dengan menggapai kantong itu, dari tangan Rati.


"Nisa! Silahkan kamu ikut Rati. Dia akan memperkenalkan, apa yang akan menjadi tugasmu selama bekerja di sini."


"Baik Bu..."


"Ayo, Nisa!" ajak Rati, dengan melangkahkan kaki ke luar dari dalam perusahaan.


"Ayo.."


Tak ada yang berbicara antara kedua wanita itu, saat melewati lorong panjang- yang akan membawa keduanya, pada sebuah ruangan- di mana para tenaga dijadikan tenaga Cleaning Cervise dari Company Group, untuk menyimpan semua keperluan mereka, selama menjalani tugas. "Ya Tuhan...Semoga saja yang aku khawatirkan selama ini, tidak terjadi. Aku takut...Aku takut....Dengan keberadaan aku di sini, semakin mempeemudah Tuan Aditya, untuk mencariku." bathin Aisyah. Mulut yang sedari tadi membungkam, karena sesungguhnya diri itu masih dilanda rasa kecemasan.


"Kamu baik-baik saja, Anisa?" Mendapati wajah Aisyah yang menampilkan kegelisahan, membuat Rati seketika bertanya- yang mengawali perbicaraan keduanya.


"A...Aku baik-baik saja." jawabnya terbata, dibingkai pula senyuman kikuknya, dengan dua kaki terus melangkah, beriringan bersama Rati.


"Benarkah??" tanya Aisyah, dengan berpura-pura kaget.


"Tentu saja...Namanya Pak Aditya Wirawan." jawab Rati.


Dua pasang kaki milik Aisyah, dan Rati melangkah beriringan melewati lorong, di mana sepanjang jalan keduanya mendapati para karyawan OB, yang baru saja akan memulai aktifitas paginya.


"Tuh di sana ruangannya. Di sana banyak loker. Dan sudah dipisah. Baik untuk laki-laki, dan perempuan."


Aisyah, dan Rati sudah berada di dalam ruangan- di mana di sana berjejer rapi, lemari- lemari besi berukuran kecil.


"Ini lokermu, Anisa! Dan ingat! Jangan sampai lupa. Dan ini kuncinya. Dan punyaku, yang disebelamu ini," ucap Rati, dengan memberi sebuah kunci pada wanita itu.


"Terima kasih Rati!"

__ADS_1


Rati menatap sebuah jam tangan sederhana, yang melingkar di pergelangan tangannya. Di lihat di sana, mereka mempunyai waktu sepuluh menit lagi- sebelum melakukan aktifitas mereka.


"Kita masih memiliki waktu 15 menit lagi. Ayo! Cepat ganti bajumu. Nanti kita terlambat." titah Rati, saat Aisyah hanya mendiamkan seragamnya.


Wajah Aisyah seketika pucat pasih. Mengingat dirinya yang hidup dalam penyamaran- membuat sangat tidak mungkin bagi wanita itu, untuk menanggalkan pakaiannya di depan Rati- sekalipun mereka sama-sama wanita.


"Kalau sampai aku berganti pakaian di depan, Rati! Bisa hancur duniaku..Dan Rati pasti akan sangat kaget, melihat kulitku yang dua warna." bathinnya.


"Kenapa kamu diam saja, Anisa! Cepat ganti bajumu, nanti kita bisa terlambat."


"Apakah aku harus mengganti pakaian di depanmu?"


"Memangnya kenapa? Bukankah kita ini, sama-sama wanita?" Rati terlihat bingung. Sebab selama ini, para tenaga Cleaning Cervice wanita- akan nampak santai, jika harus berganti pakaian. Sebab merekapun tahu, ruangan itu tidak mungkin dimasuki para pria.


"Maafkan aku, Rati...Tapi sejujurnya aku sangat tidak nyaman, jika harus berganti pakaian di depan orang lain, sekalipun itu wanita. Jadi bisakah kau meninggalkan aku di sini?" Aisyah sedikit memelaskan wajahnya, berharap Rati dapat meninggalkan dirinya di ruangan itu.


Menghembuskan napas kesalnya, dengan menampilkan sedikit mimik cemberutnya pada Aisyah.


Aisyah mengatupkan kedua tangannya, dengan mengukir senyuman kecilnya, saat mendapati Rati yang menampilkan sedikit wajah cemberutnya.


"Baiklah. Tapi cepat gantinya, karena aku tidak mau kita terlambat." seru Rati kesal, dan segera berlalu dari Aisyah.


Saat dua tangan itu akan menyingkap baju itu, Aisyah memalingkan wajahnya ke kiri, dan ke kanan- guna memastikan situasi aman. Dan memastikan situasi benar-benar aman- dengan cepat Aisyah menanggalkan baju yang membalut tubuh mungil itu, dan menggantinya dengan seragam OB.


"Hah...Selesai. Ya Tuhan...Sekali lagi aku panjatkan doa yang sama. Jangan biarkan, orang mengetahui siapa aku ini. Terutama pria itu." gumam Aisyah, dan segera menghampiri kembali pada Rati- yang menungguhnya di luar ruangan.


"Ayo Rati..." ajak Aisyah, dengan dua kaki menghampiri pada Rati, yang tengah menyibukkan jemarinya, bermain ponsel.


"Kamu itu, sangat aneh!" seru Rati tiba-tiba.


Keningnya mengkerut. Sorot matanya intens seketika- menatap pada Rati, saat tiba-tiba saja diri itu di landa curiga, mungkin saja Rati mengetahui siapa dia?


"A..Aneh bagaimana?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Ya! Aneh saja..Masa ganti di depan aku saja kamu malu, padahal kita ini sama-sama wanita."


__ADS_2