SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MEMINTA MENYELIDIKI


__ADS_3

Hembusan angin menerbangkan rambut yang tergerai indah. Iris mata hitamnya menerawang, melemparkan pandangan itu sejauh mungkin.


Aisyah tak berbicara sepata katapun, setelah mendengar apa yang dikatakan sahabat baiknya itu. Bibir itu sengaja dia bungkam, setelah mendapati raut wajah sendu pada wajah sahabatnya.


Hening.. Hening...Membiarkan suasana sepi melanda Keduanya, saat tenggelam dalam suasana hati masing-masing. Cukup lama membungkam, akhirnya terbelah dengan ucapan tiba-tiba dari Rati.


"Dia adalah alasan, kenapa aku selalu saja kuat. Kalau aku rapu, pada siapa dia akan bergantung," ucapnya tersenyum miris.


"Dan maaf, kalau aku bertanya. Di mana ayahmu, Rati?"


"Ayahku, sudah lama meninggal."


" Apakah dia meninggal saat kau sudah dewasa?"


" Tidak. Dia meninggal, saat aku masih duduk dibangku SD. Jadi kenangan antara aku, dan dia hanya sedikit saja."


Hening kembali melanda, saat tak ada yang berbiacara antara kedua wanita itu.


Hembusan angin-kembali bertiup dengan kencang, menerbangkan daun-daun yang berhamburan di atas rerumputan itu.


"Kamu gadis yang kuat, Rati! Dan aku bangga padamu," ucap Aisyah tiba-tiba.


"Kamu juga kuat, Aisyah! Menjalani hidup tanpa keluarga, dengan kedua gadis kecilmu."


Aisyah melukis senyum kecil. Tatapan itu sekilas menatap Rati, dan kembali melemparkan pandangannya jauh ke depan.


" Tuhan memberi cobaan pada umatnya, dengan cara yang berbeda. Tapi yakinlah, akan hikma di balik semua ini."


Rati tersenyum getir, saat dir itu tenggelam dengan apa yang dia pikirkan. Air mata yang sedari berusaha dia bendung, akhirnya tumpah juga, membasahi pipi mulus itu.


"Terima kasoih, Aisyah! Terima kasih. Tuhan begitu baik, karena menghadirkan sahabat sebaik kau, dalam hidupku.. Dan kau adalah sahabat terbaik, yang pernah aku temui. Yang selalu ada di saat aku susah, maupun senang."


'"Kamu mau tahu, karena apa?"


Rati seketika mengintenskan tatapan matanya, mendengar ucapan Aisyah yang sangat sulit dia pahami.


"Memangnya karena apa?"


"Karena kita berdua adalah saudara. Jadi mulai sekarang, bagilah dukamu bersamaku.'"


Rati tersenyum, mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir sahabatnya.


"Iya kIta berdua adalah saudara. Dan mulai sekarang, dukaku, adalah dukamu juga, Aisyah! Begitu juga dengan sukamu, adalah suka juga juga."


"Kalau begitu kemarilah!" Aisyah merentangkan dua tangannya, dibingkai pula dengan senyuman kecil di wajahnya.


Rati terkekeh pelan, dan segera membenamkan diri itu dalam pelukan Aisyah. Kedua sahabat itu berpelukan dengan erat.

__ADS_1


"Terima kasih, Aisyah! Terima kasih. Kehadiranmu, memberi kekuatan buatku."


Aisyah semakin kuat melingkarkan dua tangan itu, yang kian merapatkan tubuh sahabatnya dalam pelukannya.


"Sama-sama, Rati!"


****


Mobil hitam yang dikendarainya, dia tepikan pinggiran jalan raya yang sedikit jauh dari bibir jalan raya.


Aditya melemparkan tatapan matanya, menatap suasana sekitar dari balik kaca spion mobil.


"Apakah kau yakin, Bibi Jumina tinggal disekitar sini?" tanya Aditya memastikan.


"Saya sangat yakin, Tuan! Karena saya pernah mengantar beliau, kemari."


Tubuh yang sedari tadi masih bersandar pada kursi penumpang, segera Aditya tegakkan. Membuka pintu mobil, dan mencondongkan tubuhnya ke luar dalam mobil.


Mengedarkan pandangannya ke segalah arah, menatap sekitar lokasi,


"Ayo Tuan! Kita ke sana."


"Ayo!" jawab Aditya, dengan langsung menghentakan dua kakinya beriringan bersama Simon.


Kos-kossan yang ditempai Jumina, berada sedikit jauh dari jalan raya. Membuat Aditya, dan Sekretarisnya harus melewati sebuah gang kecil, agar dapat sampai ke kos-kosan itu wanita paruh baya itu.


"Itu di ujung sana, Tuan!" Simon mengarahkan jari telunjuknya, pada sebuah barisan rumah di mana sudah banya warga yang mengerumuninya.


"Ternyata sudah banyak warga di sana."


Langkah kaki semakin Aditya, dan Simon cepatkan! Agar dapat sampai di kos-kosan itu.


Banyaknya warga yang mengerumuni lokasi kejadian, membuat keduanya sedikit kesusahan, agar dapat melihat tempat lokasi yang sudah terdapat beberapa anggota Polisi.


"Minggir...Minggir...." Simon berkata dengan sedikit teriakan, agatr dapat membuka jalan bagi Tuannya.


Tatapan warga yang tadi menatap pada arah depan, seketika berbalik arah, dan membuka jalan- saat mendapati sosok tampan yang memberi senyuman kecilnya.


Ruang yang sudah terbuka, membuat Aditya dan Simon segera menghentakkan dua kakinya mendekat pada petugas kepolisian.


Mendapati sosok yang sedari tadi dia tunggu, Anto seorang Polii muda dengan pangkat Brigadir segera menghampiri pada pengusaha kaya itu.


"Tuan Aditya..."


"Maaf! Kami terjebak macet, jadi sedikit terlambat sampai ke sini. Dan bagaimana dengan jenasahnya? Apakah akan segera di bawah ke rumah sakit, untuk melakukan otopsi?"


"Tentu Tuan! Tapi anggota saya, masih memeriksanya sekitar lokasi kejadian. Dan ambulance, sedang dalam perjalanan kemari untuk mengambil jenasah."

__ADS_1


"Apakah aku boleh meihat jenasahnya?"


"Tentu saja boleh, Tuan! Kenapa tidak?" jawab Anto dengan melangkahkan kakinya, yang diikuti Aditya dan Sekretarisnya.


Langkah kaki ketiga pria itu berhenti di sebuah kantong jenasah yang masih tergeletak yang masih terletak di depan kos.


Anto membungkukkan sedikit tubuhnya, guna menarik kancing tarik dari kantong jenasah itu.


Guratan kesedihan terlihat jelas di wajah Aditya, mendapati pelayan rumahnya yang sudah tidak bernyawa.


Anto semakin menarik kancing itu hingga ke bawa lehernya, dan menunjukkan jeratan tali yang sangat membekas di leher wanita tua itu.


"Korban dibunuh, dengan cara lehernya dijerat dengan tali. Dan kami sangat meyakini, kalau pembunuhan ini sudah direncanakan sebelumnya."


"Apakah kau yakin? Brigadir Anto!"


"Saya sangat yakin, dengan ucapan saya, Tuan!"


"Aku tidak tahu, siapa yang menaruh dendam padanya? Karena setahu aku, dia hidup seorang diri. Dan tidak pernah menikah."


Tapi aku minta, kau selidiki kasus ini hingga tuntas."


"Tentu, Tuan! Kami akan terus menyelidiki kasus ini, karena dari keterangan para warga, semalam mereka melihat pria asing dengan memakai pakaian serba hitamnya, dan memakai topi. Dan pria itu, terlihat sangat mencurigakan. Dugaan kuat kami, kalau kemungkinan dia adalah pelakunya."


"Aku serahkan semuanya kepadamu. Karena aku sangat penasaran, dengan motit pembunuhan yang menimpa pelayanku ini."


"Tentu, Tuan!"


****


Bintang, dan bulan kembali bersinar terang di atas awan, kala malam kembali menyapa bumi, setelah senja perlahan meredupkan cahayanya.


Tubuh itu sudah berbaring di atas ranjang. Dua mata itu tak sanggup meredup, saat gelisah seketika menyapa. Menatap langit-langit kamar, dengan tatapan menerawang.


Gelisah yang terus melanda, membuat Aisyah memutuskan untuk turun dari ranjang.


Dua kaki itu kembali dia selimutkan pada sendalnya, yang berada di bawah ranjang. Mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada jendela kamar.


Jendela yang sudah tertutup rapat- Aisyah lebarkan, dengan pandangannya yang dia lempar jauh menatap pada jutaan bintang, yang bersinar terang di atas sana.


Bersandar malas pada sudut tembok, menikmati indahnya malam yang terasa sepi untuknya.


Apa yang dikatakan Simon tadi lewat telepone, begitu mengganggunya. Bahkan membuat Ibu muda itu, tidak dapat bisa tidur.


Sangat dengan jelas, saat sore tadi Aisyah mendapat telepone dari sekretaris itu, dan dia mengatakan hal yang membuat wanita itu begitu kaget. Kalau Aditya sudah mengetahui dirinya berada di Jakarta.


"Hanya Mama saja, yang mengetahui kalau aku di Jakarta. Apakah mungkin? Mama yang memberitahu pada Tuan Aditya, kalau aku berada di sini. Tapi apakah mungkin, Mama setega itu padaku?" gumam Aisyah, kala gelisah berbalut dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


__ADS_2