
Walaupun dengan berat hati, tapi Aisyah tetap melanjutkan langkah kaki itu, yang kian membawanya semakin dekat, pada ruangan Aditya Wirawan- pria yang selama ini sudah membuatnya bersembunyi.
Diri itu seketika diselimuti kecemasan, mengingat tatapan Simon, yang sepertinya menatap padanya dengan tatapn, penuh curiga. "Semoga saja, pria ini tidak mengenal siapa aku ini." bathin Aisyah, penuh harap.
Simon yang sama sama sekali tIdak menyadari kehadiran Aisyah. Lelaki berperawakan tinggi itu, tengah disibukkan dengan beberapa berkas penting, yang berserakan di atas meja kerjanya.
Aisyah Menghembuskan napas panjangnya, saat bibir-nya akan mengucapkan selamat pagi pada pria di depannya.
"Selamat pagi..." sapanya pelan.
Arah pandang yang tadi nampak begitu fokus, pada lembaran di depannya, seketika beralih pada asal suara.
Dua alisnya bertaut, dengan memicingkan matanya- menatap peuh pada wanita, yang sudah membuatnya penasaran sedari tadi.
"Kamu....
Aisyah tersenyum kikuk. Mendapati tatapan Simon, yang begitu intens menatap padanya, membuat rasa takut semakin mengusai diri wanita itu, jika saja Simon mengetahui siapa dia.
"Selamat pagi, Tuan sekretaris! Saya Cleaning servis yang ditugaskan hari ini, untuk membersikan ruangan Presdir."
Simon masih betah menatap wanita di depannya, yang begitu membuatnya penasaran. Menadapati kemiripan Wajah- wanita depannya, dengan wanita yang tengah dicari Tuannya selama ini, membuat Simon semakin diselimuti rasa penasaran, kala sepasang matanya sekaang lebih dapat, menatap wajah itu lebih dekat.
"Wajah wanita ini, begitu mirip dengan Aisyah. Wanita yang selama ini, dicari oleh Tuan Aditya. Tapi wanita ini berkulit gelap, bertahi lalat, dan jugaberkaca mata. Tapi rambut, dan juga bentuk tubuh mereka sama." bathinya.
Tidak ingin berlama-lama berada di sana, dengan cepat Aisyah bersuara, menyadarkan Simon dari dunianya, yang begitu intens menatap padanya.
"Tuan, bolehkah saya masuk?" tanya Aisyah tiba-tiba.
"Maaf. Dan masuklah, karena Tuan Aditya sudah menunggu."
"Baik Tuan..." Melukis senyum kecil di wajah. Alunan kaki yang tadi berhenti beberapa menit, kembali Aisyah lanjutkan menuju ruangan Aditya Wirawan.
Resah, dan gelisah. Itulah yang tengah dirasakan Aisyah, saat diri itu, sudah berada di depan ruangan, lelaki membuatnya selama ini, bersembunyi. Tak ada pilihan lain bagi dirinya, selain masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Ohh Tuhan... Kenapa harus seperti ini? Bahkan sekarang, aku begitu dekat, dengannya. Padahal selama ini, aku selalu saja lari darinya." gumamnya.
Kedua kaki itu, masih setia berpijak di depan ruangan. Sangat enggan bagi seorang Aisyah Maharani, untuk masuk ke dalam ruangan itu. Tapi dirinya sama sekali tidak punya pilihan lain, selain harus masuk ke dalam nya. Membiarlkan beberapa menit berlalu, kala takut masih saja menyelimuti. Menghembuskan napas panjangnya. Perlahan tangan itu dia angkat, dan memberi ketukan pada badan pintu.
"Masuk...."
Suara Aditya serasa bagai angin kencang, bagi seorang Aisyah Maharani. Takut, semakin saja dia rasakan. Tapi sekali lagi, dirinya tidak mempunyai pilihan yang lain. Meraih gagang pintu, dan membukanya.
Pintu ruangan terbuka lebar. Tubuh yang masih berpijak di depan pintu, melemparkan tatapan jauhnya -menatap pada Aditya, yang tengah fokus pada lembaran di depannya. Alis tebal, dan sorot mata lelaki itu yang begitu tajam, mengingatkan Aisyah pada putrinya Sella.
"Dia begitu mirip dengan Sella putriku. Alisnya tebalnya, dan sorot mata itu, mengingatkan aku pada putri keduaku." bathinnya.
Ayunan kaki yang tadi dia hentikan, kembali Aisyah lanjutkan, yang membawanya semakin ke dalam ruangan.
Diri itu sudah berhadapan tepat dengan meja kerja pria itu. Menghembuskan napas panjangnya-sebelum diri itu, menyapa pada pria di depannya.
"Selamat pagi Pak.."
"Kamu...!" Sorot mata tajam, yang dia lemparkan pada Aisyah. "Ngapain kamu di sini?!" tanyanya kemudian.
Gugup, tapi Aisyah menutupi dengan mengukir senyum palsunya. Mendapati tatapan Aditya yang begitu tajam, mampu membuat separuh jiwanya pergi.
"Maafkan saya, Pak! Karena sudah membuat anda kaget. Saya adalah Cleaning Cervise, yang baru saja, bergabung dengan Company Group. Dan saya ditugaskan Ibu Lidya, untuk membersikan ruangan anda hari ini."
Sorot mata itu masih menatap penuh pada Aisyah. Aditya begitu intens menatap pada wanita di depannya, dari atas hingga bawa- yang mebuat Aisyah hanya menampilkan senyum kikuknya.
Diri yang yang sedari tadi di landa kecemasan, perlahan mulai mencair. Menadapati sikap Aditya yang terlihat santai, membuat keyakinan dalam diri Aisyah, kalau Aditya sama sekali tidak menyadari siapa dia.
"Dari sikap yang dia tunjukkan, aku sangat yakin, kalau dia tidak mengenalku. Kalau dia mengetahui aku, adalah Ibu dari anaknya, tidak mungkin dia akan bersikap seperti ini. Dan semoga saja dia tidak akan terus mengetahui siapa aku? Sampai kontrak kerjaku berakhir, dengan Company Group." bathin Aisyah.
"Bukankah kamu wanita terjelek! Yang tadi pagi menabrakku itu?!"
Aisyah terkekeh pelan. Diri yang tadi diselimuti ketakutan, tergantikan dengan rasa kesal, mendengar ucapan Aditya yang nampak begitu menghina dirinya.
__ADS_1
"Ha..Ha...Ha... Pak... Ternyata anda sangat pintar bercanda. Dan saya minta, maafkan saya, yang tadi pagi sudah menabrak anda."
Aditya menyeringaikankan wajah tampannya. Sorot mata itu, begitu tajam kala dia memberi tatapannya pada Aisyah.
"Jadi sekarang kamu sudah mengetahui siapa saya. Dan apakah saya terdapat di bawah kaki kamu?! Hingga wajah kamu, terus menatap ke bawah sana."
Menghindari dari tatapan Aditya- yang begitu tajam menatapnya, membuat Aisyah hanya bisa menunduk. Tapi apa yang baru saja di katakan pria itu, membuat wajah itu- seketika mendongak, dan menatap pada pria didepannya.
"Maafkan saya, Tuan... Eh.. Maksud saya Pak."
"Kamu tahukan/ Kalau Cleaning Servise yang bertugas membersikan ruangan saya, sudah mengundurkan diri."
Ekpresi bingung seketika menyelimuti wajah cantik- yang bersembunyi di balik crem hitam, dan itu membuat seorang Aditya hanya tertawa, melihat sikap bingung yang ditunjukkan wanita di depannya.
"Dan aku rasa, kamu pasti belum mengetahuinya."
"Maafkan saya, Pak! Tapi saya benar-benar tidak mengetahuinya."
"Benarkah?" Menarik sudut bibirnya, mengandung arti tidak suka, dengan ucapan Aisyah.
"Iya, Pak!"
"Tidak masalah, karena itu hanya hal yang sepele. Dan saya sudah memutuskan, mulai hari ini, kamu yang akan menggantikan Pak Hasan, sebagai Cleaning Cervise yang ditugaskan selama ini, membersikan ruangan saya. Dan kamu juga harus menyediakan minuman, atau apapun itu, yang berkaitan dengan keperluan saya, sekalipun saya sudah mmiliki sekretaris." ucapnya tegas.
Wajah pucat pasih, dengan bola mata membelalak lebar, mendengar apa yang baru saja dikatakan Aditya padanya, yang sangat jauh dari apa yang dia kira.
"Maksud Bapak, Saya yang akan menggantikan posisi OB, yang selama ini membersikan ruangan Bapak?" tanya Aisyah memastikan, ucapan pria di depannya.
***
Info
Maaf, selama ini aku tidak update rutin, dikarenakan Laptopeku rusak. Alat yang aku pesan, datangnya juga rusak. Jadi membuat aku sedikit stress. Dan akhirnya, mau gak mau, aku beli laptope baru. Tapi saat mau sambungin, ke email, kata sandinya aku lupa. Akhirnya di bantu dengan Kakak ternisi, akhirnya semuanya lancar. Dan aku janji, akan rajin apdute, kecuali benar-benar ada halangan.
__ADS_1