SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
JUMPA PERS


__ADS_3

Aisyah berusaha menampilkan senyum-nya di wajah, walau pun diri itu nyata-nya saat ini tengah menahan rasa kesalnya yang teramat sangat, pada seorang Aditya. Apa lagi pria itu memeluknya dengan erat, dan menopangkan wajahnya di atas pundak Aisyah, yang membuat jarak wajah keduanya begitu dekat.


"Mas....Bisakah kau memeluk dengan pelan? Dan menjauhkan wajahmu. Apakah kau tidak malu pada para Wartawan?" pinta Aisyah.


"Malu! Untuk apa aku harus malu!" jawab Aditya santai.


"Terserah kau saja!" jawab Aisyah kesal.


*****


Aisyah, dan Aditya sudah melabukan tubuh dikursi, dengan beberapa alat pengeras suara, yang berada di depan keduanya. Duduk berdampingan, dengan pijaran cahaya kamera yang terus memancar pada mereka.


Raut wajah Aisyah sudah nampak memucat, menghadapi banyak para Wartawan, dan juga kamera yang tak henti-henti memotret dirinya, dan Aditya. Apa lagi hal ini, merupakan hal baru dalam sejarah hidupnya yang tidak pernah dia hadapi sebelumnya.


"Mas...Aku takut..." gumam Aisyah dengan setengah berbisik.


"Tenanglah, dan biar aku yang menjawab apa yang mereka tanyakan. Dan kau cukup diam saja," seru Aditya menenangkan.


"Baik Mas...Setidaknya itu jauh lebih baik."


"Tuan Aditya...Apakah benar? Kalau anda, dan Nona Aisyah tinggal satu atap bersama anak kalian," tanya salah satu Wartawan wanita, yang membuka sesi wawancara mereka hari ini.


"Iya, itu benar. Aku, dan Aisyah juga anak kami memang tinggal satu atap."


Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir pengusaha itu, membuat para Wartawan seketika saling berbisik-dan nampak juga kaget, sebab selama ini mereka tidak pernah menjumpai seorang Aditya Wirawan, bersama seorang wanita mana pun.


"Bolehlah kami tahu, selama ini anda menyembunyikan di mana keberadaan Nona Aisyah, dan anak anda? Karena setelah berpisah dari Nona Citra, kami tidak pernah melihat anda menggandeng seorang wanita. Apakah anda, dan Nona Aisyah terlibat hubungan terlarang? Hingga Nona Aisyah hamil, dan mau tidak mau anda harus bertanggung jawab?"


"Tidak! Itu sama sekali tidak benar!" jawab Aditya cepat.


"Kalau bukan itu, apakah selama ini anda menjalin hubungan dengan Nona Aisyah secara diam-diam? Dan menyembunyikan keberadaan mereka di luar negeri."


"Itu juga, sama sekali tidak benar."


Mendapati dua jawaban Aditya, yang tidak sesuai dengan tebakan mereka, membuat para Wartawan itu dilanda kebingungan, dan saling berbisik pelan di sana.

__ADS_1


"Apakah karena cinta satu malam?" tebak salah satu Wartawan pria, tiba-tiba.


Aditya mendesahkan napasnya berat. Jemari itu menyentuh lembut tangan Aisyah, dan membawanya bertumpuh di atas pahanya- saat mendapati wajah Aisyah yang dia tenggelamkan.


"Tenanglah semuanya, akan baik-baik saja," gumam Aditya pelan di telinga Aisyah, yang dibalas dengan senyuman tipis oleh wanita itu.


"Baiklah, aku akan menjawab rasa penasaran kalian, tentang bagaimana aku bisa memiliki anak, bersama Aisyah," seru Aditya saat membiarkan keheningan, berlalu beberapa menit.


"Setelah berpisah dari Citra, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun," lanjutnya lagi.


Para Wartawan saling memandang, dalam kebingungan di wajah mereka masing-masing, setelah mendengar jawaban Aditya.


"Bisakah anda melanjutkan cerita anda? Karena sepertinya sangat menarik," seru salah satu Wartawan pria.


"Kami tidak pernah melakukan hubungan Suami-Istri sama sekali, yang membuat anak kami ada. Aisyah merupakan korban salah inseminasi, saat aku memutuskan untuk memiliki anak, tanpa harus menikah."


"Jadi?!" tanya salah satu Wartawan, tapi langsung dijawab cepat oleh Aditya.


"Aku, dan Aisyah dipertemukan oleh takdir. Tapi karena kami ingin kedua anak kami tumbuh di antara orang tua yang lengkap, saya dan Aisyah memutuskan untuk tinggal satu atap, dan menikah. Dan belajar saling mencintai."


"Dan bolehkah kami menanyakan satu hal, Tuan? Mengingat hubungan kalian yang ada, karena takdir dari Tuhan."


"Apakah anda sudah mencintai Nona Aisyah? Mengingat hubungan kalian yang ada, karena kehadiran buahati."


Aditya mengembangkan senyuman di wajahnya. Mengankat tangan Aisyah, dan melabuhkan sebuah kecupan di pungung tangan wanita itu, yang membuat Aisyah begitu kaget.


"Aku mencintainya, dan akan semakin mencintainya. Karena aku yakin, dia adalah wanita yang dikirim Tuhan untuk menjadi jodohku."


Aisyah menampilkan senyuman, yang sedikit memaksa. Melihat bagaimana pria itu memperlakukannya, dan menjawab pertanyaan para Wartawan dia tidak menyangkah, Aditya mampu ber'akting dengan begitu sempurna.


"Dia benar-benar, bisa ber'akting di depan para Wartawan," gumam Aisyah dalam hati.


"Nona Aisyah...Apakah anda juga mencintai Tuan Aditya, calon Suami anda?" tanya salah satu Wartawan, yang seperti petir bagi Aisyah.


"Mencintai calon Suamiku?!" tanya Aisyah balik, dan dia nampak kebingungan.

__ADS_1


"Iya Nona...Apakah anda juga mencintai Tuan Aditya?!"


"Ha...Ha....Ha...Tentu saja aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya," jawab Aisyah denggan menampilkan wajah kikuknya.


Aditya melukis senyum tipisnya. Ntah apa yang dia rasakan. Tapi mendengar ucapan Aisysh barusan, seperti kobaran api yang melelehkan suatu tempat yang selama ini terselimuti oleh ice.


"Terima kasih Sayang...Karena sudah mencintaiku," seru Aditya dengan langsung melabukam kecupan, di bibir Aisyah-dan hal itu membuat wanita itu sangat terkejut. Dan para Wartawan, tentu saja langsung mengabadikan moment manis itu.


Aisyah menampilkan senyuman semanis mungkin, untuk menutup rasa malu itu. Tapi dalam hatinya, dia tengah merutuki pria itum


"Aku tahu kami harus berpura-pura mesrah. Tapi tidak perlu harus menciumku juga. Apakah ini bagian dari Skenario-nya?" gumam Aisyah dalam hati.


"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Aditya pelan.


"Aku baik-baik saja Sayang..." jawab Aisyah berusaha menampilkan senyuman.


"Tuan Aditya kapan anda, dan Nona Aisyah akan menikah?"


"Dua hari lagi."


Simon menghela napas panjangnya, ada rasa lega dalam dirk pria itu, melihat acara jumpa pers Tuannya, yang berjalan dengan lancar. Tapi sedari Simon terus perhatikan, sikap Tuannya. Dan melihat sikap Bos-nya yang begitu manis pada calon istrinya, Simon meyakini kalau sikap manis itu bukan bagian dari Skenario. Jadi kesimpulannya , kalau Tuan-nya Aditya, benar-benar telah jatuh cinta pada Nona Aisyah.


"Tuan Aditya tidak seperti ber'akting. Dan melihat sikap, dan cara dia memperlakukan Nona Aisyah hari ini, aku yakin kalau dia melakukan karena suruhan hatinya," bathin Simon.


****


KEDIAMAN ANDI WIRAWAN.


Langkah kaki yang sudah membawanya kian mendekat pada ruang nonton, Karla hentikan seketika. Gelas yang terisi oleh minuman jus jeruk, jatuh ke lantai tanpa dia sadari, yang mengalihkan tatapan Andi, yang sedang fokus menonton jumpa pers yand dilakukan putranya.


Suara pecahan kaca, mengalihkan tatapan Andi. Dan tubuh itu langsung beranjak bangun, begitu dia mendapati Karla istri-nya di sana.


Karla terlihat syok! Wajahnya begitu memucat, seakan dunia sudah gelap, dan tak ada guna nya dia hidup. Hampir saja tubuh itu ambruk, dan untung saja sang Suami Andi, langsung menangkap tubuhnya.


"Kau baik-baik saja, Karla?" tanya Andi yang terlihat khawatir, seraya menuntun istrinya menuju sofa set, yang berada di ruang nonton.

__ADS_1


Karla berusaha mengungatkan diri itu, detak jantung yang serasa tak berdetak lagi dia normalkan, dan akhirnya bersuara.


"Apakah Aditya, akan benar-benar menikah?"


__ADS_2