SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
JANJI RATI


__ADS_3

Bisa dibayangkan, bagaimana raut wajah Aisyah saat ini. Wajah yang bersembunyi itu, seketika berubah pias dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi Aisyah tetap menampilkan senyuman, agar tidak menandakan tanda tanya bagi karyawan wanita itu.


"Terima kasih, Mba!" jawabnya, dengan menampilkan senyuman kikuk itu.


Berbagai tanda tanya menghinggapi isi kepala Aisyah, dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Aditya sedang berada di kota asalnya Surabaya.


"Apa yang Pak Aditya, dan Sekretaris Simon lakukan di sana? Apakah perjalanan mereka ke Surabaya, dalam rangka bisnis? a Atau-kah karena mencariku?" Aisyah bergumam dengan rasa penasarannya.


****


Setelah meletakkan alat-alat bersih-bersih yang dia pakai untuk membersikan ruang kerja Aditya-wanita berambut hitam itu segera mengayunkan langkah kakinya, menuju taman belakang yang berada di belakang perusahaan


Cahaya panas matahar mengenai tepat di wahanya-saat dua kaki itu melangkah ke tengah taman- dengan ayunan kaki yang terasa berat baginya. Mengetahui kalau Aditya saat ini tengah berada di Surabaya, cukup membuat Aisyah tak dapat tenang.


Dua kaki itu seketika berpijak, setelah mendapati satu kursi panjang di tengah taman. Melabuhkan tubuhnya di sana, seraya menatap jauh ke depan dengan tatapan hampanya.


"Aisyah...." Tiba-tiba saja, terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang.


Tubuh itu seketika membeku, mendengar seseorang memanggil nama aslinya. Hingga membuat wajah itu- seketika berpaling, menatap asal suara. Kaget seketika menyelimuti wajah Aisyah, mendapati Rati yang tengah menghampiri padanya dengan dua tangan memegang botol minuman.


"Rati..." Aisyah bergumam pelan, dengan wajah tidak percayanya .


Rati menyilpulkan senyum-dengan raut wajah yang tetap tenang mendapati Aisyah melototi kedua matanya itu.


Satu tangannya mengulur panjang, guna memberi botol minuman yang berada dalam gengaman tangan kanannya.


"Ambil minumannya, Syah! Kenapa kau diam saja?" Rati terlihat santai, ketika menyodorkan minuman pada Aisyah.


Dengan raut wajah yang masih dipenuhi tanda tanya, tangan itu perlahan menggapai botol minuman yang diberikan sahabatnya.


Rati tersenyum kecil, kemudian melabuhkan tubuhnya di samping Aisyah, dengan memandang jauh ke depan.


Terselimuti rasa penasaran dalam dirinya, membuat Aisyah seketika langsung melontarkan pertanyaan pada Rati, tanpa menunggu lama.

__ADS_1


"Katakan padaku. Dari mana kau tahu, nama asliku?" Aisyah menatap dengan penuh pada Rati, yang masih menunjukkan sikap tenangnya.


Rati mengukir senyum tipisnya. Jemari itu membuka penutup botol, seraya mendekatkan bibirnya pada bibir botol minuman itu-meneguknya hingga setenga karena dahaga.


Dan bukan menjawab apa yang ditanyakan Aisyah! Rati malah balik bertanya, alasan apa? Yang membuat sahabat baiknya itu, sampai melakukan penyamaran.


"Katakan padaku. Alasan apa? Yang membuatmu melakukan ini semua. Kamu sangat cantik, dan kulitmu juga putih. Tapi kenapa kamu harus menghitamkan kulitmu? Dan juga harus memakai tahi latat palsu-dan juga kaca mata."


"Apakah kemarin kamu membuntutiku?" tanya Aisyah mencoba, untuk menebak.


"Ya. Aku membuntutimu kemarin. Selama ini ada saja kejanggalan yang aku temui, saat bersamamu, jadi aku memutuskan untuk menguntitmu kemarin. Dan maafkan aku, yang sudah lancang. Aku hanya penasaran. Alasan apa? Yang membuat kau, melakukan ini semua."


Aisyah menghela napas panjangnya, berusaha meredam rasa jengkelnya pada Rati-yang sudah lancang membuntutinya. Tatapan pada Rati, berbalik memandang jauh ke depan-ketika memory itu kembali teringat akan perjalan hidupnya yang harus mengubah identis dirinya, hanya agar dapat tetap bersama kedua putrinya.


"Aku melakukan ini semua, hanya agar dapat terus bersama kedua anakku."


Dua alis Rati bertaut, dengan rasa penasaran semakin membuncah pendengar jawaban dari Aisyah.


Aisyah tersenyum getir. Ada rasa aneh dalam diri wanita muda itu, dengan kata SUAMI yang diucapkan sahabatnya, Rati.


"Suami! Bahkan aku belum menikah sama sekali."


Sepasang mata itu-kini lebih membulat penuh pada Aisyah, mendengar apa yang baru saja dia katakan.


"Kalau kamu belum pernah menikah! Apakah kedua anakmu itu, hasil hubungan gelapmu, dengan seorang pria?" tanya Rati,yang mencoba untuk menebak.


"Hubungan gelap! Bahkan aku sama sekali belum pernah melakukan hal itu."


"Terus? Bagaiaman kamu bisa hamil? Kalau kamu tidak pernah melakukan hal itu! Dan siapa ayah, dari kedua putri cantikmu itu?" Rentetan pertanyaan segera dilontarkan Rati, yang sudah tidak sabar ingin mengetahui rahasia hidup sahabatnya.


"Presdir kita, Pak Aditya."


Mulut yang tengah menelan minuman, tersembur ke luar seketika karena rasa kagetnya-dengan jawaban yang diberikan Aisyah.

__ADS_1


"Presdir kita?! Pak Aditya?" Dan dia pun tertawa, karena menganggap jawaban Aisya itu, hanya sebuah candaan. "Ha...Ha...Ha... Bercanda boleh, tapi gak usah, lebai juga, Syah! Aku tahu Pak Aditya itu! Sangat tampan, bahkan semua wanita pasti sangat ingin dia menjadi suaminya. Tapi bukan berarti kamu harus membawa namanya, sebagai ayah dari kedua putrimu!"


Aisyah menyimpulkan senyuman kecilnya, mendengar a kata-kata yang ke luar dari mulut Rati.


"Memang ini sangat mustahil. Bagaimana bisa wanita dari kalangan biasa sepertiku, bisa memiliki anak dari seorang laki-laki kaya seperti Pak Aditya. Tapi itu-lah kenyataannya. Aku memiliki anak, dari Aditya Wirawan. Kami sama sekali tidak terlibat hubungan, atau-pun melakukan hubungan suami istri. Karena aku, adalah korban salah inseminasi, saat Pak Aditya ingin memiliki keturunan dengan cara itu."


"Apakah kau serius, Syah?" tanya memastikan, apa yang dikatakan teman baiknya itu.


"Aku sangat serius, karena tidak ada gunanya juga aku berbohong padamu, Rati!"


"Jadi kamu melakukan ini semua, agar dapat bersembunyi dari Pak Aditya?"


"Iya. Bertahun-tahun aku bersembunyi darinya-hingga kedua putriku, saat ini sudah berusia lima tahun. Tapi itu-lah! Hidup memang penuh misteri, karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang terjadi nantinya. Takdir membawa aku ke perusahaan ini. Saat aku melamar pekerjaan di sini, aku sama sekali tidak mengetahui, kalau ini adalah perusahaan dari Ayah kedua anakkku. Saat aku mengetahui kalau ini adalah perusahaan milik Pak Aditya! Aku ingin membatalkannya, tapi tidak bisa-karena aku sudah mentandatangani kontrak kerjanya."


"Maafkan aku, yang sempat berburuk sangkah padamu." Wajah Rati memucat, kala rasa bersalah timbul dalam diri gadis itu-mengetahui perjuangan sahabatnya, agar dapat terus bersama kedua putrinya.


Aisyah tersenyum tipis, mendengar apa yang dikatakan teman baiknya itu."Tidak apa-apa." Hening...Membiarkan beberapa menit berlalu, saat tak ada yang berbicara dari keduanya. Hingga tiba-tiba saja, dia menyeruhkan nama teman baiknya itu. ''Rati..."


"Ada apa, Syah?"


"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"


Menatap dengan intens manik hitam Aisyah, yang tengah memberi tatapan tajamnya.


"Apa yang kau inginkan dariku, Syah?"


"Aku mohon. Bahkan sangat memohon padamu, tolong jangan katakan pada siapa-pun tentang, siapa diriku sebenarnya. Dan aku minta, jangan panggil aku Aisyah, setidaknya kalau kita berada di perusahaan ini."


Rati tersenyum. Gadis berambut sebahu itu, sangat memahami kekhawatiran, yang tengah dirasakan teman baiknya.


Dua tangannya memenjarakan sepuluh jari Aisyah, berusaha menghilangkah rasa takut dalam diri Ibu muda itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti akan merahasiakan ini dari siapa-pun."

__ADS_1


__ADS_2