
Aditya memalingkan wajahnya pada arah, yang ditunjuk Istri-nya Aisyah.
Wajah yang tadi nampak biasa, seketika berubah serius, karena merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat di sana. Papanya, begitu akrab dengan kedua anaknya.
"Papa.." gumam Aditya pelan, namun dapat terdengar oleh Aisyah.
"Papa..Jadi pria itu adalah, Papa-Mu, Mas?"
"Iya. Dia adalah Papaku."
'Kalau begitu aku akan pergi menyapa nya," seru Aisyah dengan mengambil satu langkah, tapi harus gagal saat ayunan kaki selanjutnya tak dapat dia langkahkan, karena Aditya mencekal tangan-nya.
"Tidak usah ke sana! Karena pernikahan kita ini tidak disetujui oleh Papa-ku."
"Aku tahu itu, Mas! Dan dia menyetujui Mas menikahiku atau tidak, tetap saja dia adalah Papa Mertuaku. Dan aku akan menyapanya."
"Tidak! Aku tidak mau. Apakah kau mau, dia mempermalukan kau di depan banyak orang?!"
Aisyah mengukir senyuman kecil, mendengar setiap kata-kata, yang terlontar dari mulut Aditya.
Jemari tangan-nya menyentuh lembut punggung tangan pria itu, dan perlahan melepaskan-nya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Mas!" jawab Aisyah tersenyum, dan melanjukan langkah kakinya.
"Syah..." panggil Aditya dengan setengah teriakan, tapi tidak dihiraukan oleh sang Istri, yang terus mengayunkan langkah kaki itu.
Aditya menghela napas-nya yang panjang, dengan arah pandang, terus pria itu lemparkan pada Aisyah, yang sudah berlalu pergi.
"Semoga saja, Papa tidak mempermalukan dia di depan banyak orang. Dan jika dia sampai melakukan hal itu, maka aku akan mengusirnya dari tempat ini, sekali pun dia adalah Papaku," gumam Aditya dengan menekan kata-katanya.
Aisyah terus mengayunkan Langkah kaki-nya, yang membawa tubuh itu, kian mendekat di mana Papa Andi, dan kedua putrinya berada.
Saat jarak dirinya sudah semakin dekat dengan mereka, wanita berdarah Surabaya itu, berpura-pura menyeruhkan nama kedua putri-nya, agar sang Mertua dapat menyadari kedatangannya.
"Bella.....Sella..." panggil Aisyah, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan.
Arah pandang ketiga-nya, seketika beralih pada asal suara, dan tentu saja dengan ekspreasi wajah yang tentu-nya berbeda. Papa Andi langsung menunjukkan ekspresi tidak suka-nya, saat melihat kedatangan Aisyah. Berbeda dengan Sella, dan Bella, yang mengukir senyum bahagia.
"Mommy....." seru kedua-nya bersamaan.
"Opa...Itu Mommy kami," seru Sella dengan wajah antusiasnya.
"Bella, Sella, dari tadi Mommy dan Daddy menunggu kalian untuk berfoto," seru Aisyah saat sudah berbaur dengan kedua anak-nya, dan juga Papa Andi.
Dan arah pandang itu Aisyah lemparkan pada Papa Andi, yang hanya diam di sana. Aisyah melukis senyuman di wajah, walau pun Papa Andi memasang wajah datarnya.
"Hallo Papa..." Dengan meraih tangan pria itu, dan melabuhkan kecupan pada punggung tangan Papa Andi sebagai tanda hormatnya.
"Opa...Ini Mommy kami," ucap Bella saat sedari tadi, Papa Andi hanya diam membisu.
__ADS_1
"Iya Opa juga tahu!"
"Maaf Papa, karena aku baru menyapamu. Dan terima kasih, karena sudah hadir di pernikahan aku dan anakmu."
"Aku memang harus datang, karena Aditya adalah putraku!"
"Uhuuk....Uhuuk....Uhuuk...." Suara batuk seketika terdengar, yang mengalihkan tatapan mereka yang ada di sana.
"Daddy...." seru Bella saat mendapati keberadaan Ayah-nya.
"Mas..." seru Aisyah pelan.
"Hallo Papa.." sapa Aditya dengan langsung mengambil tempat disisi Aisyah, dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, dan tentu saja, hal itu memancing tatapan Papa Andi.
"Terima kasih sudah datang. Padahal, aku sempat berpikir kalau Papa tidak akan datang ke pernikahan anakmu ini," seru Aditya, dengan menampilkan senyuman sinisnya.
"Mas...Apa yang kau bicarakan?? Tidak baik bicara seperti itu," tegur Aisyah pada Suami-nya.
Dan tatapan mata itu beralih pada Papa Andi, yang menampilkan wajah penuh akan amarah.
"Papa....Jika Papa ingin menemui Bella, dan Sella datang-lah kemari, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," ucap Aisyah dengan memberi senyuman hangat, pada Ayah Mertuanya itu.
"Iya Opa...Lain kali, datang ke rumah ini lagi," rengek Sella dengan nada suara yang sedikit manja.
"Iya Opa, aku juga mau kalau Opa datang kemari lagi. Dan kalau datang, jangan lupa bawakan aku dan Sella ICE CREAM, dan juga BONEKA."
"Daddy yang akan membeli buat kalian!" celah Aditya cepat.
"Iya Daddy, kami mau Opa yang membawa itu untuk kami," ucap Sella cepat. Dan dua kaki kecil-nya melangkah lebih dekat dengan Papa Andi, dan bergelayut manja di sana.
"Opa...Besok datang lagi yaa..." ucap Sella memohon, dengan menampilkan wajah sedihnya.
"Sella..." seru Aditya yang tentu saja tidak menyukai apa yang dilakukan putri bungsunya, karena takut jika sang Ayah, akan menolak permintaam anaknya.
Papa Andi mengukir senyum hangat di wajah, dengan membelai lembut pucuk kepala Sella.
"Baiklah, besok Opa akan datang, dan Opa akan membeli apa yang kalian minta."
"Terima kasih Papa...Dan aku akan memasak yang enak untuk menyambut kedatanganmu besok," ucap Aisyah dengan wajah bahagianya.
"Sayang...."
Wajah mereka berpaling berpaling pada asal suara, dan di sana mendapati Karla yang yang menghunuskan dua matanya, karena tidak suka melihat kedekatan Papa Andi, dengan menantu dan juga Cucu-cucunya.
"Pulanglah, kalau tidak Istrimu itu bisa berulah lagi di sini." Aditya menampilkan smirk iblisnya, saat berucap pada Ayah kandungnya itu.
"Bella....Sella...Opa pulang dulu dan sampai ketemu besok. Dan Aisyah, kau nasihat Suamimu! Agar bersikap lebih sopan padaku!" seru Papa Andi dengan melemparkan tatapan tajamnya pada Aditya, dan berlalu dari tempat itu.
Aditya terkekeh pelan, merasa tidak percaya dengan ucapan yang baru saja Ayah-nya, ucapkan.
__ADS_1
"Mana mungkin aku bersikap sopan padanya, sementara sikapnya selalu membuatku muak!"
"Mas...Kau tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimana pun dia adalah Papamu."
"Sudahlah, Aisyah! Kau terlalu polos! Jadi tidak tahu bagaimana sikapnya dia saja," seru Aditya kesal, dengan berlalu begitu saja.
****
Angin meniup sedikit kencang, menerbangkan dahan-dahan, dan juga taburan daun kering yang berhamburan di bawah pohon yang besar.
Dua matanya menerawang jauh, saat kerinduan berhasil membuat goresan di hati itu, kembali ada.
Sesekali air mata itu dia usap, saat cairan bening itu luruh tanpa dia sadari sendiri.
"Nyonya...." Suara panggilan yang pelan yang menyeruhkan padanya, mengalihkan dunia Melinda seketika.
Memalingkan wajah pada asal suara, dan mengukir senyuman kecil yang nyaris tak terlihat, saat mendapati keberadaan Siti di sana.
"Aku merindukan anakku, Siti!"
Siti mengayunkan langkahnya, yang membawa diri itu kian mendekat pada-Melinda, yang sedang berdiri di pinggiran hutan, dekat dengan vila mewah milik Karla.
"Nyonya..." seru Siti pelan, saat mendapati mata sembab wanita berusia senja itu.
"Maaf," serunya tersenyum. Dan kembali melanjutkan ucapannya. "Apakah kau mencariku?"
"Iya Nyonya, dari tadi saya mencari anda."
Kening Melinda mengkerut, dengan sorot mata jauh lebih intens, saat mendengar apa yang disampaikan Pelayan muda itu.
"Apakah penting, Siti?"
"Sangat penting Nyonya!"
"Apa itu?"
"Saya tidak tahu, rencana ini akan berhasil atau tidak. Tapi tidak salah, kalau kita mencobanya. Besok Baron akan pergi beberapa hari dari Vila ini-untuk membeli keperluan yang sudah habis, dan kita akan memanfaafkan kesempatan ini agar anda dapat kabur, dari vila ini."
"Apakah kau yakin, akan berhasil?"
"Harus berhasil, Nyonya! Dan Setidaknya sampai Nyonya Karla kembali. Dan aku memiliki ini," seru Siti dengan menunjukkan sebuah bungkusan kecil, pada Karla.
"Apa itu Siti?"
"Obat tidur, Nyonya! Dan dosisnya sangat tinggi, dan aku sudah bekerja sama dengan Bibi Ima, agar kita melakukan rencana ini besok, setelah perginya Baron!"
"Tapi aku takut, setelah aku lolos-Karla akan melukai kalian," seru Melinda yang nampak ragu, dengan apa yang Sisi rencanakan.
"Jangan pikirkan kami, Nyonya! Tapi pikirkan diri anda dulu."
__ADS_1
Melinda mengukir senyuman, dengan hujan air mata akibat rasa haru-nya. Dua tangan itu dia lebarkan, menenggelamkan tubuh Siti dalam pelukan.
"Terima kasih Siti...Terima kasih...Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian," ucap Melinda dengan air mata yang terus tumpah.