
Mereka yang berada di sana, sangat begitu kaget, dengan apa yang dilakukan Karla pada Andi setiawan.
Sudah berlalunya Karla dari sana dengan mobil, tak diperdulikan lagi oleh Aditya, dan Mama Melinda.
"Papa... Bangun Papa...Bangun..." seru Mama Melinda, dengan mengguncang-guncangkan tubuh suami-nya, yang sudah bersimbah darah.
"Tuan Aditya.. Nyonya...Segera bawa Tuan Andi ke rumah sakit, kami akan mengejar Nyonya Karla!" ucap Brigadir Anto, dengan langsung melajukan mobil Polisi dengan kecepatan.
"Ayo Maa~Kita bawa Papa ke rumah sakit!" seru Aditya, dengan langsung mengangkat tubuh Ayah-nya, menuju mobil hitam, yang terparkir di sana.
****
Tak ingin tertangkap. Itu-lah, yang terlihat dari seorang Karla saat ini.
Mobil yang dia lajukan, di bawa kecepatan rata-rata.
Hingga nyaris tertabrak, atau-pun lampu berada tak luput dari dia.
"Aku tidak mau tertangkap. Aku tidak mau, ditangkap dan dipenjara," gumam Karla, denga wajah paniknya saat dua tangan-nya, memutar kekanan, dan kekiri bundaran setir mobil itu.
Lega yang sedari tadi dia rasakan, karena berhasil lolos dari Polisi yang akan menangkapnya, kini harus panik, dan juga takut yang dia rasakan kembali, saat Karla mendengar sirene dari Polisi. Panik, dengan raut wajah yang kian memucat. Mendengar suara itu, wajah Karla langsung berpaling ke arah belakang, dan betapa kagetnya wanita itu, dengan buliran keringat yang sudah membasahi dahi-nya kala dia berbalik ke belakang, Karla mendapati sebuah mobil Polisi yang sudah berada dengan jarak yang begitu dekat.
Serasa berat, kala luda yang akan tertelan. Wajah kian memucat, dan panik semakin menjadi.
Terdengar suara seorang Polisi dengan jarak yang begitu dekat, berbicara dengan Karla menggunakan alat pengeras suara.
"NYONYA KARLA, KAMI MINTA ANDA UNTUK BERHENTI, DAN MENYERAHKAN DIRI ANDA," seru salah satu petugas Polisi, dengan mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela mobil yang terus melaju.
Tak dindahkan, permintaan petugas Polisi itu-Karla justru makin mengencangkan lajuan kendaraan roda empatnya, hingga terjadi aksi kejar-kejaran dari dari mobil Polisi itu, dan kendaraan yang di kendarai Karla.
"Aku tidak mau masuk penajara..Aku tidak mau masuk penjara!" Panik yang kian menyelimuti, karena kendaan Polisi semakin berada dekat dengannya, hingga tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, kendaraan itu kian Karla lajukan dengan cepat.
Terus melajukan kendaan roda empat itu, dengan kecepatan di bawa rata-rata. Karena panik, sebab tak ingin ditangkap, Karla tidak memperhatikan jalan raya.
Sebuah truk besar melintas dari lawan arah. Karla begitu sangat panik, dan juga kaget, ketika mobil itu semakin dekat dengan-nya.
Kehilangan kendali, dengan cepat dia membanting setir mobil. Karla dapat terhindar dari truk besar itu, tapi malangnya wanita itu tak dapat menghindar sebuah pembatas jalan. Hingga mobil yang dia kendarai menabrak pembatas itu, dan terpental beberapa kali, dan rusak tak berbentuk.
Lalu lintas kendaraan macet seketika. Para petugas Polisi yang melakukan aksi kejaran dengan wanita itu, langsung bergerak cepat ke luar dari dalam mobil, dan berlari menuju mobil yang dia kendarai wanita itu.
__ADS_1
Dan saat mereka berusaha memantau situasi untuk memberi pertolongan pada wanita itu, sayang-nya Karla sudah meninggal. Ya! Ternyata wanita itu, meninggal di lokasi kejadian.
"Hubungi Ambulance sekarang! Wanita ini, sudah meninggal!"
"Baik Pak!" jawab salah satu anak buah, dari Brigadir Anto.
Nada panjang menyapa di gawai milik petugas Polisi itu. Ponsel yang berada di dalam genggaman, segera Brigadir Anto hadapkan pada kedua mata-nya.
Mendapati nama Tuan Aditya yang tertulis pada layar HP-itu, dengan segera Polisi muda itu, melabuhkan jemarinya pada icon hijau.
"Hallo..."
"Hallo Brigadir Anto! Bagaimana apakah wanita itu, sudah kalian tangkap?"
Pria itu mendesahkan napas-nya yang panjang, seraya mengusap keringat yang sedikit membasahi dahinya itu.
"Maaf Tuan Aditya! Nyonya Karla, meninggal. Kami sudah berusaha meminta dia, untuk mengundurkan diri, tapi Almarhumah sama sekali tidak mau, dan terus melajukan mobilnya. Hingga kecelakaan tak bisa terhindar, karena dia melajukan kendaraan dengan panik, dan kecepatan di bawa rata-rata."
"Baiklah, nanti baru kita bicarakan hal itu lagi, dan terima kasih."
"Sama-sama, Tuan!" jawab Brigadir Anto, dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.
****
Gawai yang berada di dalam genggaman-nya, langsung Aditya kembali masukkan ke dalam saku celananya. Menghembuskan napasnya yang dalam, dengan melemparkan tatapan matanya pada sang Bunda, yang terlihat resah saat menunggu Papa Andi yang tengah dioperasi.
Sedikit lama dia memandang, akhirnya Aditya melangkahkan dua kakinya menghampiri pada sang Bunda.
Tubuh itu langsung dia labuhkan disisi Mama Melinda, yang membuat wanita paruh baya itu sedikit kaget.
"Kau membuat kaget saja, Aditya!"
"Mama mengkhawatirkan Papa?" tanya Aditya yang bisa melihat wajah cemas, dari sang Bunda, yang sedari tadi nampak gelisah.
"Tentu saja, Mama khawatir pada Papamu, Adit!"
Aditya melukis senyuman kecil di wajah, mendengar jawaban yang diberikan sang Bunda.
"Apakah Mama tidak kecewa? Karena selama Mama tidak ada, Papa sudah menikah dengan Karla."
__ADS_1
Mama Melinda melukis senyuman kecil di wajah. Tatapan mata itu dia arahkan pada Aditya, yang masih menanti jawaban darinya. Menyentuh lembut tangan putranya, dan berucap pada pria itu.
"Papamu, adalah pria yang setia Aditya. Dan Mama tidak punya alasan untuk marah padanya, karena dia menikah dengan Karla-pun, karena dia pikir Mama sudah meninggal."
"Jadi Mama sama sekali tidak membenci Papa?"
"Tidak! Sama sekali tidak. Mama sama sekali tidak membenci Papamu. Kalau membenci, mana mungkin Mama mau menunggu dia operasi."
Senyuman hangat membingkai di wajah Aditya. Mendapati ketulusan sikap Ibu-nya, membuat pria itu merasa begitu bangga.
"Papa sangat beruntung memiliki Istri sepertimu, Maa..Bahkan sangat beruntung!"
"Terima kasih, anakku~Dan Mama juga sangat beruntung memiliki anak sepertimu,," jawab Mama Melinda dengan memberi senyuman tipisnya.
Hening melanda, saat keduanya sama-sama bungkam. Tapi tak berapa lama Mama Melinda kembali bersuara, saat teringat akan Karla, yang tadi lari dari kejaran Polisi, usai menembak suami-nya.
"Oh..Iya, Adit! Bagaimana kabarnya Karla? Apakah dia berhasil ditangkap?" tanya Mama Melinda, dengan menunjukkan rasa penasarannya.
"Dia sudah meninggal Maa!"
Menautkan kedua alisnya, karena kaget, dengan tatapan mata yang begitu tajam, pada sang putra.
"Meninggal?? Kau serius, Aditya?"
"Iya Maa.. Karena tidak mau ditangkap, Karla melajukan mobil-nua dengan kecepatan tinggi, dan dia menabrak pembatas jalan."
Mama Melinda mendesahkan napasnya yang berat, dengan menerawangkan tatapan mata-nya jauh, saat memory itu kembali menghantarkan wanita itu, pada masa-masa sulitnya di vila.
"Maa..Apa yang Mama pikirkan?" tanya Aditya tiba-tiba, membela lamunan Mama Melinda.
"Mama hanya teringat dengan masa, saat Mama berada di vila Adit! Di mana Karla, selalu berperilaku kasar, dan menjadikan Mama budaknya." Senyuman kecil, mata yang sudah nampak ber,embun.
KALAU ADA SALAH KATA, HARAP MAKLUM YAA..BESOK BARU AKU REVISI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.