
Senyum melukis di wajah Aisyah, dengan cucuran bening yang sudah kembali membasahi pipinya. Ada sedikit kekuatan dalam diri wanita itu- setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Simon.
"Aku yakin, aku sanggup melewati semuanya. Dan aku akan bersabar, demi terus bersama dengan kedua putriku, Sekretaris Simon!
Simon memberi senyumnya, pada Aisyah. Dua mata itu dia alihkan ke dalam rumah-saat sedari tadi dua kakinya memijak di kontrakan Aisyah-pria itu tidak mendapati adanya sosok Bella, dan Sella di sana.
"Di mana kedua putrimu, Aisyah?"
"Mereka sedang berada di dalam."
"Aku akan menemui mereka." Dengan menarik panjang satu kakinya,yang akan dia ayunkan ke dalam rumah. Baru saja satu kakinya akan membalas langkah kakinya- Simon segera urungkan saat Bella, dan Sella berlari kecil padanya, begitu mendapati keberadaannya di hunian sederhana itu.
"Paman Simon..." Wajah kedua gadis kecil itu nampak sumringah, begitu mendapati keberadaan sahabat Ibunya.
Simon mengukir senyum di wajah, dengan dua tangan yang dia buka lebar guna menyambut tubuh kedua putri Tuannya, yang tengah melangkah cepat padanya.
"Paman kapan kau datang? Kenapa kemarin kau tidak datang ke rumah?" tanya Bella dengan mimik cemberutnya, ketika dua mata itu dia arahkan pada Simon.
"Iya Paman! Kenapa kemarin kau tidak datang ke rumah? Dan apakah kau datang membawa mainan lagi untuk aku, dan Kakak?!" tanya Sella pula.
Simon tersenyum lebar, dengan mengacak-ngacak gemas rambut kedua gadis kecil itu-yang membuat dua wajah itu kian cemberut.
"Maaf, selama ini Paman sangat sibuk jadi baru bisa menemui kalian. Dan tujuan Paman ke sini, mau mengajak kalian ke suatu tempat."
Kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir Simon, seketika membuat air mata Aisyah, kembali menetes dari kedua sudut mata Aisyah. Karena dia akan benar-benar berpisah dengan kedua anaknya.
"Aku akan benar-benar berpisah dengan anak-anakku, Bibi!" ucap Aisyah pelan.
Asih melukis senyum tipisnya, dengan berbalut wajah iba melihat keadaan Aisyah saat ini, yang terlihat begitu rapu. Satu tangan itu Asih layangkan, memeluk pundak Ibu muda itu guna memberinya kekuatan.
"Kuatkan dirimu, Syah! Bibi yakin kau pasti bisa melewati semuanya."
"Apakah Bibi yakin, dengan apa yang dikatakan oleh Sekretaris Simon?"
"Bibi sangat yakin dengan apa yang dia katakan. Cepat atau lambat, kau pasti akan menyusul kedua putrimu. Jadi Bibi minta, kau bersabarlah."
Senyuman dia lukis palsu di wajah, dengan sebuah anggukan kecil di wajah-di tengah ketidakberdayaanya saat ini.
" Aku juga akan berdoa Bibi~Semoga saja suatu saat Tuhan akan membuka hati Tuan Aditya, agar dapat membiarkan aku hidup bersama dengan kedua putriku selamanya."
"Bibi sangat yakin, Tuhan pasti akan mendengar doa orang baik sepertimu, Syah!" Dan arah pandang mereka, kembali Asih, dan Aisyah arahkan pada Bella, dan Sella yang tengah berinteraksi dengan Simon.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Simon, membuat wajah kedua bocah itu! Sekilas saling menatap, dengan raut wajah yang sudah berubah penasarannya.
"Mau ke mana Paman Simon? Apakah mau mengajak kami bertemu dengan Daddy kami disurga?" tanya Sella dengan polosnya.
Simon membentuk senyuman di wajah, dengan dua mata yang begitu dia tenggelamkan, kala menatap pada kedua wajah polos di depannya.
"Apakah kalian berdua, sangat ingin bertemu dengan Daddy kalian?"
"Tentu saja kami sangat ingin bertemu dengannya, Paman Simon! Tapi Mommy bilang, surga itu sangat jauh. Dan kami tidak bisa ke sana."
"Kalian bersiaplah. Karena Paman akan mengajak kalian, bertemu dengan Daddy kalian."
Rona bahagia seketika menyelimuti wajah Bella, dan Sella begitu mendengar kata-kata yang terucap dari sahabat Bundanya.
"Benarkah itu, Paman?" tanya Bella yang terlihat begitu antusias.
"Iya Sayang... Jadi ayo bersiaplah, kita akan segera berangkat."
''Baik Paman.." jawab keduanya bersamaan, dan melangkah kaki mereka, pada sang Bunda.
"Mommy! Ayo kita bersiap-siap. Paman Simon akan mengajak kita pergi ke rumah Daddy!" ajak Sella.
"Kalian berdua pergilah. Mommy akan di sini."
Aisyah tersenyum getir. Rasa hangat menjalar seketika dalam dirinya, setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir putri pertamanya.
Tubuh itu sedikit dua bungkukkan, dengan jemari membelai lembut pucuk kepala Bella, yang menunjukan rasa kecewanya saat tahu, kalau Mommynya tidak akan ikut.
"Pergilah. Bukankah kalian sangat ingin mengetahui bagaimana rupa Daddy kalian?"
"Tapi aku tidak mau pergi tanpamu, Mommy!" rajuk Bella lagi.
"Mommy janji. Mommy akan menyusul kalian nanti ke rumah Daddy."
"Apakah kau janji Mommy?" tanya Bella dengan wajah yang terlihat antusias.
"Iya Sayang! Mommy janji. Mommy pasti akan menyusul.
"Baiklah Mommy, aku pasti akan menunggu. Kalau kau tidak datang, aku pasti akan menangis."
"Iya Sayang..." jawab Aisyah tersenyum.
__ADS_1
"Mommy! Apakah wajah Daddy kami sangat tampan?" tanya Sella tiba-tiba.
"Daddy kalian sangat tampan. Dan wajahnya sangat mirip denganmu, Sella! Dan ayo kita bersiap-siap, agar kalian segera berangkat ke rumah Daddy."
"Baik Mommy.." jawab keduanya bersamaan, dengan melangkah beriringan bersama Ibunda mereka, ke dalam rumah.
****
Rona bahagia terpancar jelas di wajah Bella, dan Sella saat kendaraan beroda empat itu membela jalan lalu lintas yang masih terlihat ramai.
Sesekali tertawa, dan juga bersenda gurau mewarnai perjalanan Bella, dan Sella saat menuju rumah Daddy mereka.
Simon melukis senyum tipis di wajah-dengan dua mata yang dia lemparkan pada Bella, dan Sella lewat kaca spion mobil. Ada rasa iba dalam diri pria itu-mendapati kepolosan kedua gadis kecil itu-yang sama sekali tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi antara kedua orang tua mereka.
"Kedua anak ini pasti mengirah, mereka terlahir karena cinta. Dan sama sekali tidak tahu, kalau mereka terlahir dari suatu kesalahan. Dan semoga saja ini merupakan takdir dari yang maha kuasa, yang sudah mengatur Nona Aisyah untuk menjadi jodoh dari Tuan Aditya," bathin Simon.
"Paman! Apakah ini mobil Daddy kami?" tanya Sella tiba-tiba, yang membela seketika lamunan Simon.
"Iya. Ini mobil Daddy kalian.
"Kalau seandainya kita bersama Mommy, pasti akan jauh lebih seru," ucap Bella.
"Kau tidak perlu khawatir, Kakak! Nanti kalau sudah sampai di rumah Daddy, aku akan meminta padanya agar mengajak Mommy juga."
"Ya, karena aku mau Mommy juga diajak."
Kesunyian melanda dalam mobil, kala kedua bocah itu mengakhiri perbincangan mereka.
Sama-sama tenggelam dalam suasana, dengan apa yang mereka pikirkan. Bella larut dalam suasana rindu pada sang Bunda, sementara Sella melemparkan pandangannya menikmati keindahan kota Jakarta, lewat kaca jendela mobil yang terbuka lebar. Mobil terus melaju, dan melaju. Beberapa putaran merekan lewati, dengan waktu yang sudah melewati dua puluh lima menit kemudian. Mobil mewah yang membawa mereka, sudah berbelok arah memasuki sebuah bangunan berlantai tiga, dengan bangunan khas hunian Eropa.
"Paman.. Apakah ini rumah Daddy kami?" tanya Sella dengan melongohkan wajahnya, saat mendapati rumah yang begitu mewah tersaji di depan matanya.
"Iya. Ini rumah Daddy kalian."
"Kakak.. Rumah Daddy kita sangat mewah! ucap Sella dengan wajah antusiasnya.
"Ya...Ya...Tapi akan lebih bagus, kalau ada Mommy!"
"Kau tenanglah Kakak! Nanti aku akan meminta pada Daddy, agar kita menjemput Mommy! Bukankah tadi aku sudah janji, padamu!"
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan kemudian pintu itu dia bukakan untuk kedua putri Tuannya.
__ADS_1
"Ayo kita masuk! Daddy kalian pasti sudah menunggu."