
Bahagia. Itu-lah gambaran suasana hati seorang Aditya Wirawan saat ini. Mengingat bagaimana usahanya selama ini? Dirinya mencari keberadaan seorang Aisyah, hanya untuk mengambil anaknya.
Wajahnya terus Aditya lukiskan senyuman. Tapi senyum itu seketika memudar, kala tiba-tiba saja Aditya baru menyadari kalau dirinya belum mempersiapkan kamar untuk kedua anaknya.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan itu? Karena terlalu bahagia, aku jadi melupakan kamar untuk kedua anakku," gumam Aditya dengan segera beranjak dari duduknya.
Dua kaki itu Aditya ayunkan, menyusuri rumahbesarnya- dengn wajah dia palingkan kekiri dan kanan, mencari keberdaan para pelayan rumahnya.
"Di mana mereka? Apa yang sedang mereka lakukan? Hingga jam begini tak ada satu-pun, yang terlihat," gumam Aditya.
Melangkah.. Dan melangkah. Dua kakinya terus Aditya ayunkan, yang membawa tubuh pria itu menuju taman belakang rumahnya.
Kesal seketika memenuhi wajah tampan pria itu- saat dari jauh dia mendapati beberapa pelayan rumahnya sedang duduk berkumpul, dan berbincang kecil di sana.
Menghembuskan napas tegasnya, saat sesak di dada berusaha dia hempaskan akibat rasa kesalnya. Dua kaki yang berpijak, segera Aditya ayunkan, yang membawa tubuh pria itu kian mendekat dengan pelayan-pelayan rumahnya.
Tidak menyadari kehadirannya-membuat pengusaha tampan itu sengaja berpura-pura batuk, hanya untuk memberitahukan kedatangannya.
"Uhuukk... Uhuukk..." Batuk pura-pura Aditya.
Wajah-wajah itu seketika mereka palingkan pada asal suara. Kaget! Seketika memenuhi wajah pelayan-pelayan muda itu, saat mendapati keberadaan Majikannya.
Seketika bangun dari duduknya, dan berjejer rapi menatap pada Aditya, yang tengah menghunuskan dua netra matanya para pelayan rumahnya itu.
"Apakah kerjaan di rumah ini sudah habis?! Jadi kerjaannya kalian, hanya bergosip saja. Kalau aku tidak datang! Mungkin kalian akan terus bergosip, tanpa melakukan tugas kalian," hardik Aditya.
"Maafkan kami, Tuan! Maafkan kami," jawab mereka bersamaan.
"Di mana Bibi Ani?!" t
"Saya di sini, Tuan!" Ani berbicara sedikit jauh, dengan langkah kaki yang dia ayunkan pada sang Tuan yang berada di tengah taman. " Ada apa, anda mencari saya Tuan?" tanya Ani kemudian, saat sudah berada dekat dengan pria itu.
"Aku ingin kau lebih tegas, dengan mereka. Kau lihat apa yang mereka lakukan?! Bukankahnya bekerja?! Tapi malah bergosip!"
Ani menghembuskan napas panjangnya. Sekilas dua mata itu-Ani lemparkan pada anak-anak buahnya, yang masih menundukkan wajah mereka.
"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya. Saya janji akan lebih, tegas lagi pada mereka."
__ADS_1
"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Tapi tidak dengan lain kali!"
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan! Dan kalau boleh tahu? Ada hal apa? Yang membuat, anda mencari saya."
"Saya ingin kau menyiapkan kamar, untuk kedua putriku. Dan jangan satu ranjang, aku ingin ada dua ranjang di kamar mereka. Dan catat apa-apa saja? Yang kau butuhkan untuk melengkapi kamar kedua anakku."
Apa yang dikatakan Aditya-sangat mengejutkan untuk para pelayan rumahnya. Bagaimana bisa Tuannya yang tidak pernah menikah? Dan tidak memiliki kekasih sama sekali? Tiba-tiba saja memiliki anak.
"Anak? Sejak kapan Tuan Aditya memiliki anak?" gumam Sisi pelan, yang seketika dilanda rasa penasarannya.
"Iya. Bagaimana bisa Tuan memiliki anak? Bahkan pacar saja dia tidak punya. Apakah mungkin, Tuan Aditya memiliki anak bersama Nona Citra? Hanya selama ini, dia merahasiakannya." timpal pelayan yang lain, dengan berbisik pelan.
"Baik Tuan! Saya akan segera mempersiapkan kamar buat kedua anak anda," jawab Ani.
"Segera siapkan! Karena kedua anakku, sedang dalam perajalanan kemari."
"Baik Tuan!"
Setelah perginya sang Majikan, arah pandang Ani beralih pada beberapa pelayan yang sudah berhamburan, dan melangkah padanya dengan raut wajah penasaran mereka.
" Bibi Ani! Sejak kapan Tuan Aditya memiliki anak?" Sisi segera melontarkan pertanyaan, saat mendapati Tuannya sudah berada jauh dari mereka.
"Jika kalian bertanya, maka jawabannya adalah tidak tahu. Bibi saja sangat kaget, saat Tuan Aditya mengatakan kalau kedua anaknya akan datang kemari."
"Aku sangat penasaran. Siapa wanita yang sudah melahirkan anak dari Tuan Aditya? Pasti wanita itu sangat cantik, dan mungkin saja dia adalah istri Tuan Aditya yang dia sembuyikan," timpal salah satu pelayan, yang bernama Paula.
" Iya mungkin saja," timpal yang lainnya.
"Sudahlah jangan bergosip terus. Sisi! Paula! Ayo ikut Bibi. Kita ke lantai dua, untuk menyiapkan kamar buat anak-anak Tuan Aditya."
"Baik Bibi!" jawab keduanya bersamaan, dengan segera melangkahkan dua kaki mereka, mengikuti langkah kaki Ani-yang sudah terlebh dahulu pergi.
****
Aisyah menerawangkan dua mata itu-kala tatapan mata itu dia lemparkan begitu jauh, dengan pandangan kosongnya.
Sesekali punggung tangannya-menyeka air mata itu, saat teringat kembali perkataan Aditya, yang akan segera mengambil kedua putrinya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?? Aku tidak mau berpisah dengan anakku, aku tidak mau berpisah dengan mereka..Aku tidak bisa..." gumam Aisyah, dengan tetesan bening yang terus saja tumpah.
Linangan air mata terus tumpah, yang mewakili betapa rapunya seoang Aisyah Maharani saat ini. Mendung yang menghiasi wajahnya, seketika berubah dengan raut wajah sedikit tegang- saat diri itu dilanda pertanyaan, siapakah yang sudah membocorkan jati dirinya pada Aditya?
"Sebenarnya siapa yang sudah mengatakan pada Tuan Aditya? Kalau wanita yang dia cari selama ini, adalah Cleaning Service yang bekerja khusus membersikan ruangannya." Dan kemudian Aisyah pun tenggelam dalam dunianya, kala memikirkan jawaban apa yang dia tanyakan pada diri sendiri.
"Mungkinkah Sekretaris Simon? Atau Rati? Bukankah hanya mereka berdua, yang mengetahui siapa aku?" gumamnya kemudian.
Hening...Hening...Hingga tiba-tiba diri itu, dikejutkan dengan kemunculan kedua putrinya, yang menyeruhkan dirinya.
"Mommy..." seru Bella, dan Sella bersamaan.
Tak ingin kedua putrinya mengetahui kalau dirinya sedang menangis-Aisyah segera mengusap air mata itu, sebelum wajahnya dia palingkan pada kedua putrinya.
"Kalian sudah pulang? Dari tadi, Mommy menunggu kalian."Melukis senyum palsunya, agar mereka tahu kalau dirinya baik-baik saja.
Mendapati Aisyah yang sudah berada di rumah, diwaktu yang masih siang, membuat Asih seketika dilanda rasa penasaran.
Dua kaki yang berpijak, segera dia ayunkan melangkah menghampiri pada Aisyah yang duduk di kursi samping jendela
"Ini masih, siang. Tapi kau sudah pulang kerja. Bukankah biasanya kau akan pulang, pada sore hari Aisyah? Dan kenapa matamu nampak memerah?"
Aisyah tersenyum getir. Mata beningnya sudah nampak berkaca-kaca, dengan datangnya pertanyaan dari Asih, yang membuka kesedihan itu.
"Aku sudah tidak bekerja di sana lag, Bibi!"
"Memangnya kenapa? Apakah kamu melakukan kesalahan, hingga membuat dirimu dipecat, Syah?!" Kerutan di pupil mata Asih kian menumpuk, akan rasa penasarannya yang kian menjadi dalam diri wanita paruh baya itu.
Tak ingin kedua putrinya tahu-kalau dia tengah menangis, Aisyah segera melenggangkan dua kakinya ke luar dari dalam rumah, menuju teras depan saat air mata itu telah kembali lolos.
"Oma.. Sepertinya tadi Mommy menangis," seru Bella tiba-tiba.
"Iya Oma! Aku juga melihatnya. Sepertinya, Mommy sedang bersedih," timpal Sella pula.
Asih ikut melemparkan dua matanya. Melihat raut wajah Aisyah yang terlihat murung, dan mendengar kalau dirinya dipecat-wanita tua itu menyimpulkan, kalau Aisyah tengah menghadapi masalah yang sangat serius.
"Kalian berdua tunggu di sini, Oma akan berbicara dengan Mommy kalian."
__ADS_1
"Baik Oma..." jawab keduanya bersamaan.