
Hampir satu jam-Aisyah menghabiskan waktunya, di kamar mandi guna membersikan diri. Membutuhkan waktu sedikit lama bagi Ibu muda itu-jika harus membersikan crem hitam, yang menutupi kulit aslinya, hingga benar-benar bersih, yang kembali menampilkan kulit aslinya. Sangat melelahkan! Tapi dia tidak punya pilihan.
Aisyah melemparkan sepasang matanya pada arah ranjang, di mana kedua putrinya sudah terlelap dengan tidurnya. Mengukir senyum kecilnya, senyuman yang syarat akan makna.
Melebarkan daun pintu lemari- menjangkau set pyama bermotif floral, dan membalutkan ke tubuh polosnya- setelah menanggalkan handuk yang menyembunyikan tubuh mungilnya.
Suasana sepi yang menyelimuti, saat tidak terdengar lagi suara celotehan kedua putrinya, membuat Aisyah memutuskan untuk menikmati pemandangan malam lewat jendela kamarnya.
Hembusan angin sedikit tertiup kencang-kala udara malam menerobos masuk ke dalam kamar, lewat daun jendela yang sengaja dia lebarkan. Wajahnya menengadah jauh, menatap jutaan bintang yang menyinari awan yang sudah tertutup gelapnya malam.
Hembusan napas itu- terdengar berat, kala bayangan sang Bunda seketika melintas. Rindu seketika menyelimutinya, pada wanita yang sudah menghadirkan dirinya.
"Aku sangat merindukanmu, Ma.. Sangat-sangat merindukanmu. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah memberimu luka secara tak sengaja." gumamnya, tersenyum getir.
Hening... Hening... Hingga beberapa menit telah berlalu, kala diri itu semakin tenggelam dalam rasa rindu yang sangat menyiksanya.
Tatapan mata itu ber,alih pada saku celananya, di mana tersimpan ponsel miliknya.
Menelusupkan jemarinya, guna menjangkau benda pipih itu.
Bola mata itu sudah berkabut, seraya terselimuti rasa ragu,
saat diri itu hanya menatap, tanpa segera menghubungi sang Bunda. Cukup lama Aisyah tenggelam dalam suasana hatinya, akhirnya perlahan jemari itu- mulai bergerak pelan di sana, mencari nomop Hp sang Bunda, yang masih dia simpan.
Menghembuskan napas panjangnya berusaha mengehempas jauh rasa ragu itu, saat memberanikan diri untuk mengubungi Ibunya.
"Semoga saja nomor HPnya masih aktif." gumam Aisyah penuh harap, saat benda piph itu telah menempel pada daun telinganya.
Nada panjang mulai terdengar, saat sambungan telepone pada nomor ponsel Ibunya, terhubug.
Dirinya yang belum siap, untuk kembali berbicara dengan sang Bunda, membuat Aisyah seketika memutuskan sambungan telepone saar baru terucap kata "Hallo!" diseberang sana.
"Nomor Hpnya, Mama! Ternyata masih aktif sampai saat ini."
****
Mama Anita melabuhkan tubuhnya pada tepian ranjang, dengan air mata yang tak henti-hentinya, membasahi kedua pipinya- memikirkan dirinya yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan sang putri saat itu. Penyesalan yang tak berkesudahan, itulah yang dia rasakan saat ini.
"Maafkan Mama Aisyah... Maafkan Mama. Mama begitu merindukanmu. Sangat merindukanmu, putriku! Bagaimana keadaanmu saat ini, Syah? Mama sangat menyesal, sangat menyesal karena saat itu, tidak mempercayai ucapanmu. " gumamnya, dengan isak tangis yang terus terdengar.
__ADS_1
Nada panjang seketika terdengar pada ponsel miliknya, yang memecahkan suasana sedih wanita itu.
Tangannya mengulur panjang disana, menjangkau HPnya yang berada sedikit jauh.
Sorot matanya seketika intens, dengan lipatan dahi semakin menumpuk- ketika sepasang matanya mendapatkan nomor asing di sana. Dan tanpa ragu, Mama Anita segera mendaratkan ibu jarinya di sana.
"Hallo..." Baru sapaan Mama Anita ucapkan, sambungan telepone itu sudah diputuskan.
N,tah kenapa? Dorongan dalam diri wanita itu-begitu kuat, memintanya, untuk kembali menghubungi balik nomor asing itu. Jemarinya bergerak di atas layar HP miliknya, untuk menghubungi nomor asing itu kembali.
Nada panjang terdengar pada ponsel milik Mama Anita- saat beberapa detik berlalu, sambungan telepone itu juga belum terjawab. Membiarkan beberapa menit berlalu- Mama Anita memutuskan untuk menghubunginya kembali.
Dan saat kata "Hallo!" baru menyapa diseberang sana, cairan bening kembali menumpuk disepasang mata wanita tua itu-mendengar suara yang sangat tidak asing, untuknya.
"Aisyah! Ini kamu, Aisyahkan?! Ini kamu putriku-kan?" Beruntun pertanyan terlontar dari bibir Mama Anita, yang meyakini kalau itu suara putri tertuanya.
"Iya Maa...Ini Aisyah. Aisyah sangat merindukan Mama, dan maafkan Aisyah Maa... Mafkan Aisyah yang sudah membuat Mama kecewa."
Isak tangis itu terdengar pilu, dan begitu menggores di hati wanita berusia senja itu, saat kata "Maaf!" Terdengar dari putrinya.
"Kenapa harus minta maaf, Nak?! Sebenarnya Mama yang harus minta maaf padamu, karena tidak mempercayaimu saat itu, padahal kau berkata jujur. Maafkan Mama Aisyah... Maafkan Mama."
"Iya. Mama sudah mengetahui kebenarannya. Dan Mama sangat menyesal. Dan Mama sangat minta maaf untuk itu, Aisyah! Mama sangat minta maaf, karena tidak percaya dengan apa yang kau katakan saat itu."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Maa.. Aku yakin, akan ada kebahagian dari semua ini."
"Terima kasih, Nak! Kau memang anaknya yang baik. Dan katakan pada Mama, sekarang kau berada di mana?"
"Aku...." Nada itu terdengar ragu, kala bibir itu akan menjawab apa yang ditanyakan sang Bunda.
"Mama janji, tidak akan mengatakan pada siapapun, Syah! Dan Mama juga tahu, kalau pria itu selama ini mencarimu."
"Aku sekarang, berada di jakarta Maa.."
"Jakarta?"
"Iya. Aku sekarang berada di Jakarta."
"Dan bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja, Nak?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Syukurlah Nak.. Mama jadi lega mendengarnya. Karena selama ini, Mama sangat mengkhawatirkan dirimu."
"Maa, aku tutup teleponenya. Nanti baru kita sambung lagi. Aku ingin istrahat, karena besok aku harus masuk kerja."
"Baiklah, Nak! Dan sering-sering-lah beri Mama kabar."
"Tentu, Maa.." Dengan langsung memutuskan sambungan telepone itu.
****
Daun telinga yang sedari tadi Sarah tempelkan pada badan pintu, seketika gadis itu jauhkan- usai perbincangan sang Bunda, dan saudaranya ber,akhir.
Bermaksud memanggil Ibunya-untuk makan malam, tak sengaja Sarah mendengar percakapan via telepone Ibunya, dan Kakaknya Aisyah.
"Jadi selama ini, Kak Aisyah berada di Jakarta?" guma mnya. Seringai jahat seketika menyelimuti gadis itu, saat muncul ide licik dalam dirinya.
"Aku akan memberitahukan informasi ini, pada Tuan Aditya... Dan tentu saja, ada imbalannya. Dan aku yakin, pasti dia akan memberi aku uang yang sangat banyak, karena selama ini dia mencari Kak Aisyah." Rona bahagia menyeimuti wajah gadis itu, dan segera melangkah jauh dari kamar Ibunya.
****
JAKARTA
Hari baru telah kembali menyapa, kala mentari telah memberi senyumnya, dengan hadirnya kicauran Burung yang bernyanyi, menyambut pagi yang indah.
Walapun takutjika saja identitasnya akan terkuak, tapi keadaan membuatnya mau, tidak mau harus menjalani kewajibannya, sebagai tenaga bersih-bersih yang ditugaskan membersikan ruangan Presdir.
Sudah berada di dalam lift, Aisyah segera mendaratkan jemarinya pada angka dua puluh. Pintu lift yang akan tertutup, seketika gagal- saat ada tangan yang terselip ke dalam.
Sepasang matanya seketika ter,arah pintu itu. Wajah tegang menyelimuti wajah cantik Ibu muda itu, ketika mendapati keberadaan Aditya-dan juga sekretarisnya Simon.
Tidak nyaman bagi seorang Aisyah saat ini, dengan posisi yang begitu dekat dengan seorang Aditya Wirawan. Tapi lagi-lagi, keadaan membuat wanita berambut panjang itu, tak berdaya.
Takut- tapi berusaha untuk tetap tenang, agar tidak mencurigakan, untuk kedua pria itu. Dan memutuskan untuk menyapa keduanya, yang nampak mengacuhkan keberadaannya.
"Selamat pagi, Pak.. Selamat pagi Sekretaris Simon..." Aisyah menyapa dengan ramah, dibingkai pula dengan senyuman manisnya.
"Pagi." jawab Aditya datar, dengan tatapan tetap lurus ke depan, tanpa sedikitpun memalingkan wajah pada Aisyah.
__ADS_1
"Pagi juga Anisa..." Simon balik menyapa pada Aisyah, dengan menghadirkan senyuman hangatnya.