
Papa Andi menghela napas dalam-nya. Begitu sesak dia rasakan dadanya saat ini-karena tidak menyangkah, kalau anak satu-satunya dia harapkan, akan menikah dengan wanita yang bukan pilihannya.
Gawai yang berada dalam genggaman tangannya, kembali Papa Andi simpan di atas meja. Dan saat wajah itu memaling, tanpa sengaja pria paruh baya mendapati raut wajah Karla, yang sudah tidak secerah tadi.
"Kau baik-baik saja?!" tanya Papa Andi tiba-tiba, yang membuyarkan suasana hati Karla yang tentunya, sedang tidak baik-baik saja.
"A...Aku baik-baik saja," jawab Karla terbata, seraya menampilkan senyuman palsu itu.
Papa Andi sedikit menurunkan wajahnya, untuk memastikan kejujuran ucapan istrinya, sebab pria itu mendapati mata istrinya yang nampak sembab.
"Kenapa matamu, memerah Karla? Apakah kau baru saja menangis?" tanya Andi lagi, hingga membuat diri Karla sedikit gelagapan, karena tertangkap oleh suaminya.
"Aku baik-baik saja Sayang...Dan aku sama sekali tidak menangis."
"Kau yakin? Tapi matamu, nampak memerah," Papa Andi masih melontarkan pertanyaannya, sebab belum yakin dengan jawaban istrinya, yang menurutnya tidak jujur.
Senyuman palsu Karla lukis di wajah, seraya menggandeng mesrah sang Suami, yang masih menunjukkan rasa penasarannya.
"Aku tidak berbohong, Sayang..." seru Karla dengan nada suara, yang terdengar manja.
Hening melanda kamar itu, saat keduanya sama-sama bungkam, menikmati dunia mereka masing-masing. Apalagi Karla, yang sedang terluka dengan pernikahan pria, yang begitu dia cintai. Hingga tiba-tiba saja dia bersuara, saat menemukan ide untuk membuat Aisyah tidak memiliki Aditya.
"Sayang..." panggil Karla, saat Papa Andi sedang menarikan jari-jarinya, pada HP milik-nya.
"Ada apa?" Sekilas melemparkan pandangan pada Karla, dan kembali mengalihkan tatapan itu pada layar gawai itu
"Apakah tidak ada cara? Agar Aditya, tidak jadi menikahi wanita miskin itu."
Papa Andi menghela napasnya panjang. Kegiatan bermain ponselnya pria itu hentikan seketika, saat diajukan pertanyaan, yang kembali mendatangkan emosinya.
"Kau tahu, kan? Bagaimana sikap Aditya itu. Kau bisa melihat selama ini, aku berusaha keras menjodohkan dia, dengan wanita pilihanku. Tapi selalu saja, berakhir dengan keributan antara kami."
"Bagaimana kalau kita bunuh saja, wanita itu?!"
Andi terkekeh pelan. Pandangan itu seketika dia fokuskan pada Karla, karena sedikit kaget dengan dengan masukan dari istrinya, yang sama sekali tidak ada dalam pikirannya.
"Karla...Karla...." Dengan menggelengkan kepalanya, menatap tidak percaya pada istri mudanya itu.
"Sejahat-jahatnya aku, aku tidak akan sampai yang namanya membunuh. Tapi yang jelas, aku tidak pernah akan mengakui wanita itu, sebagai menantuku."
"Jadi kau tetap akan membiarkan pernikahan ini terjadi??"
__ADS_1
"Ya. Sudah seperti yang aku bilang sebelumnya, kau tahu kan bagaimana sikap Aditya itu?"
"Terus besok kau akan menghadiri, pernikahan mereka Sayang?"
"Ya. Karena aku sangat penasaran dengan rupa wanita itu, dan juga anak dari Aditya."
Karla memaksa untuk membentuk senyuman di wajah, berusaha menutupi sesak yang begitu menghimpit dadanya, akibat rasa sakit hati yang sulit untuk digambarkanm
"Kenapa harus wanita itu? Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku, yang menjadi istri dari Aditya," bathin Karla. Sebab sesungguhnya saat ini, wanita itu sangat tidak rella Aditya, berdampingan dengan wanita lain, selain dirinya.
****
KEDIAMAN ADITYA
Matahari telah kembali memberi senyum indah-nya, saat hari baru kembali menyapa, dengan cerahnya cuaca yang menyambut pagi. Burung-burung bernyanyi merdu, juga hinggap ke sana, kemari seolah mereka pun turut ikut merasakan bahagia, dengan hadirnya sang surya, yang sudah kembali menenggelamkan gelap.
Sepasang Nuri yang hinggap di salah satu dahan, menggoyangkan kepalanya ke sana-kemari, saat sepasang mata mereka, memantau suasana ramai yang berada di hunian mewah, yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Dia terlihat begitu gagah, dengan aurah nya yang mampu membius siapa saja, saat memberi tatapan pada-nya. Stelan jas berwarna hitam membalut di tubuhnya yang sempurna, ditemani dasi kupu berwarna senada yang kontras dengan kemeja putihnya.
Sesekali wajah itu membentuk senyuman, saat para pemburu berita mengambil gambar dirinya, atau-kah colega yang sekedar menyapa. Tapi nyatanya hati itu saat ini sedang gelisah-karena pengantin wanita belum juga turun.
Suara musik melow menyapa diacara pernikahan itu, hingga bisikan-bisikan para tamu undangan terdengar, dan juga lemparan mata mereka seketika berbalik arah, saat kedatangan pengantin wanita yang diapit-oleh kedua malaikat yang cantik, dengan balutan gaun putih yang membalut tubuh mungil mereka.
"Wah pengantin wanitanya, ternyata sangat cantik!"
"Mereka, adalah pasangan yang serasi," ucap yang lain pula.
Aisyah melangkah...Dan melangkah dengan anggunnya, di apit kedua gadis kecilnya, yang tak pernah memudar sama sekali senyum di wajah mereka.
Pandangan itu langsung Aditya lemparkan pada jalan yang sudah di bentuk, dengan bunga-bunga mawar itu menghiasi sepanjang jalan, menuju arah pelaminan
Kelopak matanya, tak ada kedipan sama sekali di sana-seolah dia baru melihat wanita tercantik dimuka bumi ini.
Mengusap kasar wajah itu, dan begitu hanyut dengan dunia-nya, dengan lemparan senyuman yang berikan Aisyah, dan itu kian menenggelamkan diri-nya.
"Sepertinya, aku yang akan kalah," bathin Aditya yang begitu terbuai dengan pesona kecantikan calon istrinya.
Kini kedua nya sudah bertatapan. Aisyah melukis senyuman di wajah, dan menyeruhkan Aditya dengan nada yang lembut, dan itu semakin menggetarkan hati- yang semakin menggoyahkan imannya.
"Mas..."
__ADS_1
****
Janji suci pernikahan Aisyah, dan Aditya sedang berlangsung, didampingi dua gadis kecil mereka yang setia berada disamping kedua orang tuanya.
Rentetan cahaya kamera para Wartawan tak henti-hentinya, mengabadikan moment bahagia Aisyah, dan Aditya.
Seketika suasana riuh terjadi diacara itu, saat kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu oleh para Wartawan, dan siapa lagi kalau bukan Andi, dan juga istri-nya Karla.
"Tuan...Apakah kami bisa meminta waktu anda sebentar?!"
"Maaf, kalian bisa mewancarai aku setelah selesai pernikahan anakku selesai, " ucap Papa Andi, saat dua kaki itu terus dia langkahkan memasuki area pesta, dengan Karla yang setia menggandeng dirinya.
Saat sudah berada di dalam pesta, pasangan Suami-Istri itu langsung berhamburan mengambil tempat duduk, dibarisan para tamu undangan.
Saat tubuh itu sudah berlabuh di atas kursi, arah pandang Papa Andi dia lemparkan ke depan, dengan tatapan yang begitu intens.
Terlihat jelas kemarahan di wajah tuanya, tapi tidak mungkin dia luapkan di depan semua orang.
"Aku tidak menyangkah, anakku akan menikah dengan wanita, yang tidak sederajat dengan keluargaku. Aditya...Aditya, apakah tidak ada wanita lain lagi?" bathin Papa Andi, dengan raut wajah yang terlihat begitu frustasi.
"Seandainya aku bisa membunuh wanita ini saat ini juga, mungkin sudah aku melakukan saat ini. Tapi itu? Aku harus di penjara," gumam Karla dalam hati.
Arah pandang Papa Andi yang sedari tadi dia fokuskan pada Aditya, dan juga Aisyah kini berpindah pada dua sosok gadis kecil, yang memegang gaun pengantin yang dipakai Aisyah.
"Siapa kedua gadis kecil ini? Pasti diantara salah satu dari mereka, adalah anak dari Aditya," gumam Papa Andi.
"Cucu-cucu anda, sangat cantik-cantik Tuan Andi!" seru tiba-tiba salah satu tamu undangan, yang duduk berdekatan dengan pria paruh baya itu.
"Cucu-cucu apa yang anda maksud Tuan Loard?!" tanya Karla cepat, yang tidak mengerti maksud ucapan pria asing itu.
"Bukankah kedua gadis kecil itu, adalah cucu anda. Mereka kembar, tapi tidak memiliki wajah yang sama," jawab pria berkebangsaan Inggris itu, dengan membentuk senyuman.
Papa Andi, seketika melemparkan pandangannya ke arah depan, saat merasa penasaran. Dia, dan Karla nampak sama-sama kaget, karena mereka hanya mengetahui-kalau Aditya memiliki satu anak saja.
Papa Andi begitu memfokuskan dua matanya, pada Sella, dan Bella yang berada di depan sana.
Tatapan itu begitu dalam, saat merasakan tiba-tiba ada sesuatu yang memasuki dirinya.
Selama ini Papa Andi begitu mengidamkan memiliki seorang putri, selain kehadiran Aditya dalam hidupnya, tapi kini pria itu, dikaruniai dua cucu perempuan sekaligus, dan mereka begitu cantik, hingga tanpa dia sadari wajah itu melukis sebuah senyuman.
"Cucu-cucuku, aku tidak menyangkah Aditya memiliki anak yang begitu cantik-cantik," gumam Papa Andi dalam hati.
__ADS_1