
Aditya terkekeh pelan, akan teriakan Ayahnya yang begitu memecah, di dalam ruang kerjanya. Dan dia sangat yakin, kalau Ayahandanya-saat ini benar-benar murka padanya.
"Kau sudah sangat keterlaluan, Aditya! Apakah kau tidak memikirkan nama baik Papa?! Dan bagaimana kalau Tuan Gery, sampai mengetahuinya?! Mau taruh di mana muka Papa ini?" Dengan intonasi suara masih meninggi.
Aditya membentuk smirk iblisnya, mendengar keluh sang Ayah yang hanya memikirkan nama baiknya.
"Apa perduliku? Dan kenapa tidak Papa saja, yang menikah dengan Jeni? Dan apa aku mengatakan, iya? Kalau aku mau, menikah dengan putri sahabatmu. Papa, dan Tuan gery saja yang terlalu bersemangat," seru Aditya santai, yang kian membangkitkan emosi pria paruh baya itu.
"Kau sangat keterlaluan, Aditya! Asal kau tahu! Sampai kapan pun, Papa tidak akan pernah mengakui, anakmu sebagai cucuku."
Tawa lepas ke luar dari bibir sang pengusaha, setelah mendengar kata-kata, yang terucap dari bibir Ayah-nya.
"Papa....Papa.. Aku sama sekali tidak butuh, Papa harus mengakui anakku, sebagai cucumu. Mereka sudah bahagia, bersamaku dan Ibunya, jadi bagiku pengakuanmu-itu, tidak terlalu penting. Dan aku minta, Papa jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku. Karen Papa pun harus berkaca, apakah dulu saat kau menikah dengan Sekretarismu, Papa ada meminta persetujuanku, sebagai anakmu? Tidakkan?! Jadi aku minta, jangan mencampuri urusan pribadiku, urus saja istrimu yang tidak tahu diri itu!"
"Kau memang anak yang sangat keras kepala, Aditya!" ucap Papa Andi dengan keras, dan berlalu begitu saja dari ruangan itu.
Tubuh yang duduk dengan tegak, seketika bersandar pada kursi kebesarannya, setelah pergi sang Ayah. Wajah itu terlihat lelah, sebab serasa beban untuk Aditya- yang selalu saja bertengkar dengan Ayahnya, saat pria itu memutuskan menikah lagi.
"Anda baik-baik saja, Tuan?!" Hening yang melanda sesaat, membela-dengan pertanyaan yang baru terlontar dari bibir Simon.
Mendesahkan napas panjangnya, seraya melemparkan pandangan menatap pada Sekretarisnyam
"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah, karena selalu bertengkar dengan siTua itu!"
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja terdengar dentingan pesan pendek, yang masuk ke dalam ponsel milik Simon. Dengan cepat jemarinya menelusup ke dalam saku jasnya, dan membaca pesan yang dikirim Jeni. Dan ternyata tanpa sepengtahuan Aditya! Pria itu sedari tadi, berkirim pesan dengan anak dari pengusaha kaya itu.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Di restorant XX."
"Oke!" balas Simon, dengan l kembali memasukkan gawai miliknya ke dalam saku jas.
Usai berkirim pesan dengan Jeni-Simon segera melangkahkan dua kakinya, menuju meja kerja Tuanya- untuk berpamitan.
"Tuan..." panggilnya pelan.
Tubuh yang bersandar, dengan mata terpejam dia buka perlahan, setelah mendengar panggilan itu.
Menatap Simon intens, saat pria itu sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Maaf Tuan, saya minta ijin untuk ke luar sebentar."
Tubuh itu Aditya tegakkan, dengan tatapan penuh pada Simon, setelah mendengar permintaannya.
"Kau mau ke mana, Simon?! Apakah kau akan menemui kekasih?" tuduh Aditya, pada Sekretarisnya itu.
"Iya," jawab Simon yang lebih memilih untuk berbohong.
Aditya terkekeh, setelah mendengar jawaban yang terucap dari bibir Sekretarisnya. Ada rasa menggelitik dalam diri pria itu, mengetahui kalau Sekretaris sudah memiliki seorang kekasih.
"Aku tidak menyangkah! Kalau pria kaku sepertimu, ternyata bisa meluluhkan hati wanita juga. Siapa wanita yang tidak beruntung itu, Simon?!" tanya Aditya, dengan terus menertawakan Sekretarisnya.
"Itu rahasia Tuan! Sebenarnya tadi, saya ingin melabuhkan hati ini pada Nona Aisyah."
Senyuman memudar seketika, dengan wajah yang sudah berubah tegang, mendengar jawaban yang terucap dari bibir Simon.
"Apa tadi kau bilang?!" Dengan intonasi suara, sudah mulai meninggi.
"Nona Aisyah adalah wanita yang baik, Tuan! Dan juga sangat keibuan, jadi jika saja dia menerima cinta saya, mungkin saja saya akan langsung menikahinya."
"Hampir apa Tuan?" tanya Simon, dengan menampilkan senyum tipisnya.
"Pergilah! Dan sampaikan salamku, dan katakan pada kekasihmu kalau mendapatkan-mu, adalah musibah!" tegas Aditya.
Simon mengulum senyum. Dan dia sangat yakin, kalau Tuannya itu, telah jatuh cinta pada Ibu dari anak-anaknya
Dan dia semakin yakin, kalau tindakan yang akan dia lakukan ini, sangat benar! Walau pun, dia harus berkhianat pada Bosnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!"
"Pergilah! Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi dari tadi?!"
"Kalau begitu saya pamit, Tuan!" pamit Simon, dengan langsung mengayunkan langkah kakinya, berlalu dari ruangan itu.
****
__ADS_1
RESTORANT XXX
Simon melemparkan pandangannya jauh, menatap pada sebuah restorant mewah, di depannya. Mendesahkan napas berat-nya, saat akan melangkahkan dua kakinya, masuk ke dalam restorant itu, untuk bertemu Jeni.
"Maafkan saya, Tuan! Hanya ini satu-satunya cara agar anda segera menikahi Nona Aisyah, yaitu membeberkan pada orang lain-kalau anda sudah memiliki anak, dan tinggal tanpa sebuah status dengan seorang wanita," gumam Simon, dan segera mengayunkan langkah itu.
Sudah berada di dalam restorant, Simon segera mengedarkan pandangannya ke segalah penjuru arah, dan mendapati Jeni tengah sudag menunggunya di meja nomor sebelas, seraya sibuk memainkan gawai miliknya.
Dua kaki itu segera Simon ayunkan, yang membawanya pada meja nomor sebelas itu.
"Selamat siang, Nona Jeni!" Simon langsung menyapa, pada Jeni yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
Wajah itu menengadah seketika, dan mendapati keberadaan Sekretaris, seorang Aditya Wirawan. Gawai yang berada dalam genggaman itu-segera Jeni letakkan di atas meja, dan menampilkan mimik seriusnya.
"Katakan! Apakah kau ingin menyampaikan pesan dari Tuanmu, yang sombong itu?!" Dengan gaya-nya yang angkuh, Jeni segera melontarkan pertanyaannya pada Simon.
Simon menampilkan senyuman mencemoohnya, pada wanita di depannya, setelah mendengar apa yang dia tanyakan. Simon sangat tidak menyangkah! Kalau gadis lulusan dari salah satu universitas di Amerika itu, memiliki kepercayaan diri yang begitu besar.
"Kau sangat salah, Nona Jeni! Bahkan Tuan Aditya sama sekali tidak mengetahui, kalau aku bertemu denganmu."
Memuncak seketika amarah itu, tapi berusaha dia redam-karena merasa harga dirinya begitu ter'injak saat ini.
"Katakan padaku. Untuk apa kau mengajakku bertemu?! Karena aku sama sekali tidak ada waktu, untuk orang sepertimu!" tanya Jeni, dengan nada yang terdengar tengah menahan amarah.
"Berhentilah berharap pada Tuan Aditya. Karena beliau sudah memiliki wanita spesial, bahkan juga sudah memiliki anak."
Kaget menyelimuti wajah Jeni, begitu dia mendengar apa yang baru saja Simon sampaikan padanya.
"Anak? Jadi maksudmu Aditya sudah memiliki anak?"
"Iya, bukankah tadi sudah kukatakan. Bahkan kini mereka tinggal satu atap, dengan dua anak mereka."
"Jadi maksudmu, Aditya tinggal satu atap dengan seorang wanita, dan sudah memiliki anak, tapi belum menikah?" tanya Jeni yang kian penasaran.
"Ya. Tapi aku yakin, sebentar lagi mereka pasti akan menikah, jadi aku minta berhenti berharap-lah pada Tuan muda Aditya. Dan juga katakan hal ini pada Ayahmu, agar membatalkan perjodohan itu. Dan aku rasa semuanya sudah jelas, dan kalau begitu aku permisi dulu," pamit Simon, dengan segera berlalu dari dalam restorant.
Simon menampilkan senyuman di wajah, saat dua kaki itu membawa tubuhnya, terus berlalub dari dalam restorant.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, kalau Nona Jeni pasti akan menyebarkan berita ini pada media. Dan besok pemberitaan tentang Tuan Aditya, akan sangat heboh! Dan di situ aku akan mendesak-nya, agar menikahi Nona Aisyah, karena hanya ini jalan satu-satunya supaya nama baik mereka kembali pulih," gumam Simon.
..