SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
Bertemu pertama kali.


__ADS_3

Karla menampilkan smirk iblisnya. Cintanya yang begitu besar pada Aditya! Membuat wanita itu harus menahan sakit di hatinya- kala pengusaha tampan itu mengeluarkan kata-kata, yang begitu menusuk. Tapi karena cinta yang begitu besar pada Aditya- membuat Karla membutahkan mata, dan menulikan telinganya.


"Aku memang wanita sakit jiwa. Dan kau tau, apa yang membuatku seperti ini?" Dengan menjeda kalimatnya, menatap dalam akan sakit yang terselip di dalamnya. " Itu karenamu, Adit! Karena perasaanku, yang begitu besar padamu. Dan aku rasa kau'pun tahu itu."


"Kau itu hanya terobsesi padaku. Apakah masih kurang? Dengan apa yang diberikan Papaku selama ini. Kemewahan, dan juga kedudukan kau dapatkan dalam hidupmu, yang dulu hanyalah seorang sekretaris biasa. Dan setelah kematian Ibuku, kau yang menjadi Nyonya di rumah ini. Apakah itu semua masih kurang, untukmuKarla?!"


Karla menyeringai jahat, dan dalam dirinya menertawakan Aditya habis-habisan- yang dianggapnya begitu bodoh! Karena sama sekali tidak menyadari, kalau Ibunya, Melinda' masih hidup hingga saat ini.


"Kau, dan Papamu memang benar-benar adalah pria yang bodoh. Bahkan kalian tidak tahu, kalau wanita yang begitu kalian cintai, masih hidup hingga saat ini. Dan aku jadikan dia sebagai pelayanku. Pelayan..Seumur hidupku." bathin Karla menyeringai rendah- pada Aditya yang tengah menatapnya dengan membunuh.


"Aku menikahi Ayahkmu! Semata-mata hanya untuk menaikkan statusku. Kau tahu, Adit! Sangat tidak meng'enakkan, hidup dalam kesusahan. Karena kau, tidak pernah merasakan dalam hidupmu. Dan selama ini, aku hanya berpura-pura mencintai Papamu. Karena yang sesungguhnya yang kucintai..Adalah dirimu."


Aditya terkekeh pelan. Menatap pada Karla, dengan tatapan mencemooh.


"Kalau begitu, belajarlah mencintai Papaku. Karena yang aku tahu, Papaku begitu mencintaimu. Dan percuma kau mengejarku, karena aku sama sekali tidak tertarik. Dan sama sekali tidak akan pernah tertarik, sekalipun kau itu bukan istri siapapun." Mempertegas nada ucapannya, yang membuat wajah Karla mendung sesaat.


Karla tersenyum getir. Ucapan Aditya, serasa membela hatinya- yang selama ini hanya dia berikan buat pria tampan itu. Seringai di wajahnya, kini berbalut sebuah luka, tapi karena cinta- dia akan menambalkan kembali.


"Apakah karena wanita itu?"


Sorot mata tajam, tergantikan dengan tatapan intensnya- mendengar ucapan Karla yang sulit dia pahami.


"Maksudmu??"


Karla terkekeh. Sorot matanya nampak begitu tajam- yang terlihat jelas dari kilatan api sudah berkobar dikedua matanya, saat kecemburuan yang seketika mencuat.


"Kau sudah benar-benar melupakan dia? Atau hanya berpura-pura melupakannya. Dan jika kau memang sudah melupakannya, maka aku akan mengingatkan. Wanita yang kumaksud adalah, mantan tunanganmu-Citra Gunawan. Wanita yang sudah meninggalkanmu, dengan alasan yang tidak jelas. Dan mungkin'kah karena akan hal itu, yang membuatmu trauma- untuk menjalin suatu hubungan? Hingga kau melakukan inseminasi, hanya untuk memiliki keturunan. Tapi sayangnya..Kau belum menemukan wanita itu. Padahal hanya untuk memiliki keturunan saja, aku bisa memberikan padamu, Adit!"

__ADS_1


Memerah kian merangkak naik, di wajah tampan Aditya. Genggaman tangan semakin membungkus, dengan wajah sudah menegang, saat emosi dalam diri semakin mengusai pria itu.


"Cukup, Karla! Cukup. Dan jika saja aku tidak memandang kau sebagai istri Papaku, mungkin mulutmu itu-sudah kurobek."


Simon meng'ayunkan kedua kakinya menelusuri taman samping rumah, ber-alaskan rumput hijau hijau yang menjalar sepanjang jalan. Sepasang matanya mengedar kesegalah arah, saat dua mata itu mencari keberadaan Tuan mudanya. Hembusan napasnya begitu berat, akibat kesal mendapati keberadaan Tuannya, bersama Ibu tirinya.


"Wanita ini, benar-benar sakit jiwa." gumam Simon, dan kembali meng'ayunkan langkah kakinya yang tadi dia hentikan.


"Permisi, Tuan! Nyonya Karla.." sapa Simon, yang seketika mengalihkan tatapan keduanya. Dan pandangan itu beralih pada Tuan mudanya. "Maaf, Tuan! Kita harus segera pulang-karena masih ada janji dengan Tuan Okikawa, untuk membahas mengenai proyek baru."


"Baiklah, kita akan pulang sekarang. Karena sangat tidak penting bagiku, untuk menghabiskan waktu berlama-lama di rumah ini." seru Aditya, dengan melirik pada Karla yang diam membisu.


"Sayang, kau di sini? Dari tadi aku mencarimu." Suara itu seketika mengalihkan tatapan mereka semua. Andi kembali mengayunkan langkah kakinya- menghampiri pada sang istri yang sedang bersama putranya, Aditya! Dan Simon, di taman samping rumahnya."


Aditya menyeringai kecil, mendapati wajah Karla yang sudah terlihat memuca. Saat Andi melangkah menghampiri pada mereka.


"Papamu sangat mencintaiku, Adit! Dan cintanya itu, sudah membuat dia menjadi pria bodoh. Dan tentu saja, dia tidak akan menaruh curiga padaku sekalipun mendapati keberadaan kita berdua. Karena di matanya-rasa sayangku ini, adalah rasa sayang seorang Ibu kepada putranya."


Tidak ada yang berbicara, diantara mereka- saat langkah kaki Papa Andi semakin mendekat. Menghampiri pada sang istri, dan memberi kecupan singkat di pucuk kepala istrinya. Melingkarkan tangannya, memeluk pinggang ramping Karla.


"Aku kira kau sudah berada di kamar. Ternyata kau berada di sini."


"Istrimu, mencariku Papa..." Smirk iblis menyelimuti wajah tampan Aditya, mendapati wajah Ibu tirinya yang seketika berubah pucat, mendengar ucapan Aditya barusan.


"Kau mencari Aditya?" Sorot mata Andi seketika menatap penuh pada putranya, yang terselip penasaran.


Karla melepaskan tawanya. Dan tentu saja itu untuk menutupi kegugupan, saat sorot mata sang suami menatapnya dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Ha...Ha...Ha...Sayang, aku mencari keberadaan Adit! Semata-mata hanya untuk membicarakan masalah bisnis. Karena kau'pun tahu, kalau putramu ini sangat hebat dalam dunia usaha, dan aku rasa aku harus belajar banyak darinya." Seru Karla, berusaha meyakinkan suaminya dari keraguan.


Sorot mata curiga, seketika tergantikan dengan tatapan penuh cinta, yang dia berikan pada sang istri Dan sekali lagi! Pria tua itu, termakan kebohongan Karla, kala cinta yang sudah begitu besar.


"Maafkan aku, yang sudah berburuk sangkah padamu." Melukis senyum tipisnya, dengan pelukan semakin dia eratkan- pada pinggang ramping Karla, yang mengukir senyum tipisnya.


Tatapan Aditya begitu tajam, saat sorot mata itu intens pada Ibu tirinya. Emosi kian memupuk di dalam diri pria itu, yang selalu gampang membodohi Papanya, dengan wajahnya munafiknya.


"Dasar wanita, licik! Iblis! Wajahnya, benar-benar membuatku muak." bathin Aditya.


****


Dua Hari Kemudian


Mentari kembali menampilkan senyum. Saat gelap, kembali meredup, dan menghilang bersama bulan dan bintang, yang semalam memberi terangnya-pada awan yang tertutup gelap. Cahaya hari ini terlihat begitu cerah, secerah wajah cantik Aisyah yang bersembunyi di balik cream hitam itu. Wajahnya nampak berseri-seri, saat dua kaki itu melangkah memasuki area Company Group, sebuah perusahaan, yang bergerak dibidang eksport, dan import.


Langkah kaki Aisyah, begitu bersemangat kala dua kaki semakin membawanya- pada gedung pencakar langit itu. Ayunan kaki Aisyah memelan, saat pandangan para karyawan wanita, semua tertuju padanya. Hingga membuat diri itu, seketika bagai bunga yang layu, saat menyadari keadaan dirinya.


"Mungkinkah mereka terus melihatku, karena aku jelek? Dan juga berkulit gelap?" gumam Aisyah, dengan jemari membenahi bingkai kaca mata yang sedikit turun dari hidung mancungnya.


"Aduhh! Dia sangat tampan..." Salah satu karyawan wanita terus menampilkan senyumannya. Dengan senyuman, yang begitu mengagumi.


Menyerngitkan keningnya, dengan wajah seketika dilanda rasa penasaran, mendengar karyawan wanita, yang mengatakan "Aduhh! Dia sangat tampan."


"Dia sangat tampan? Kalau begitu, mereka bukan memandang diriku." gumam Aisyah. Dan wajah itu seketika berpaling ke arah belakang, untuk mencari tahu apa yang dilihat dari karyawan wanita itu.


Kaget! Bahkan Aisyah, begitu sangat-sangat kaget, hingga membuat wajah itu, seketika kembali berpaling, dengan wajah yang sudah berubah pucat.

__ADS_1


"Tuan Aditya..." gumamnya.


__ADS_2