SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
TIBA DI RUMAH ADITYA


__ADS_3

Setelah perginya Simon dari dalam kamar, Aditya kembali melemparkan pandangannya pada Bella, yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


Senyuman dia lukis di wajah, dengan menatap penuh kasih sayang pada sang putri.


"Terima kasih Daddy! Terima kasih, karena Daddy sudah mau membawa Mommy ke sini."


"Sama-sama Sayang... Dan kalau begitu makanlah."


Bella mengangguk kecil, dengan senyuman yang dia lukis di wajah, karena rasa bahagianya yang akan kembali bertemu dengan sang Bunda.


"Daddy.." panggil Sella tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Apakah setelah Mommy datang kemari? Daddy akan menikah dengan Mommy?"


Kaget, dengan wajah yang sedikit memucat setelah mendapat pertanyaan dari putri bungsunya, yang tentu saja sangat jauh dari apa yang dia pikirkan. Bahkan tidak ada sama sekali dalam benaknya, kalau harus menikahi Aisyah sekali pun dia Ibu dari kedua anaknya.


"A..Apa yang kau bicarakan Sella? Daddy tidak mengerti."


Sella seketika tertawa geli, mendapati wajah sang Ayah yang sudah berubah mewah.


"Kenapa mesti malu, Daddy? Bahkan wajahmu nampak memerah, itu berarti Daddy mau menikah dengan Mommy kami."


"Itu berarti, kau dan kakakmu-Bella sebentar lagi akan memilki adik bayi- Sella!" timpal Sisi dengan wajah yang terlihat begitu antusias, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putri bungsu Tuannya.


"Apa yang kau bicarakan Siti?! Apakah kau sudah bosan bekerja di sini?" Aditya sedikit berteriak, akibat rasa tidak sukanya dengan apa yang baru saja dikatakan salah satu pelayan rumahnya.


"Ma..Maafkan saya, Tuan.." jawab Sisi menunduk, akIbat takut dengan tatapan tajam Tuannya.


Tak ingin dusuguhi lagi dengan pertanyaan aneh dari putrinya, Aditya memutuskan untuk menghindar dengan pergi ke kamarnya.


"Daddy akan kembali ke kamar, untuk mandi. Setelah itu Daddy akan kembali ke sini. Dan mata itu dia arahkan pada Ani, yang masih setia memegang mangkok yang masih berisi penuh bubur.


"Bibi Ani! Lanjutkan menyuapi Bella, aku akan kembali ke kamar," pamit Aditya dengan segera berlalu pergi.


****


Bulan, dan bintang menjadi saksi biksu menyaksikan butiran bening yang sudah kembali membanjiri dua pipi Aisyah. Rindu ini begitu menyiksa, dan dia tahu sampai kapan pun tidak bisa terobati.


Senyuman dia lukis di wajah, dengan lemparan mata yang Aisyah arahkan pada bintang, dan bulan yang memancarkan cahayanya begitu indah awan biru yang sudah tertutup gelap.


"Mommy sangat-sangat merindukan kalian berdua. Apa kabar kalian berdua anakku? Semoga saja kalian berdua tidak akan pernah melupakan Mommy, walau-pun kalian sudah mendapatkan apa yang selama ini tidak pernah kalian dapatkan, selama bersama Mommy," gumamnya.


Tetesan bening yang sudah kering, kembali membasahi kedua pipi Aisyah. Isak tangis terdengar, dengan getaran bahu yang terlihat nyata saat tak mampu lagi membendung lagi kesedihannya.

__ADS_1


Hening... Hening... Sunyi begitu melanda dalam kamar, dengan hanya terdengar suara tangis itu. Hingga memecah, dengan suara ketukan pintu.


Air bening yang membasahi kedua pipi itu, segera Aisyah usap cepat dengan dua kaki yang dia ayunkan pada pada pintu rumah.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" tanya Aisyah pada diri sendiri, dengan dua kaki yang dia ayunkan.


Ketika dua kakinya sudah berpIjak di depan pintu, Aisyah tidak langsung membukanya. Perasaan was-was menyelimuti Aisyah seketia, saat berpikir mungkin saja orang jahat..


"Siapa di sana?" tanya Aisyah, untuk mengetahui siapa yang sudah bertandang ke rumahnya.


"Ini aku Simon, Aisyah!" jawabnya dengan setengah teriakan.


Mendengar suara Simon, dengan cepat Aisyah segera membuka pintu rumah yang terkunci itu.


"Sekretaris Simon, kau!" Dengan bola mata lebih membulat, sebab tidak menyangkah pria itu akan bertandang malam-malam ke kontrakkannya.


"Bolehkan aku masuk?" tanya Simon, saat sudah beberapa detik berlalu Aisyah tak kunjung mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam kontrakkannya.


Terkesiap, dengan membentuk senyum kikuknya akibat malu dengan kelakuannya sendiri. "O..Oh maaf, masuklah!" Dengan menepikan tubuhnya, membiarkan Simon untuk masuk ke dalam rumah.


Kedua sama-sama diam, saat tubuh keduanya sudah berlabuh pada masing-masing kursi.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Simon, yang mengawali pembicaraan mereka setelah beberapa menit berlalu.


Senyuan dia lukis palsu. Wajah itu nampak sudah terlihat mendung, dan menunduk seketika agar kesedihan itu tak terlihat oleh Simon.


"Jangan bersedih lagi. Sebab aku membawa kabar gembira untukmu."


Wajah itu menengadah seketika, dengan netra mata yang penuh dia tatapkan pada Simon setelah mendengar apa yang pria itu katakan.


"Berita bahagia?"


"Iya. Tuan Aditya memintaku untuk menjemputmu. Dia menginginkan, kau tinggal di rumahnya. Walau-pun melewati banyak drama."


"Kau serius? Tuan Aditya meminta aku tinggal di rumahnya?" Kelopak matanya berbinar, akibat rasa bahagia yang teramat sangat.


"Aku sangat serius . Sekarang juga ambil pakaianmu, dan kIta berangkat sekarang. Kasian Bella, dan Sella mereka sangat merindukanmu."


Air mata bahagia pun luruh dari kedua pelupuk mata Aisyah, mendengar kalau kedua putrinya SANGAT MERINDUKANNYA


Mengangguk cepat, dengan bangkit melangkah menuju kamarnya.


****


Hening melanda dalam mobil, yang tengah melaju dengan kecepatan sedang. Diri itu seketika banyak dihampiri tanda tanya, bagaimana bisa seorang Aditya yang begitu membencinya, memintanya untuk tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Resah yang sudah menyelimuti, membuat Aisyah segera memberondong pertanyaan pada Simon yang tengah melajukan kendaraan roda empat itu.


"Sekrearis Simon.." panggil Aisyah tiba-tiba.


"Ada apa? jawabnya dengan sekilas menatap pada Aisyah, lewat kaca spion mobil.


"Aku takut..." lirih Aisyah.


"Takut??"


"Tentu saja aku takut. Kau bisa melihat bagaimana dia memperlakukan aku, dengan mengatakan kalau aku tidak akan bertemu dengan kedua anakku selamanya. Tapi bagaimana bisa dia tiba-tiba berubah? Bahkan baru beberapa hari."


Senyuman Simon ukir di wajah, dan dia sangat memahami kekhawatiran Aisyah-mengingat bagaimana perlakuan Aditya padanya, yang sama sekali tidak menginginkan Aisyah bertemu dengan dua anaknya.


"Dia memang tidak menginginkanmu berada di rumahnya, tapi dia tidak bisa melawan keinginan kedua putrinya."


"Jadi??"


"Ya. Ini keinginan Bella, dan Sella. Jadi kau harus pintar mengambil hatinya."


Dua alis Aisyah bertaut, yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Simon katakan.


"Maksudmu apa Sekretaris Simon? Aku tidak mengerti."


"Maksudku, meluluhkan hatinya. Mungkin saja, kau bisa membuat Tuan Aditya jatuh cinta padamu."


Tawa lepas seketika ke luar dari mulut Aisyah , begitu mendengar apa yang baru saja Simon katakan, yang tentu saja tidak pernah terpikirkan sama sekali olehnya.


"Membuatnya jatuh cinta padaku?"


"Iya. Memang ada yang salah dengan apa yang aku katakan?"


"Tentu saja. Membayangkan saja, aku sangat tidak mau. Jadi itu tidak akan pernah terjadi."


"Apa kau sangat membenci Tuan Aditya?"


"Sangat. Bahkan aku sangat membencinya."


"Tuan Aditya juga sangat membencimu. Apakah kau lupa dengan kata-kata, kalau benci, dan cinta itu beda tipis."


"Ya. Itu mungkin berlaku bagi orang lain, tapi tidak denganku."


"Kalian akan hidup satu atap, dan aku yakin lambat laun rasa cinta itu akan tumbuh diantara kalian berdua."


"Sudahlah Sekretars Simon, jangan membicarakan itu lagi. Membayangkan saja, sudah membuatku muak!" jawab Aisyah kesal.

__ADS_1


Hening melanda kembali. Setelah pembicaraan ber,akhirnya pembicaraan Simon, dan juga Aisyah. Hampir dua puluh menit keduanya berada di dalam mobil mewah itu, akhirnya tiba juga mereka dik kediaman pengusaha kaya itu.


"Buat apa kau masih berada di dalam?" tanya Simon, kala pintu mobil sudah terbuka lebar, Aisyah masih beta berlama di dalamnya.


__ADS_2