SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
TANYA ADITYA PENUH CURIGA


__ADS_3

Sepert biasanya Aisyah akan melakukan tanggung jawabnya, yang membersikan ruangan Presdir, Aditya Wirawan.


Satu tangannya melambai-lambai pada dinding kaca, saat membersikan debu yang menempel pada dinding itu.


Wajah yang biasa menunjukkan semangat empat limanya saat bekerja, saat ini nampak tak terlihat cerianya sama sekali.


Mengetahui Ibu dari sahabatnya sakit keras! Membuat pikiran itu mengambang. Dan Aisyah sama sekali tidak menyadari, kalau dari tadi Aditya tengah memperhatikannya.


" Culun ini! Benar-benar melatih kesabaranku. Sepertinya, dia sudah bosan bekerja di sinni." Dengan menekan kata-katanya, akan emosi yang sudah mulai memuncak.


Tatapan mata itu terus Aditya lemparkan pada Aisyah, yang masih dengan kegiatannya yang sama, yaitu mengelap dinding kaca. Tak ada perubahan yang terjadi yang Aditya dapati sedari tadi, membuat pria itu seketika berteriak dengan keras pada Aisyah.


"Hei Culun..." Suara panggilannya terdengar sangat menggema, yang seketika mengalihkan tatapan Simon yang juga berada di situ.


"A..Ada apa Tuan? Eh! Maksud saya Pak!" Terbata, dengan wajah kagetnya.


Menyeringai, dengan tatapan yang begitu tajam dari pada Aisyah saat mendengar jawaban wanita itu.


"Sebenarnya aku yang harus menanyakan itu padamu. Apa yang kau pikiran? Hingga sudah hampir setengah jam, tapi pekerjaanmu tidak ada yang beres. Apakah kau sengaja berlama di dalam ruangan ini, agar dapat bersamaku?"


"Tidak Pak! Anda sangat-sangatlah salah. Saya tidak pernah berpikir seperti itu."


"Terus kenapa dari tadi, kau nampak tidak bersemangat begitu? Apakah kekasihmu baru saja memutuskan hubungan denganmu?"


"Kekasih?" Sorot mata Aisyah seketika nampak lebih intens, saat mendengar apa yang dikatakan Presdir tampan itu. "Saya tidak memiliki kekasih, Pak!" ucapnya kemudian.


Mendengar jawaban yang ke luar dari bibir Aisyah, sontak membuat Aditya tertawa lebar. Mengingat rupa buruknnya wanita itu- mana ada pria yang mau menjadi kekasihnya.


"Kenapa aku begitu bodoh?! Sebenarnya aku harus berpikir sebelum bertanya, tentang hal itu. Dan tentu saja mana mungkin, kau bisa memiliki kekasih. Melihat rupa seperti itu, mana ada pria yang mau menjadi pacarmu."


Tatapan biasa Aisyah-seketika berubah tajam, saat kemarahan menyelimuti dirinya, yang kesal dengan kata-kata yang terucap dari bibir Aditya, yang begitu merendahkannya. Tanpa memikirkan pria itu adalah Bos-nya, Aisyah kembali membalas ucapan Aditya, dengan kata-kata yang tak kalah pedas.


"Saya akui, saya memang jelek. Tapi setidaknya, mulut saya tidak seperti anda. Laki-laki! Tapi kok! mulutnya, kaya perempuan!" Dengan memberi senyum, mencemoohnya, pada pengusaha tampan itu.


Aditya begitu kaget, dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Aisyah. Lelaki itu sama sekali tidak menyangkah, kalau bawahannya itu- akan berani mengatai dirinya seperti itu. Kobaran api terlihat jelas di dua iris mata hitamnya, akan api amarah yang sudah membakar tubuh.


"Tadi kamu bilang apa?! Mulut aku seperti wanita! Kamu berani mengataiku, Culun! Apakah kamu sudah bosan bekerja di sini?!"


Raut wajah Aisyah sontak memucat. Wanita itu merutuki kebodohannya sendiri, yang sudah berani mengatai Presdirnya yang memiliki sifat begitu arogant.

__ADS_1


"Aduh! Kenapa aku begitu bodoh! Kenapa karena kesal ? Aku jadi tidak menyadari, siapa pria yang aku katai ini." Pucat pasih, dengan wajah yang sudah menampakkan gelisahnya.


"Hei Culun!" Aditya kembali berteriak, saat mendapati diamnya Aisyah.


"Ma..Maafkan saya, Pak! Maaf. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu pada Bapak," jawab Aisyah, dengan menunjukkan wajah penyesalannya.


"Tidak bermaksud seperti itu! Terus apa?!" Dengan nada terdengar kesal, akan amarah yang belum reda dalam diri.


"Saya... Saya..." Menundukkan wajah itu, dengan pupil mata yang dia buat sayu, agar Aditya dapat memaafkannya.


Aditya menghembuskan napas panjangnya, sesak yang menumpuk di dadanya, melihat raut wajah tidak berdaya Aisyah.


" Jika sekali kamu berkata hal itu lagi! Hari ini juga, kamu saya pecat. Kamu mengerti?!" Dengan mempertegas kata-katanya, yang membuat Aisyah hanya menjawab pasrah.


"Iya Pak! Saya mengerti. Dan maafkan saya."


****


Selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Aisyah memutuskan untuk kembali ke lantai bawa.


Hentakan dua kakinya- dia ayunkan dengan pelan, saat menuju arah lif. Baru saja jari telunjuknya, akan dia labuhkan pada sebuah tombol, kembali gagal saat Simon memanggilnya.


"Aisyah..." panggil Simon, dengan melangkahkan dua kakinya pada Aisyah.


"Sekretaris Simon! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memanggilku, dengan nama asliku," tanya Aisyah, dengan menunjukkan wajah sedikit kesalnya


Simon terkekeh pelan, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, akibat merasa bersalah pada wanita itu.


"Maaf! Aku lupa." Dengan memberi, senyum kikuknya.


"Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Karena kebetulan tidak ada siapa-pun di sini. Dan katakan. Ada apa kau memanggilku?"


"Apakah kau ada masalah? Karena sedari tadi yang aku perhatikan saat berada di dalam ruang kerja Tuan Aditya, kau nampak tidak bersemangat. Apakah ada masalah dengan Sikembar?"


"Tidak. Mereka baik-baik saja. Aku hanya khawatir, dengan Ibu dari sahabatku."


"Benarkah?" tanya Simon memastikan.


'Tentu Sekretaris Simon! Buat apa aku berbohong padamu."

__ADS_1


Keasyikan dengan apa yang mereka bicarakan-membuat Simon, dan Aisyah sama sekali tidak menyadari adanya Aditya di sana, yang sedari tadi terus menatap pada mereka. Dua kaki itu segera mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada Simon dan Aisyah yang nampak asik berbincang.


"Sejak kapan kalian berdua dekat?" tanya Aditya tiba-tiba, dengan alunan kaki yang masih membawanya pada Simon, dan Aisyah.


Dua wajah itu seketika berpaling pada asal suara. Kaget menyelimuti wajah Simon, dan Aisyah mendapati Aditya yang melangkah menghampiri pada mereka.


"Apakah dia mendengar pembicaraan kita, Sekretaris Simon?" tanya Aisyah dengan sedikit berbisik.


"Normalkan sikapmu, agar Tuan Aditya tidak curiga. Dan aku rasa tidak, kalau dilihat dari ekpresinya."


"Tuan..." Simon.


"Pak..." Aisyah berucap dengan berusaha menampilkan senyuman, semanis mungkin.


"Sejak kapan kalian berdua dekat seperti ini?" tanya Aditya dengan menatap penuh selidik.


Wajah Aisyah nampak pucat pasih. Dua mata itu segera dia lemparkan pada Simon, agar dapat menjawab apa yang ditanyakan pria itu.


"Kami dekat, sejak Nona Anisa bekerja sebagai Cleaning Cervise di ruangan anda, Tuan!"


"Benarkah?"


"Iya Pak! Karena mungkin sering bertemu, membuat aku dan Sekretaris Simon jadi dekat," jawab Aisyah menimpali.


"Kau tidak tertarik pada si Culun ini, kan?"


"Tentu saja tidak." jawab Simon cepat.


Tak ingin berlama-lama bersama kedua pria itu, Aisyah memutuskan untuk pamit.


"Pak! Sekretaris Simon! Maaf, aku harus segera pergi."


"Pergilah..." jawab Aditya asal.


Rasa penasaran yang masih melandanya, membuat Aditya kembali bertanya pada Sekretarisnya itu.


"Aku yakin, kau berbohong."


"Maksud Tuan?" Simon menatap penuh seketika pada Tuannya, saat mendengar pertanyaan Tuannya.

__ADS_1


"Aku yakin, kalau kau menyukai siAnisa itu!"


'


__ADS_2