
Keduanya tercipta dalam suasana romantis. Membelai, dan saling melemparkan pujian. Kehingan yang melanda, saat Andi membelai dan menatap istrinya dengan dalam. Cintanya yang begitu besar pada Karla, hingga tak mampu berpikir mana sebenarnya cinta palsu, dan cinta yang benar-benar tulus.
Suasana yang menyelimuti keduanya memecah, saat terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa.."
"Ini, saya Nyonya!"
"Ada apa, Ima?"
"Tuan Aditya, dan sekretarisnya, Simon sudah datang."
Senyum bahagia menyelimuti wajah cantik Karla, mengetahui pria pujaannya sudah berada di rumahnya.
"Benarkah?"
"Iya, Nyonya! Mereka sedang menunggu di ruang tamu."
Andi yang masih ingin menikmati suasana romantis bersama sang istri, terlihat enggan untuk menemui putranya Aditya.
"Baiklah, sedikit lagi-kami akan pergi menemui mereka."
"Baik, Tuan.." jawab Ima, dengan kembali berlalu dari tempat itu.
Mimik kesal, sedikit menyimuti wajah Karla. Kerinduannya yang teramat besar pada Aditya, membuatnya sudah tak sabar ingin bertemu dengan Aditya.
"Sayang, tidak baik buat mereka menunggu. Apalagi kita yang mengundang mereka makan malam. Jadi! Ayo kita turun," ajak Karla dengan menampilkan wajah memelasnya, agar suaminya dapat luluh.
"Baiklah. Ayo, kita turun."
****
Seperti biasa dia akan selalu menunjukkan kharismanya. Dengan sikapnya yang tenang, dan sorot matanya yang tajam, yang mampu membius siapa saja saat bertatapan dengan pengusaha kaya itu.
__ADS_1
Duduk bersandar pada sebuah sofa tunggal, dan sesekali dia dan Simon melewatinya dengan perbincangan kecil, membahas sesuatu yang terkait dengan urusan kerja-an.
"Terima kasih," ucap Aditya, saat salah satu pelayan menyediakan minuman untuk dia, dan Simon.
Alunan kaki melangkah ber'iringan melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawah. Terus melangkah dan semakin membawanya mendekat pada lantai satu. Arah tangga yang dapat menangkap posisi ruang, membuat dua bola mata Karla dapat dengan bebas menikmati ketampanan, sang pujaan hati.
"Hah....Dia sangat tampan, kenapa kau begitu tampan Adit...Bahkan semakin tampan saja," bathin Karla, saat gejolak cinta itu mulai menggema di dalam hatinya.
Dua pasang kaki yang sudah berpijak di lantai dasar, segera mengambil langkah panjang, menghampiri pada Aditya yang sedang sibuk berbincang dengan sekretarisnya, hingga tidak menyadari kedatangan pasangan suami istri itu.
"Kau sudah datang, Adit!" Dari jauh Andi sudah bersuara, saat dua kaki itu semakin mendekat pada sang putra.
Mendengar suara serak yang menyapa, membuat arah pandang Adit, dan juga Simon! Seketika berpaling, pada asal suara. Dan mendapati keberadaan Ayah, dan Ibu tirinya.
Segera bangkit dari duduk mereka, menatap pada Ayah dan istri mudanya itu.
"Selamat malam, Tuan besar! Selamat malam Nyonya Karla,"
Andi tersenyum sinis, menatap pada putranya yang hanya diam membisu.
Aditya terkekeh. Mendengar ucapan Ayahnya, yang dia tahu menyidir dirinya.
"Tentu saja kami akan datang, Papa! Karena kau adalah Papaku. Jadi mana mungkin putramu ini, tidak akan memenuhi ajakan makan malam kalian." Dan arah pandang itu berpindah pada Karla, yang terus melemparkan senyuman menggodanya pada Aditya.
"Dan selamat malam, untukmu Mama! Bagaimana kabarmu? Karena sudah beberapa minggu ini, kita tidak bertemu." Seringai rendah di wajah tampan Aditya, kala menatap pada Karla dengan tatapan penuh arti.
"Baik Adit! Kabarku sangat baik. Dan maaf, karena sudah beberapa minggu ini aku tidak mengantarkan makanan ke perusahaanmu."
"Tidak masalah! Santai saja. Karena kau juga, harus mengurus Papaku."
****
Makan malam telah selesai. Walaupun ada sedikit suasana tegang di sana, mengingat hubungan Aditya, dan sang Ayah yang tidak berjalan dengan baik. Selesai dengan jamuan makan malam itu, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
__ADS_1
Simon, sang sekretaris! Memilih untuk bertukar pikiran dengan para pelayan, rumah itu! Sementara pasangan suami-istri Andi, dan Karla memilih menikmati waktu berdua, yang dihabiskan di ruang tamu. Dan Aditya. Pengusaha berusia 28 tahun itu, memilih menghabiskan waktu di taman, menikmati pemandangan taman rumahnya, yang banyak menikmati kenangan masa kecilnya.
Duduk santai, seraya bertukar pikiran.Tiba-Tiba saja bibir Andi membungkam, setelah terdengar deringan telepone pada ponsel miliknya. Meraih dari saku celananya, dan mendapati pesan yang dikirim salah satu rekan bisnis.
"Maaf Sayang! Sepertinya aku harus meninggalkamu sebentar. Karena ada laporan yang masuk, yang dikirim salah satu karyawanku," ucap Andi,dengan segera bangkit dari duduknya.
Bahagia menyelimuti diri Karla. Sedari tadi ingin berdekatan Aditya, akhirnya dia punya kesempatan juga. Sebab dia sangat tahu, kalau suaminya akan menghabiskan waktu yang lama di ruang kerja- jika itu sudah menyangkut pekerjaan.
"Tidak masalah, Sayang! Pergilah."
"Baiklah," jawab Andi dengan berlalu, menuju ruang kerjanya, yang berada sedikit tak jauh.
Bola mata itu ikut pergi melemparkan pandangannya, saat sang Suami berlalu menuju ruang kerjanya. Memastikan Andi sudah masuk dalam ruang kerjanya, membuat Karla segera bangkit dari duduknya mencari keberadaan anak tirinya Aditya.
Sepasang kaki Karla berjalan menyusuri arah pintu samping yang akan membawanya, pada taman. Dua mata itu mengedar ke segalah mencari keberadaan Aditya.
"Dimana dia? Tadi aku melihatnya, datang ke arah taman." Dengan wajah bingungnya, Karla terus mengayunkan kedua kakinya menyusuri rerumputan hijau itu.
Ayunan kaki itu seketika Karla hentikan. Senyum menyelimuti seketika di wajah cantiknya, saat dari jauh sepasang mata itu, menangkap sosok Aditya yang tengah melemparkan pandangannya, pada kolam renang yang di depannya.
Karla segera mengambil langkah panjangnya. Langkah kaki yang tadi sedikit tergesa-gesa, kali ini lebih dia pelankan, bermaksud agar Aditya tak menyadari kedatangannya. Tubub itu semakin mendekat, pada sosok tampan. Harum tubuh pria itu, semakin menenggelamkan Karla pada cintanya yang begitu besar pada anak tirinya itu. Senyuman melukis di wajahnya, menatap pada punggung kokoh yang membelakanginya. Berada semakin dekat. Dua tangan itu membuka, dan dengan tidak tahu malunya, Karla menelusupkan tangannya memeluk erat pria itu.
Aditya terperanjat kaget. Saat lingkaran tangan wanita, memeluk erat dirinya. Menghembuskan napas kasarnya, saat amarah sudah mulai menyelimuti diri.
"Apa yang kau lakukan Karla?! Lepaskan tanganmu! Bagaimana kalau Papaku, melihat kita."
Bukannya melepaskan pelukan itu, Karla malah semakin mempereratnya.
"Kau selalu saja mengetahui kalau ini aku. Kau tahu, Adit! Aku begitu merindukanmu."
"Lepaskan tanganmu, Karla! Sebelum aku berbuat kasar padamu. Dan bagaimana, kalau Papaku melihat kita!"
"Biarkan saja, aku tidak perduli. Kalau dia menceraikan aku-aku akan menikah dengan anaknya. Bukankah itu bagus?!"
__ADS_1
Dengan kasar, Aditya melepaskan pelukan Karla. Membalikkan tubuhnya. Tatapan tajam, dengan kilatan mata begitu membakar, akan emosi yang berusaha dia redam.
"Kau memang benar-benar, wanita sakit jiwa. Dan kalau tidak memikirkan Papaku, mungkin aku sudah memberimu pelajaran!"