
Pasrah pada keadaan, itulah yang bisa Aisyah lakukan saat ini- saat diri itu, tak kuasa menolak keinginan pria yang merupakan atasannya.
Tak ingin berlama-lama bersama Ayah dari kedua putrinya, yang tidak menutup kemungkinan, identis aslinya akan terbongkar. Gesekan tangan yang bergerak ke sana-ke mari di atas daratan meja itu, semakin Aisyah kuatkan- agar meja kerja itu dapat bersih sesuai keinginan Bosnya- dan tentu saja agar dia segera ke luar dari ruangan itu.
"Ini sudah sangat bersih. Tapi dia bilang, masih ada debu. Sebenarnya yang buta itu aku, atau dia!" Aisyah mengumpat dalam hati-nya, saat rasa kesal itu tak bisa dia luapkan pada seorang Aditya Wirawan.
Tenaga yang semakin banyak dia keluarkan, tentu saja berimbas pada tubuhnya, di mana cucuran keringat mulai membasahi atas dahinya. Dan hal itu, membuat Aisyah merasa sangat tidak nyaman. Merasa terganggu dengan peluh, yang sudah membasahi atas dahinya, membuat wanita itu- segera mengusap kasar di sana, dengan sebelah tangannya.
Wajahnya seketika memucat, saat mendapati punggung tang anya- yang terdapat cream hitam, dan Aisyah meyakini kalau kulih aslinya, pasti sudah terlihat akibat usapan itu.
'Ya Tuhan... Cream hitamnya memudar... Bagaimana ini? Pasti kulit asliku sudah terlihat sekarang," bathin Aisyah, yang mulai dilanda kecemasan.
"Kenapa kau diam saja, Culun? Cepat bersikan meja kerja itu! Karena aku harus segera melanjutkan kerjaku." ucap Aditya tiba-tiba, dengan nada lantang.
Barisan jemarinya- segera Aisyah tarikkan, pada pony yang tersingkap ke samping- agar kulit asli itu sedikit tersamarkan, oleh jatuhan ponynya.
Memalingkan wajahnya pada Aditya, yang tengah menatap padanya. Lama pandangan itu Aisyah arahkan pada pria di depannya, yang tengah balik menatapnya.
"Aku tidak perduli, sekali-pun aku kena makiannya. Bagaimana-pun caranya? Aku harus ke luar dari ruangan itu, sebelum semuanya terbongkar." bathinnya.
"Kenapa kau diam saja?! Apakah kau tidak bosan menatapku terus?!" Aditya mulai terlihat kesal- saat Aisyah hanya berdiam, dan tidak membersikan meja kerjanya.
Memelaskan wajahnya, dengan tatapan memohon agar pria itu- dapat luluh dengan permintaannya.
"Pak..." panggilnya pelan.
"Ada apa?!" Dengan nada datar, dan tatapan tajamnya pada Aisyah.
"Bisakah saya melanjutkannya besok, kerjanya?"
Menyerngitkan keningnya, dengan sorot mata intens menatap pada Aisyah, yang memelaskan wajahnya.
"Memangnya kenapa? Karena saya yakin, meja itu pasti belum bersih."
"Saya akan melanjutkannya besok, Pak.. Karena saya harus harus segera mengganti pembalutnya."
__ADS_1
"Mengganti pembalut?" Sorot mata itu seketika menatap intens, pada wanita di depannnya.
"Iya, Pak! Saya sedang datang bulan. Dan sepertinya sudah tembus, pada dalaman saya." Tanpa rasa malu lagi, Aisyah memberikan alasannya- yang menurutnya dapat membuatnya ke luar dari ruangan itu.
"Aku yakin, itu hanya alasan kamu saja-agar bisa segera ke luar dari ruangan ini." Aditya semakin menajamkan tatapannya, kala kesal pada Aisyah semakin saja melanda laki-laki tampan itu.
Aisyah menghembuskan napas panjangnya, sebab ternyata sangat tidak muda untuknya, membohongi seorang Aditya. Tapi dirinya tidak akan gentar, karena bagaimanapun dia harus segera ke luar dari dalam ruangan ini, sebelum Aditya mengetahui siapa dia?
"Saya tidak mungkin berbohong, Pak! Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa memerikasnya sendiri."
Amarah semakin saja menyelimuti wajah tampan Aditya, mendengar jawaban Aisyah yang menurutnya begitu berani padanya.
"Apa kamu sudah gila, meminta saya melakukan hal itu?! Kamu pikir saya pria seperti apa?!" Kata-kata yang terucap dari bibir Aditya, sudah mulai meninggi dari sebelumnya akan emosi yang sudah meluap.
"Saya berani berkata seperti itu, karena Bapak sama sekali tidak percaya pada saya." Aisyah memelankan nada suaranya, dan menunduk lesu- agar Aditya dapat luluh dengan kebohohonganya.
Menghembuskan napas panjangnya, berusaha menahan rasa kesal- yang semakin saja melanda diri pria itu.
"Cepat ke luar dari ruangan ini..!! Dan ingat! Besok kamu harus datang, lebih pagi lagi." Aditya menekan kata-katanya, saat menyampaikan titahnya pada Aisyah.
Aisyah melukis senyum kecilnya. Lega seketika menyelimuti diri wanita itu, sebab akhirnya Aditya memberinya ijin.
"Baru sehari berkerja, tapi dia sudah bertingkah." umpat Aditya, dengan mengayunkan langkah kakinya pada meja kerja miliknya.
****
Pintu ruangan Aisyah kembali rapatkan, dengan pelan- saat diri itu sudah berada di luar ruangan. Menghembuskan napas leganya, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu, menuju arah lift. Saat diri itu melewati meja kerja Simon, Aisyah sama sekali tidak menyapa pada pria itu- memilih untuk mengabaikan - karena yang dia pikirkan, harus segera membenahi penampilannya. Ayunan kaki yang sudah sedikit jauh, seketika Aisyah hentikan, saat terdengar suara Simon memanggilnya.
"Hei kamu..." Sedikit teriakan, saat memanggil pada Aisyah.
Aisyah memelaskan wajahnya, sepertinya dia ingin menangis saja- tapi sekali lagi dirinya tak mampu menolak, karena profesinya yang hanya sebagai seorang Office Gril. Akhirnya dengan berat hati, Aisyah pun membalikkan badannya- menatap pada Simon, dengan senyuman palsunya.
"Ada apa Tuan Sekretaris??"
Tidak langsung menjawab, lelaki bertubuh tinggi itu- masih saja menelusuri setiap jengkal wajah di depannya, yang sudah membuatnya penasaran dari kemarin.
__ADS_1
"Tuan Sekretaris.." panggil Aisyah tiba-tiba, yang menyadarkan seketika lamunan pria itu.
"Maaf. Sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatau padamu."
Wajah yang tadi biasa, seketika diselimuti pucat pasih- kala mendengar apa yang baru saja Simon katakan.
"Bertanya?"
"Saya hanya bertanya padamu. Bukan membunuhmu. Tapi kenapa wajahmu jadi pucat begitu?" Simon semakin mengintenskan sepasang matanya, kala mendapati wajah wanita di depannya sudah berubah pucat.
Aisyah tersenyum kikuk, saat berusaha menutupi wajahnya yang memucat setelah mendengar pertanyaan dari pria itu.
"Mungkin itu hanya perasaan anda saja, Tuan Sekretaris.."
"Kalau begitu, bolehkan saya tahu- dari mana asalmu?"
"Asal?"
"Iya, asalmu."
Sorot mata itu, menatap intens pada pria di depannya, dengan rasa curiga mungkin saja, pria itu sudah mengetahui siapa dia.
"Apakah Sekretarisnya Pak Aditya- ini, mengetahui siapa aku? Hingga dia menyakan asalku?" Aisyah membathin, dengan cemas yang sudah melanda.
"Kenapa kamu diam saja? Apakah salah?! Jika saya, menanyakan asalmu."
"Ti..Tidak ada yang salah, Tuan Sekretaris... Saya berasal dari..." Baru saja Aisyah akan menjawab- apa yang ditanyakan Simon, tiba-tiba saja terdengar, suara deringan telepone pada telepone yang berada di atas meja kerjanya.
"Ada apa Tuan?" jawab Simon, kala gagang telepone itu-sudah menempel pada daun telinganya.
"Datang ke ruanganku sekarang." Terdengar nada tegas diseberang sana.
"Baik Tuan..." jawab Simon, dengan kembali meletakkan gagang telepone pada tempatnya.
Sepasang mata Simon, kembali teralih pada Aisyah- yang masih memijakkan kakinya di sana.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi sekarang. Lain kali, baru kita lanjutkan obrolannya. Dan jangan panggil saya Tuan Sekretaris, panggil saja Simon."
"Baik Sekretaris Simon..." Dengan senyuman pada pria itu, yang sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat, berlalu menuju ruang kerja, Aditya.