
Mentari kembali memberi senyum malu-malunya, saat hari baru kembali menyapa. Hembusan angin yang meniup sedikit kencang- hingga tirai-tirai yang tadi menggantung indah kini menari ke sana-kemari.
Aditya sudah terlihat tampan tengan celana kain, baju kemeja putih yang membalut sempurna tubuhnya. Ada pemandangan biasa yang selalu didapati pada pria itu, dasi yang selalu saja berulang kali dia pasang, agar hasilnya dapat bagus.
Melipat ke kiri, dan kanan. Dan sudah terpasang, tapi melihat hasilnya tidak bagus.
"Hah!!" Mendesahkan napasnya kesal, menarik dasi yang melingkar tidak beraturan pada kra baju-nya.
"Selalu saja, hal ini yang membuat aku terlambat. Kenapa susah sekali memasang dasi? Agar hasilnya bagus." Dan dia pun tenggelam, dalam suasan kesalnya.
Tapi seketika memory itu menghantarkan dia tiba-tiba, pada ada-nya Aisyah di rumahnya.
"Apakah aku minta saja pada sibodoh itu?!" Tapi seketika Aditya menghempaskan kepalanya kuat, berusaha membuang pikiran itu.
"Apa yang terjadi padaku? Memang siapa dia?" Dengan terkekeh pelan,menertawakan dirinya sensitivities.
Walau pun tidak terlalu pintar, tapi Aditya berusaha menyimpulkan dasinya walau pun hasilnya tidak terlalu bagus.
Satu tangannya menarik rapi rambutnya, dan memutuskan untuk berlalu dari dalam kamar, setelah menyambar tas kerjanya.
Dua kakinya sudah berpijak pada lantai bawa. Langkah kaki itu segera dia ayunkan, menuju ruang makan yang berada bebera[a meter, dari arah tangga. Samar-samar daun telinganya mendengar suara kedua putrinya, di ruang makan itu.
"Pagi..." Aditya menyapa dengan ramah, yang sengaja memberitahukan keberadaannya.
Wajah ketiganya berpaling seketika pada asal suara, dan mendapati keberadaan Aditya yang sudah terlihat tampan dengan balutan jasnya.
"Ternyata dia bisa juga bersika ramah, setidaknya dia akan terlihat tampan kalau bersikap ramah, dan memberi senyum walau hanya sedikit," gumam Aisyah dalam hati.
"Pagi juga Tuan..." sapa Aisyah dengan memberi senyum kecil di wajah.
"Pagi..." jawabnya datar.
Wajah hangat pada Aisyah memudar seketika, mendapati sikap datar Aisyah padanya.
"Ada apa dengan dia? Tadi saja dia bersIkap semanis mungkin, tapi saat aku menyapa wajahnya seperti baru saja makan Asam," bathin Aisyah kesal.
Bella seketika melompat dari tempat duduknya, begitu mendapati keberadaan sang Ayah. Dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya, dua kaki itu melangkah menuju Aditya.
"Daddy.." Menampilkan senyuman semanis mungkin, kala dua matanya menatap pada Ayah-nya itu.
__ADS_1
Tubuh itu Aditya sejajarkan dengan tinggi putrinya, dengan menampilkan senyuman hangatnya kala iris hitamnya- dia tenggelamkan pada bola mata sang putri yang begitu berbinar.
"Kau sudah sembuh?"
"Aku sudah jauh lebih baik, Daddy!"
"Daddy... Apakah kau tidak menyapaku?!" tanya Sella dengan menekukkan wajah, cemberutnya.
Aditya bangun dari duduknya, menghampiri pada Sella yang tengah menikmati sarapan pagi nasi gorengnya.
"Pagi putriku, Sella..." Dengan melabuhkan kecupan, pada pucuk kepala Sella.
Suasana ruang mati yang biasa memenuhi ruang makan itu-kini nampak hidup dengan hadir-nya Aisyah, dan kedua anak mereka. Aditya sudah melabuhkan tubuhnya pada sebuah kursi, guna menikmati sarapan paginya.
"Daddy... Apakah kau tidak menyapa Mommy?" tanya Sella tiba-tiba.
"Tadi Daddy sudah menyapa Mommy kalian."
"Tapi kau tidak memberi kecupan, yang seperti kau lakukan padaku," ucap Sella kesal.
"Nanti saja,"
"Kenapa Mommy??" tanya Sella dengan bola mata, intens seketika pada sang Bunda.
"Ti..Tidak kenapa? Kenapa? Hanya..." Dengan tidak dapat melajutkan kalimatnya. Tapi seketika Aisyah bangun dari duduknya, saat mendapati Aditya akan menyendok nasi goreng.
"Tuan... Biar aku saja yang mengambilnya."
"Biar aku saja!" tolak Aditya.
"Tidak Tuan.. Biar aku yang melakukannya," jawab Aditya dengan langsung meraih piring dari tangan Aditya, dan menyendok nasi goreng ke dalam piring itu.
"Apakah segini sudahp pas, Tuan?"
"Mommy, kenapa kau masih memanggil Daddy dengan sebutan Tuan?" celah Bella seketika.
"Iya Mommy, kenapa kau masih memanggil Daddy dengan sebutan Tuan? Panggil-lah dengan sebutan Mas, seperti Mommy nya Enjel," timpal Sella pula.
Aisyah menghela napas beratnya, dengan lemparan mata yang dia arahkan pada Aditya-yang nampak terlihat tenang.
__ADS_1
"Tapi Mommy..."
"Mulai hari ini jangan panggil aku Tuan lagi, tapi panggil-lah aku dengan sebutan Mas."
"Itu Mommy! Daddy saja, meminta kau memanggilnya dengan Mas!" celah Sella dengan mimik cemberutnya.
Mendesahkan napas itu, dan mengiyakan.
"Baiklah, mulai sekarang Mommy akan memanggil Daddy kalian dengan sebutan Mas."
"Kalian sangat manis Mommy...Dadddy.." seru Bella dengan mengerjap-ngerjapkan genit matanya.
Aditya melukis senyum, begitu pun juga Aditya. Keduanya hanyut kembali, dalam apa yang mereka pikirkan.
"Ini baru hari kedua dia di rumah ini, tapi kami semakim dekat saja. Dan semoga saja apa yang dikatakan Simon, tidak akan pernah terjadi. Kalau aku bisa saja, jatuh cinta pada Aisyah. Ya! Itu tidak boleh terjadi, dan jangan sampai terjadi. Mau taruh di mana harga diriku?! Kalau sampai aku jatuh cinta padanya," gumam Aditya dalam hati.
"Kenapa jadi begini? Dan mengingat apa yang dikatakan Sekretaris Simon aku jadi takut? Dan semoga saja, itu tidak akan pernah terjadi. Ya! Aku harus membenteng kuat hati ini, agar jangan sampai jatuh cinta padanya," bathin Aisyah.
"Mommy... Kenapa kau diam saja? Apakah kau mau membiarkan Daddy kami lama menunggu?" tanya Bella yang mengejutkan Aisyah seketika.
Aisyah seketika terkesiap-dengan melukis kecil senyum kikuknya.
"Maafkan saya Tuan..Eh! Maksud saya Mas Adit!"
Tak ada yang berbicara dengan keduanya, setelah perbincangan keduanya tadi. Hanya terdengar suara celotehan Bella, dan Sella dan juga suara piring, dan sendok yang memecah di ruangan itu.
"Ini minumnya Tuan..Eh maksud saya Mas!" Aditya meletakkan segelas minuman air putih, di depan Aditya.
"Terima kasih,"
Aditya melukis senyum kecil. Dua mata itu begitu dia intenskan pada Aisyah, yang tengah membantu kedua putrinya. Apa dari senyuman yang dia tampilkan itu? Hanya dia sendiri yang tahu. Tapi yang jelas ada rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya, dengan suasana pagi ini.
Senyum bahagia mengukir di wajah mereka, mendapati suasana bahagia yang tidak mereka dapati sejak bekerja pada seorang Aditya Wirawan.
Sisi menampilkan wajah bahagianya, dan dia begitu hanyut dalam suasana yang dia lihat pagi ini.
"Mereka sangat manis, Bibi..Semoga saja selamanya akan terus seperti ini," gumam Sisi sambil senyum sendiri.
"Iya. Bibi juga sangat bahagia, dan semoga saja Nona Aisyah adalah jodoh yang dikirim Tuhan buat Tuan Aditya," ucap Ani penuh harap.
__ADS_1