SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KECURIGAAN SIMON


__ADS_3

Mentari kembali menampilkan senyumnya, kala kegelapan kembali menghilang bersama bulan, dan bintang. Daun-daun berguguran, ketika angin memberi sedikit kekuatannya, menghempaskan dari ranting-ranting pohon. Burung-burung memberi kicaunya, yang ikut gembira menyapa pagi yang begitu indah.


Indahnya pagi ini, se,indah suasana hati sosok tampan itu.


Melukis senyumnya, saat iris mata hitamnya membuka, dia mendapati hari yang sudah pagi.


Dua kaki itu segera dia turunkan dari atas ranjang, dan mengambil langkahnya menuju kamar mandi.


Satu-satu pakaian yang membalut tubuh itu, Aditya lepaskan hingga tubuh itu benar-benar polos.


Air yang ke luar dari lubang-lubang kecil shower, bak air hujan yang tersiram dari langit saat membasahi tubuh polosnya.


Menyeringai seketika, saat teringat kembali dirinya yang selama ini begitu dekat, dengan wanita yang sudah dia cari bertahun-tahun.


"Aku sungguh bodoh! Bahkan sangat bodoh! Bagaimana bisa aku tidak menyadari?! Kalau itu dia," gumam Aditya.


Hening kembali melanda dalam kamar mandi, dan hanya terdengar suara jatuhnya air-saat diri itu kembali tenggelam dalam suasana hatinya.


Hampir setengah jam Aditya melakukan ritual mandinya, dua kaki itu kembali menuju kamar yang kebetulan menjadi satu dengan kamarnya, dengan handuk putih yang melilit sebatas pinggangnya.


Diri itu sudah terlihat tampan dengan jas hitamnya. Barisan jemari itu dia labukan pada rambutnya yang basah, menyisir rapi di sana. Senyuman kecil seketika menyelimuti wajah tampannya, saat membayangkan dirinya yang akan segera dipanggil Daddy.


"Daddy! inilah panggilan yang selama ini aku harapkan. Bertahun-tahun aku mencari keberadaan Aisyah-agar dapat bertemu dengan darah dagingku, kini aku akan segera kembali bertemu dengan anakku," gumamnya.


Memastikan penampilannya sudah terlihat tampan-Aditya segera melangkahkan kakinya ke luar dari dalam kamar, setelah menyambar tas kerjanya.


Saat tiba di lantai bawa, Aditya segera mengambil langkah panjangnya-menghampiri pada Simon yang sudah menunggu kedatangan Tuannya.


" Selamat pagi!"


"Pagi!" jawab Aditya, dan kemudian menyeruhkan nama sekretarisnya. "Simon.."


"Iya Tuan!"


"Ayo kita berangkat sekarang!"


Dua mata Simon seketika menatap heran pada Tuannya, setelah mendengar apa yang dititahkan oleh pria itu.


"Berangkat sekarang?!" tanya Simon memastikan.


"Iya. Memangnya kenapa?" Aditya bertanya balik pada sekretarisnya, dengan menyurutkan sorot mata itu.


"Apakah anda tidak sarapan lagi Tuan? Atau mungkin meminum kopi dulu?"


"Tidak! Karena aku ingin segera sampai ke kantor," jawab Aditya, dengan segera melenggangkan dua kakinya dari dalam rumah, yang diikuti oleh Simon dari belakang.


Saat berada di belakang Tuannya! Simon terus bertanya dalam hatinya. Ada apa dengan Tuannya? Sebab tidak biasanya pria itu, akan melewatkan sarapan pagi, atau meminum kopi dulu sebelum berangkat bekerja.


"Ada apa dengan Tuan Aditya? Tidak biasanya dia akan melewatkan sarapan paginya, atau sekedar meminum kopi." Simon membathin.


****

__ADS_1


Hening melanda dalam mobil. Tak ada yang berbicara satu kata pun dari kedua pria itu, sama-sama diam dan larut dalam suasana hati masing-masing. Simon tak berani bertanya. Pria itu hanya bisa melemparkan pandangannya lewat kaca spion mobil, akan rasa penasaran yang masih dia simpan pada Tuannya.


"Simon.." panggil Aditya tiba-tiba, membela kesunyian yang melanda dalam mobil.


" Ada apa Tuan?"


"Batalkan janjiku dengan klien hari ini, dan juga rapat pagi ini."


Sorot mata itu semakin simon tajamkan, kala netra matanya kembali menatap pada sang Tuan, akan penasaran yang semakin bertambah.


"Apakah anda serius Tuan?" tanya Simon, yang kembali kaget dengan sikap aneh Tuannya.


"Ya. Apakah aku seperti tengah bercanda padamu?!"


"Baik Tuan! Akan saya batalkan,"


Kendaraan masih melaju, membela jalan yang masih padat dilalui kendaraan. Tak ada yang berbicara lagi antara keduanya, setelah terlibat obrolan singkat mereka tadi. Simon kembali melemparkan tatapan matanya lewat kaca spion mobil, menatap Aditya yang tengah menikmati indahnya pagi hari kota Jakarta, lewat kaca jendela mobil yang setengah terbuka.


"Ada apa dengan Tuan Aditya? Hari ini, dia nampak begitu aneh!" tanya Simon dalam hati.


****


Suasana hening melanda tak ada yang berbicara dari kedua pria itu, saat bersama dalam ruang Presdir. Aditya betul-betul mengabaikan keberadaan sang Sekretarisnya, Simon. Pria itu nampak menunjukkan wajah gelisahnya, dengan dua mata yang terkadang dia lemparkan pada jam dinding, atau pada arah pintu ruangan akibat rasa tidak sabarnya, yang ingin segera bertemu dengan Aisyah.


"Kenapa dia lama sekali?!" gerutu Aditya, dalam hati.


Beberapa menit menunggu dalam kegelisahan, akhirnya pintu ruangan terbuka juga, oleh sosok yang sedari sudah dia tunggu kedatangannya.


Saat pintu itu dia buka, Aisyah sedikit kaget-kala mendapati dua sosok yang sudah berada di dalam ruangan itu.


Dua kakinya melangkah pelan, dengan memberi senyum kikuknya, kala dua pasang mata itu terus menatap dengan intens pada Aisyah, yang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Dan kenapa aku merasa gelisah?" bathin Aisyah lagi.


"Kau sudah datang?" tanya Aditya, dengan menyeringai kecil di wajahnya.


"Maafkan saya, Pak! Karena sudah datang terlambat."


"Kau tidak terlambat Anisa! Kami yang datang terlalu pagi." Dan dua mata itu Aditya arahkan pada Simon, yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di atas meja.


"Simon!"


"Ada apa Tuan?"


"Bisakah kau meninggalkan ruangan ini?"


Simon seketika mengintenskan dua matanya pada Tuannya, setelah mendengar permintaan dari pria itu.


"Meninggalkan ruangan ini, Tuan?!"


"Ya." jawabnya tegas.

__ADS_1


"Tapi masih ada hal yang harus saya kerjakan di sini, Tuan!"


"Kau bisa melanjutkannya nanti."


"Tapi Tuan!"


"Aku bilang ke luar!"


Simon menghembuskan napas pajangnya, saat tubuh itu dia bangunkan dari duduknya, dengan berat hati.


Dengan ayunan kaki yang terasa berat, dua kaki itu dia langkahkan menuju pada arah pintu.


Baru saja setengah jalan kakinya melangkah, dua kaki itu seketika berpijak, setelah mendengar permintaan Tuannya.


"Jangan lupa kunci pintunya."


Mendengar permintaan Tuannya-yang terdengar aneh! Simon seketika dilanda rasa yang tidak enak. Dua mata itu dia lemparkan seketika pada Aisyah, yang juga balik menatapnya.


"Baik Tuan! Saya akan tutup pintunya," jawa Simon dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Walau-pun berat dia lakukan, tapi pria itu tIdak mungkin menolak titah Tuannya. Dengan berat hati, akhirnya Simon mengunci pintu ruangan.


Dua kaki itu akan Simon ayunkan. Tapi langkah kaki itu seketika dia hentikan, saar merasa ada yang tidak beres.


"Ada yang tidak beres. Aku harus tetap berjaga di depan pintu," gumam Simon.


***


Aditya kembali memalingkan wajahnya lurus, setelah memastikan pintu sudah benar-benar terkunci.


Dua mata itu dia alihkan pada Aisyah, dengan senyuman sinisnya pada wanita cantik itu.


"Pak kenapa pintu ruangannya ditutup?" tanya Aisyah, kala rasa takut tiba-tiba hadir, dengan sikap aneh Aditya.


"Kenapa?! Apakah kau takut?"


"Ti..Tidak Pak! Saya sama sekali tidak takut," jawab Aisyah terbata.


"Baguslah, kalau memang kau tidak takut," jawab Aditya, dengan langsung beranjak dari duduknya, menghampiri pada Aisyah yang tengah melakukan kegiatannya melap dinding kaca itu.


Pucat pasih kian menyelimuti wajah Aisyah, kala teringat kembali akan apa yang dikatakan Simon tempo hari, kalau Aditya masih mencari keberadaannya, sampai saat ini.


Hingga dirinya seketika mengambil kesimpulan, mungkin saja pria itu sudah mengetahui siapa dia?!


"Kenapa dia mendekat padaku? Apakah dia sudah tahu, kalau aku ini Aisyah?" bathin Aisyah, yang semakin dilanda rasa takut.


"Pak! Kenapa Bapak semakin mendekat pada saya? Bukankah saya harus menyelesaikan tugas saya?!"


Aditya menarik sudut bibirnya, dengan sorot mata yang begitu tajam yang dia arahkan pada Aisyah. Satu tangannya segera mencengkram kuat tangan wanita itu, dan menghujaninya dengan pertanyaan yang membuat Aisyah begitu kaget.


"Kau wanita itu-kan?! Kau adalah wanita yang sudah mengandung benih dari seorang Aditya Wirawan!"

__ADS_1


"


*****


__ADS_2