
Walau pun sudah melepaskan seprei dari ranjang tersebut, tapi Aditya tak langsung menggantikan-nya dengan yang baru.
Karena suara gedoran pintu yang tak henti-hentinya terdengar dari pintu kamar, mau tidak mau, membuat lelaki dua anak itu, harus membuka pintu kamar terlebih dahulu, untuk Bella, dan Sella.
Mimik kesal, seraya melemparkan tatapan tajam mereka pada sang Daddy, saat sudah menunggu sedikit lama, pintu kamar baru dibuka.
"Kenapa Daddy baru membuka pintu-nya?!" Sella langsung melontarkan pertanyaan pada Ayah-nya, seraya melenggangkan dua kaki mungil-nya masuk ke dalam kamar, bersama sang Kakak.
"Tadi itu..." Aditya tak melanjutkan kalimat-nya, karena bingung harus menjawab apa.
Sella langsung melabuhkan tubuh-nya di atas salah satu sofa- saat sudah berada di dalam kamar, sementara Bella, masih setia memijakkan dua kaki, dengan mengedarkan pandangan-nya kesegalah arah, dan tatapan itu berhenti pada arah ranjang, saat mendapati ranjang Ayah-nya yang tak nampak seperti biasa-nya.
"Daddy...Di mana Mommy? Dan kenapa dengan ranjangmu yang terlihat berantakan? Dan kenapa seprei-nya tidak dipasang? Bukan-kah ranjangmu, selalu terlihat rapi? Walau pun Daddy baru saja bangun tidur." Wajah penasaran menyempurna di wajah Bella, saat melontarkan pertanyaan pada Ayah-nya.
Wajah Aditya seketika berubah pias. Hingga tegukan luda yang dia telan pun, serasa tercekat di tenggorokan-nya. Sebab sangat tidak mungkin, kalau dia berkata jujur, apa yang terjadi dengan tempat tidur itu.
"Itu karena...." Lagi-lagi Aditya tak dapat melanjutkan kalimat-nya, saat bingung harus mengatakan apa. Hingga suara panggilan Aisyah yang tiba-tiba, bisa membuat pria itu lolos dari pertanyaan Bella.
"Mas....Mas Aditya..." panggil Aisyah, dengan setengah teriakan.
"Mommy kalian, memanggil Daddy. Daddy harus, segera ke kamar mandi," ucap Aditya dengan langsung mengayunkan langkah cepat-nya, menuju arah kamar mandi.
Bella ikut melemparkan pandangan-nya mengikuti arah pergi-nya sang Daddy, yang terlihat aneh oleh-nya.
"Daddy terlihat sangat aneh! Aku yakin, ada yang Daddy sembunyikan dari kita, Sella!"
"Seperti-nya, seperti itu. Bahkan tadi saja, saat kita akan masuk ke dalam kamar ini, Daddy langsung mencegah-nya. Sebenarnya apa yang terjadi di kamar ini, ya?"
***
Aditya melangkah-kan dua kaki-nya menuju arah kamar mandi. Sampai di depan pintu, pria itu langsung melabuhkan ketukan pada badan pintu, kamar mandi.
Pintu yang tertutup, sedikit Aisyah lebarkan, saat meyakini kalau suara ketukan itu, berasal dari Suami-nya.
Saat membuka pintu, tubuh Aisyah masih tak berbalut apa pun, hingga dia mampu mengalih-kan tatapan mata Aditya, yang justru dua mata-nya menelusuri setiap jengkal tubuh polos Aisyah, dan itu kembali membangkitkan gairah-nya. Tatapan mata itu, nampak tak berkedip sama sekali. Saat ini dia sangat ingin kembali menikmati-nya lagi, namun situasi benar-benar tidak memungkinkan.
"Mas...."
Suara panggilan Aisyah, membuat dunia hayalan Aditya membela seketika.
"I...Iya," jawab-nya terbata.
"Pakaian-ku Mas, dan handuk di dalam kamar mandi ini, juga tidak ada."
"Kau tunggu di sini, aku akan mengambilnya!"
"Baiklah,"
Bella, dan Sella yang sedang duduk santai, di buat terheran saat melihat sikap Ayah mereka yang nampak aneh.
__ADS_1
"Daddy...Apakah Mommy masih mandi?" tanya Sella dengan setengah teriakan.
"Mommy kalian masih mandi, jadi kalian berdua tunggu di sini," jawab Aditya, dan kembali melanjutkan langkah-nya.
Pakaian-pakaian milik-nya yang belum sempat disimpan di kamar Aditya, membuat Aisyah menggunakan sementara kemeja Suami-nya. Rambut panjang-nya yang masih setengah kering, sengaja dibiarkan tergerai
Saat berlalu dari dalam ruang ganti, Ibu muda itu mendapati sang-Suami, dan kedua putri-mereka Bella, dan Sella sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Sella yang melihat kedatangan Mommy-nya, langsung ber-suara.
"Mommy..."
"Maaf, buat kalian menunggu," seru Aisyah tersenyum. Aisyah menyibakkan rambut panjang-nya ke belakang, dan dia sama sekali tidak menyadari, kalau itu dapat mempertonton-kan, tanda-tanda merah, yang ada beberapa di leher-nya.
"Mommy...Kenapa lehermu memerah??" tanya Bella tiba-tiba, yang membuat Aisyah begitu terkejut, begitu pun juga dengan Aditya- yang langsung menghentikan kegiatan memakai sepatu-nya seketika.
Memucat tentu saja wajah itu, dan tidak tahu harus menjawab apa. Lemparan pandangan mata-nya Aisyah alih-kan pada Aditya, dengan memberi kode, agar Suami-nya mau menjawab apa yang ditanyakan putri mereka.
"Itu...Itu..." Dan tak mampu menyelesaikan kalimat-nya.
"Iya Mommy...Dan wajahmu nampak pucat. Apakah semalam Mommy tidak dapat tidur, karena Daddy menyiksa Mommy??" tanya Sella pula, yang menunjukkan rasa penasaran-nya.
"Daddy, sama sekali tidak menyiksa Mommy kalian!" jawab Aditya cepat.
Sella nampak tidak puas, dengan jawaban yang dia dengar dari Ayah-nya. Melihat ada tanda merah, dan wajah Ibu-nya terlihat kurang tidur, membuat bocah itu meyakini kalau Ibu-nya sudah disiksa oleh Ayah mereka.
"Kau berbohong Daddy! Bukti-nya, leher Mommy banyak tanda merah-nya!" hardik Sella, dengan nada suara mulai meninggi.
"Kalau bukan karena dipukul, terus kenapa lehermu Mommy??" tanya Bella.
Aditya, dan Aisyah sekilas saling menatap, dan keduanya hanya diam, karena tak mungkin mereka berkata jujur, apa yang terjadi semalam.
Aditya segera menyelesaikan kegiatan memakai sepatu-nya, dan memutuskan untuk segera ke kantor.
Jas hitam yang menggelantung di sandaran kursi- dia jangkau, dan membalutkan ke tubuhya. Menjangkau tas kerja, dan melangkah kaki-nya menuju Aisyah.
"Aku pergi dulu, dan akan cepat pulang karena hanya menemui Clientku!" ucap Aditya, dengan langsung melabuhkan kecupan singkat di bibir Aisyah, dan berlalu begitu saja.
"Kakak...Kau lihat Daddy hanya mencium Mommy saja. Dia bahkan tidak mencium kita!" gerutu Sella pelan, yang nampak kesal karena tidak mendapat kecupan, dari Ayah-nya.
"Iya, apa yang dilakukan Mommy, ya? Sampai bisa membuat Daddy tiba-tiba berubah!"
"Mommy...." panggil Sella tiba-tiba, yang membuyarkan senyuman bahagia di wajah Aisyah.
"Ada apa?"
"Kakek sudah datang, dan dia sedang menunggu Mommy, di taman samping rumah."
Aisyah nampak begitu terkejut, saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak-nya Bella.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mengatakan pada Mommy dari tadi, Bella? "Bahkan Mommy, belum membuat-kan makanan untuk Kakek-mu," seru Aisyah yang terlihat panik.
"Karena Kakek, tidak mau bertemu Daddy!"
****
Aisyah melangkahkan langkah-nya pelan, saat dua kaki itu menyusiri rumput-rumput halus yang membentang di taman itu. Aisyah melangkah-kan kaki-nya, menuju Papa Andi, yang sedang bermain bersama Bella, dan Sella.
Rasa hangat menjalar keseluruh tubuh wanita itu, melihat pemandangan manis di depan mata-nya.
"Papa...."
Wajah Papa Andi berpaling pada asal suara. Senyuman mengukir di wajah tua pria paruh baya itu, dengan melangkah menuju Aisyah.
Saat sudah berada dekat dengan sang Ayah Mertua, Aisyah langsung melabuhkan kecupan singkat di punggung tangan pria itu.
"Maaf, karena tidak mengetahui kalau Papa sudah berada di rumah ini," seru Aisyah dengan memberi senyum kecil-nya.
Papa Andi tersenyum, menatap penuh hangat pada Aisyah.
"Maafkan Papa,"
Menautkan dua alis-nya, dengan sorot mata yang lebih fokus pada Papa Andi, saat mendengar ucapan pria itu.
"Maaf?" tanya Aisyah, dengan wajah bingung-nya.
"Iya, Papa minta maaf yang sebelum-nya tidak menerimamu. Dan SELAMAT DATANG DI KELUARGA WIRAWAN, Aisyah!" ucap Papa Andi, dengan melebarkan kedua tangan-nya.
Tetesan bening sudah menetes dari dua pupil mata Aisyah, bercampur dengan rona bahagia di wajah-nya.
"Terima kasih Paa...Terima kasih, karena sudah menerimaku, menjadi menantumu," seru Aisyah, saat sudah berada di dalam pelukan Ayah Mertua-nya.
Papa Andi mengurai pelukan-itu. Tersenyum, dan mengusap air mata Menantu-nya, yang membuat Aisyah tersenyum yang merasa malu, karena sudah menangis.
"Berjanji-lah, untuk selalu berada disisi putraku."
"Aku janji, Paa! Aku janji, akan selalu berada disisi anakmu!" seru Aisyah antusias.
"Kalau begitu Papa akan menagih janji Papa sekarang, karena kau bilang akan memasak buat Papa! Kau tidak lupa-kan Aisyah?!"
Aisyah tersenyum, saat mendengar ucapan Ayah Mertua-nya. "Aku akan ke dapur sekarang, untuk membuatkan masakan yang enak buat Papa!" seru Aisyah dan berlalu pergi menuju dapur.
****
Aku akan menjawab tentang malam pertama Aisyah.
Awal-nya aku bingung, saat akan menuliskan bab mengenai malam pertama Aisyah, dan Aditya.
Seperti yang kita tahu, kalau Aisyah hamil karena proses INSEMINASI, dan bukan melakukan hubungan Suami-Istri.
__ADS_1
Dan saat melahirkan, dia melahirkan secara CAESAR. Kenapa aku mengisahkan dia melahirkan secara Caesar, karena bukan-kah akan dia akan kesakitan sekali, kalau dua bayi dia lahirkan secara normal.
Mustahil, tapi ini yang aku gambarkan dari seorang Aisyah.