SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
PEMANDANGAN INDAH, PAGI INI


__ADS_3

Mendapati Istri-nya yang terlihat begitu syok dengan pemberitaan tentang Aditya-putranya, gelas kaca berisi air putih-yang berada di atas meja, Andi segera sodorkan pada istrinya.


"Minum-lah dulu, agar diri-mu jauh lebih tenang," pinta Andi.


"Bagaimana aku bisa tenang?! Kalau Aditya akan menikah." Karla terlihat resah, dan juga nampak tidak tenang. Bagaimana mungkin, Wanita itu akan akan tenang? Sementara dia tahu kalau pria yang begitu dicintainya, sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain.


"Aku sudah mendatangi perusahaannya, saat aku tahu kalau anaknya, dan wanita itu tinggal di rumah-nya. Aku mengirah mereka hanya tinggal satu atap, tanpa adanya ikatan apa pun. Tapi ternyata, aku salah menduga. Bahkan Aditya, akan segera menikahi Ibu dari anaknya itu."


"Apakah kau akan tetap membiarkan mereka menikah, Sayang??" Karla masih terlihat resah. Wanita itu mampu belum bisa melepaskan laki-laki pujaannya, bersama wanita lain.


"Aku bingung, harus melakukan apa Karla?! Kau kan tahu sendiri-kan, bagaimana Aditya itu?!"


Karla menghembuskan napas kasar nya, berusaha meredam amarah yang tengah berkobar dalam diri itu. Kepalan tangan itu sangat membungkus, hingga terlihat nyata garis-garis hitam yang berbaris dalam tangannya. Emosi kian membuncah, kala pikiran wanita yang akan menikah dengan pria pujaannya, kembali melintas dalam ingatan.


"Aku harus mendatangi wanita itu, dan memperingatkan dia!" bathin Karla.


*****


Malam sudah menenggelamkan dirinya, kala mentari telah kembali bersinar, bersama kembali hadirnya hari yang baru. Burung-burung bernyanyi merdu, menikmati hari yang indah, dengan guguran daun-daun yang bertaburan, dan menari ke sana-kemari, saat angin sedikit meniupnya.


Membiarkan rambut tergerai indah, berbalut rok plisket, dan juga kaos yang melekat sempurna di tubuh-nya yang mungil.


Pintu yang semula tertutup rapat-dia lebarkan, yang seketika menghantarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Aisyah melukis secuil senyuman, seraya menghantarkan kakinya, menuju taman kecil bak sebuah padang rumput-yang berada di pinggiran hutan kecil.


"Heemmm....Sangat indah!" gumam-nya, sembari menghembuskan napasnya dalamnya, menikmati sejuknya udara pagi itu.


Memandang sejauh mungkin, menikmati pemandangan hari ini, yang begitu memanjakan sepasang bola matanya. Langkah kaki itu kian Aisyah majukan, mendapati bunga mawar merah indah, dengan kupu-kupu cantik yang tengah terbang mengelilinginya.


"Bunganya sangat cantik!" gumamnya sembari mencium wangi bunga, yang baru saja mengeluarkan keindahannya.


Dengan hanya masih berbalut kemeja, tanpa jas yang menemani, Aditya melenggangkan dua kakinya, yang membawa tubuh pria itu ke arah balkon. Melakukan panggilan telepone, dan ntah dari siapa itu?


"Baiklah, kita akan bertemu di kantor nanti" ucap Aditya, pada penelpone diseberang sana.


Tanpa sengaja pandangan itu berpaling. Sorot mata tajam, dengan raut wajah sudah berubah serius, saat mendapati pemandangan di tengah taman, yang sangat menarik perhatiannya.


Tanpa dia sadari, wajah itu mengukir senyuman-senyuman yang sangat ber'isyarat di dalamnya. Langkah kaki itu tanpa dia sadari sudah mengarahkan diri Aditya, pada pinggiran balkon.


Wajah nya terus melukis senyuman, dan dia begitu hanyut dalam suasana hatinya sendiri, seperti tidak menyadari kalau dirinya berada di mana.

__ADS_1


"Ternyata pagi ini, Tuhan memberikan aku pemandangan yang begitu indah, bahkan sangat indah" gumam Aditya, dengan terus melemparkan pandangan itu, pada Aisyah yang sedang menikmati udara pagi hari di tengah taman.


Terlalu hanyut dengan suasana hati yang tengah kasmaran, pria itu sampai tidak menyadari kalau dia masih melakukan panggilan telepone, dengan salah satu rekan bisnisnya.


"Hallo Tuan Aditya....Hallo Tuan....Hallo.." Karena tak ada jawaban dari Aditya, panggilan telepone itu ber'akhir dengan sendirinya, dan Aditya masih hanyut dengan suasana nya sendiri.


"Cantik..." gumamnya.


Simon membuka pintu kamar Tuannya, yang kebetulan tidak terkunci. Mengedarkan pandangannya kesegalah arah, mencari sosok sang Tuan Muda.


Melihat pintu menuju balkon dalam keadaan terbuka, dua kaki Simon langsung dia arahkan ke sana.


Langkah nya yang semula cepat, perlahan Simon pelankan, saat mendapati Tuannya yang ternyata sedang memandang calon istrinya, dan bukan pada taman.


Tetap membiarkan, dan mengambil langkah yang lebih pelan, hingga tanpa Tuan-nya sadari Simon sudah berada di belakangnya.


"Ternyata karena hal ini lah, yang membuat dia belum turun juga," gumam Simon dalam hati, dengan mengulum senyum kecil di wajah.


"Pemandangan pagi ini sangat indah bukan!" ucap Simon pelan.


"Sangat indah, bahkan sangat indah," jawab Aditya tanpa dia sadari. Tapi beberapa saat kemudian Aditya seperti kembali pada dunia nyata, dan dia begitu kaget ketika mendapati Simon, sudah berada di belakangnya. Dan akibat belum siap dengan situasi itu, ponsel yang berada dalam genggaman-nya, jatuh ke bawa.


"Ponselku jatuh, Simon! Apakah kau tidak menyadari?! kalau aku sedang melakukan panggilan telepone dengan Tuan Loard!" seru Aditya, yang terlihat begitu marah.


"Siapa bilang anda sedang melakukan panggilan telepone, Tuan?! Dari tadi yang saya lihat, anda sedang memperhatikan Nona Aisyah."


Aditya langsung cepat-cepat membekap mulut Sekretarisnya, saat melihat Aisyah terus memperhatikan dia, dan Sekretaris nya- Simon.


"Diam kau Simon! Apakah kau membuatku malu?!" Dengan nada pelan, tapi terdengar kasar.


"Mas....Ponselmu....." teriak Aisyah seraya menengadakan kepalanya, menatap heran pada Aditya, dan Simon yang sepertinya tengah berdebat.


"Biarkan saja, Syah..." jawab Aditya, dengan memberi senyumnya.


"Kalau cinta bilang saja, Tuan! Lagi pula besok sudah jadi Istri," ucap Simon tersenyum.


"Kau jangan menuduh Simon! Siapa yang mencintainya?!" seru Aditya, dengan dua kaki yang sudah kembali melangkah, ke dalam kamarnya. Menjangkau jas hitam yang bertengger di atas sofa tunggal, membalut kan ke tubuhnya, dan berlalu dari dalam kamar, setelah menjangkau TAS KERJA-nya.


Aditya melangkahkan kakinya melewati satu per-satu anak tangga, yang akan membawa tubuh itu pada lantai bawa.

__ADS_1


Langkah kaki yang sudah akan menginjak lantai dasar Aditya hentikan, saat melihat Aisyah sudah menunggu mereka di bibir tangga.


"Mas....Ponselmu. Apa yang kau lakukan di sana? Hingga HP mu bisa terjatuh," tanya Aisyah penasaran.


"Karena pagi ini, ada pemandangan yang indah, Nona!" celah Simon cepat.


"Pemandangan indah?" Wajah Aisyah terlihat kebingungan, dengan jawaban Simon yang dia sangat tidak mengerti.


Baru saja dia akan kembali bersuara, tiba-tiba saja Aditya menginjakkan kakinya dengan sangat kuat, yang membuat pria itu merintih kesakitan.


"AUWWW!"


"Apa kau membuat ku malu, Simon?!" Pelan, tapi terdengar kasar


"Maafkan saya Tuan.." jawab Simon, dengan senyum tanpa dosanya.


Menghela napas panjangnya, berusaha menetralkan kondisi hati, yang sedang tidak baik-baik saja, dan kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.


"Apakah semalam mimpimu indah?" tanya Aditya, saat dua kakinya sudah memijak di lantai.


"Iya Mas, semalam aku bermimpi yang indah."


"Apa yang kau mimpikan, Syah?!" tanya Aditya yang terlihat antusias.


"Aku bermimpi, kalau aku memenangkan undian besar, dan aku mengajak Bella dan Sella ke luar negeri."


Aditya nampak kesal. Sebab besar harapannya, kalau Aisyah memimpikan dirinya semalam.


"Jadi semalam kau bermimpi mendapatkan uang yang banyak?!"


"Iya Mas!"


"Ya sudah! Teruskan saja mimpimu, dan tidak perlu bangun lagi!" seru Aditya kesal, dan berlalu begitu saja, yang membuat Aisyah heran dengan sikap pria itu


"Kenapa dia?! Apa ada yang salah dengan jawabanku?!"


CTTAN:


Untuk yang menanyakan kapan Ibu-nya Aditya di temukan.

__ADS_1


Jawabnya , aku sudah menyiapkan semua alur yang menuju ke sana, bagaimana Melinda Ibu dari Aditya bisa bebas dari sana, yang jelas akan ada konflik yang hingga terbongkar kejahatan Karla, sebelum HAPPY ENDING.


__ADS_2