
Gedoran pintu yang sedari tadi diberikan Rati, sama sekali tak diindahkan oleh Aisyah. Diri itu terselimuti ketakutan saat ini, jika saja identitasnya akan terbongkar.
Cucuran air mata masih saja membasahi kedua pipinya- dengan tetesan air yang berjatuhan yang berjatuhan dari rambutnya.
Lunturan crem hitam yang meleleh, Aisyah ucap dengan barisan jemarinya.
"Ya Tuhan... Bagaimana ini? Aku tidak mungkin ke luar dengan keadaan seperti ini. Dan aku juga, tidak mau identitasku terbongkar." gumamnya dengan kegelisan yang masih terselimuti.
"Anisa...Anisa..." Rati seketika bersuara memanggil sahabatnya, ketika gedoran pintu itu-sama sekali tidak diperdulikan oleh Aisyah.
"I..Iya..." jawabnya terbata, ketika menyahutkan panggilan Rati.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Nada itu terdengar khawatri, ketika melontarkan pertanyaan pada sahabatnya.
"Aku baik-baik saja. Dan bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Minta tolong?"
"Iya. Aku ingin kau mengambil tote bagku, yang berada di dalam loker itu."
"Tas mu?"
"Iya Tas."
"Baiklah, kamu tunggu di sini. Aku akan mengambil tasnya."
Belasan menit kemudian
Saat dirinya sudah berada di dalam toilet wanita- Rati segera mengambil langkah panjangnya, menuju toilet di mana-di sana ada Aisyah. Dua kaki itu- Rati jinjitkan setinggi mungkin, agar Aisyah dapat menjangkau tas miliknya.
"Nisa...Nisa... Ini tasnya."
Mendapati tote bagnya di atas pintu, Aisyah segera mengulur panjang kan tangannya-menggapai benda itu.
"Terima kasih," ucapnya setelah tote bagnya, sudah berada di dalam genggaman.
Jemai itu segera menelusukan ke dalam tote bag itu, guna menjangkau sebuah bundaran kecil-yang terdapat crem hitam di dalamnya.
Dengan telaten, Aisyah mulai memoleskan cream hitam ke wajahnya, yang sudah menampilkan garis-garis putih.
"Nisa... Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rati tIba-tiba.
"Tunggu sebentar Rati... Aku sedang memperbaiki penampilanku." jawab Aisyah memberi alasan.
__ADS_1
"Oh, iya. Kamu tunggu di sini, aku akan mengambilkan pakain ganti untukmu." seru Rati, yang baru saja teringat akan pakaian Aisyah yang basah kuyup akibat siraman air.
"Baiklah,"
Setelah jam telah terlewati, bagi Aisyah untuk memperbaiki penampilannya. Aisyah sedari tadi berada di dalam toilet-kini sudah berada di luar toilet, penampilan yang sudah kembali terlihat seperti semula.
"Kamu baik-baik saja-kan, Nisa?" tanya Rati lagi, yang masih menampilkan wajah khawatirnya.
"Aku baik-baik saja, Rati! Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." Aisyah melukis senyum tipis di wajah, saat menjawab apa yang ditanyakan sahabatnya itu.
Walau-pun mendapati sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja, tapi Rati masih tetap saja menunjukkan rasa khawatirnya pada Aisyah. Wajah yang terselimuti dengan rasa iba pada Aisyah, seketika berubah heran- saat mendapati adanya garis-garis putih pada dahi Aisyah.
"Nisa... Sejak kapan kamu punya panu? Kamu lihat, ada warna putih pada kulit wajah kamu." Wajah Rati terlihat bingung, ketika arah pandang itu begitu intens menatap pada wajah sahabatnya.
Diri yang sudah nampak tenang-seketika berubah pias mendengar apa yang baru saja ditanyakan teman baiknya itu. Dengan cepat jemari itu menelusukan ke dalam saku bajunya, menggapai cermin kecil di sana. Dan betapa kagetnya Aisyah, setelah mendapati adanya garis-garis putih pada bagian dahinya.
"Kenapa aku begitu bodoh? Bagaiaman bisa? Aku memakai cream dengan tidak rapi seperti ini." Aisyah berguman dalam hati, merutuki kebohan dirinya sendiri.
"Oh... Ini memang panu. Selama ini tidak terlihat, karena aku selalu memakai pony untuk menutupnya."
Rati membentuk senyuman kecil di wajahnya. Dan senyuman itu terkesan memaksa, ketika rasa curiga kembali menghampiri gadis berambut pendek itu.
"Oh.. Begitu..." jawannya mengambang.
****
Tubuh mungilnya- Aisyah daratkan pada sebuah kursi panjang, dengan melemparkan tatatapannya sejauh mungkin-dengan kosongnya pandangan itu.
"Sangat melelahkan harus terus seperti ini. Dan semoga saja aku sanggup melewati semua ini, sampai kontrak kerjaku selesai dengan Company Group.
Langkah kakinya mengayun dengan pelan, saat dua kaki itu membawa Rati-menuju taman belakang di mana- Aisyah sudah menunggunya sejak tadi.
Langkah kaki itu- Rati hentikan seketika, saat dari jauh sepasang matanya, menangkap sosok yang tengah menikmati kesendiriannya di taman itu.
Hening membiarkan diri itu, yang tenggelam dengan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Kemari tahi lalatnya. Dan aku sangat yakin, kalau tahi lalat yang Aisyah pakai itu-adalah tahi lalat palsu. Dan tadi dia bilang, kalau garis-garis putih itu adalah panu. Setahu aku, Nisa sama sekali tidak memiliki panu di dahinya. Dan aku sangat yakin, kalau Nisa menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku sangat-sangat yakin, kalau dia hidup dengan dua identis. Dan aku akan membuntutinya, setelah pulang kerja nanti." gumam Rati, meyakinkan diri itu.
Setelah membiarkan beberapa menit berlalu, Rati memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kaki itu, menghampiri pada sahabatnya. Dan saat jarak dirinya-dengan Aisyah sudah semakin dekat, Rati sengaja berpura-pura batuk, hanya untuk menyadarkan Aisyah dengan kedatangannya.
"Rati.." gumamnya dengan wajah berpaling ke asal suara.
Senyuman kecil Rati lukiskan di wajahnya, dengan mengayunkan langkah kaki itu- menghampiri pada Aisyah- seraya mendaratkan segera tubuhnya di sisi sahabatnya, yang masih kosong.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rati, dengan tangan mengulur pada Aisyah-menyerahkan botol air mineral.
Aisyah tersenyum getir, seraya jemarinya menjangkau pada botol minuman itu. Senyum yang dia lukiskan, sangat memaksa karena sebenarnya dirinya saat ini-sangat jauh dari kata baik.
"Aku baik-baik saja." jawabnya berbohong.
"Maafkan aku, karena tadi datang terlambat. Lili-pasti iri padamu, karena kau baru saja bekerja di Company Group, tapi langsung ditempatkan posisi, yang sedari dulu sangat diingikan para CS yang bekerja di sini."
Menghembuskan napas panjangnya, dengan wajah memaling jauh ke depan, dengan tatapan yang penuh kehampaan.
"Semua Cleaning Cervise mungkin sangat menginginkan posiku, tapi aku justru sangat menginginkan posisi mereka."
"Memangnya kenapa? Apakah kamu merasa tidak nyaman dekat dengan Pak Aditya?" Rati seketika dilanda rasa penasaran, dengan jawaban dari Aisyah-yang membuatnya sedikit bingung.
"Ntahlah..." jawabnya menggantung.
****
Jarum jam terus berputar mengeliligi bundaran rumahnya- hingga waktu terus saja melangkah, sudah menyampai waktu sore hari. Senja sudah terlihat, kala mentari sudah mulai sedikit menyembunyikan dirinya, di balik gunung yang menjulang tinggi.
Senyuman terus membentang di wajah Aisyah, dan juga Rati-sat dua kaki itu, membawa tubuh keduanya pada bibir jalan yang berada di depan area Company Group.
"Rati.. Kamu belum pulang? Bukankah biasanya- kamu yang akan suka pulang terlebih dahulu- dari pada aku?"
"Aku sedang menunggu jemputan." jawab Rati memberi alasan.
Sulit dijabarkan bagaimana senyuman Aisyah. Wanita itu seketika memalingkan wajahnya pada Rati, yang nampak terlihat tenang saat berada disampingnya. Hingga membuat Aisyah seketika menyimpulkan sendiri-kalau sahabatnya Rati-sudah memiliki kekasih tanpa sepengatuhannya.
"Pasti kamu, sedang menunggu pacarmu! Hingga dari tadi ojek yang lewat, kamu gak memberhintakan mereka."
Rati menampilkan senyum kikuknya, akan semua yang dituduhkan Aisyah padanya- sangat jauh dari kebenaran. Dan untuk memuluskan rencananya, mau tidak mau Rati membenarkan tuduhan itu.
"Aku pasti akan mengenalkan padamu, nanti."
"Benarkah??"
"Tentu saja,"
"Baiklah. Karena memang kamu harus mengenalkan, padaku."
Seketika Ibu muda itu-bersuara, setelah mendapati tukang ojek yang melintas di depan mereka.
"Bang..." panggilnya, hingga seketika tukang ojek itu-menepikan kendaraannya tepat di depan Aisyah.
__ADS_1