SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERBAGI KISAH


__ADS_3

Dua kakinya Aisyah langkah-kan mendekat pada Aditya, yang sedang menikmati keindahan taman di malam hari. Langkah kaki itu dia hentikan seketika, dengan memberi jaraknya dengan pria itu.


Aditya membalikkan tubuh itu, dan mengayunkan langkahnya menuju sebuah pada panjang-yang terletak di pinggiran teras, dan melabuhkan tubuhnya di sana.


"Kenapa kau diam saja? Ayo kemarilah!"


"Aku?!" Dengan menunjuk pada diri sendiri, dengan raut wajah bingung.


"Tentu saja. Memang ada orang lain selain dirimu, di sini?!" tanya Aditya dengan terkekeh pelan, yang merasa lucu dengan sikap Aisyah.


Tanpa berucap-Aisyah segera melenggangkan dua kakinya, menghampiri pada kursi panjan. Tubuh itu dia labuhkan di ujung kursi, dengan sedikit memberi jarak untuk dia, dan Aditya.


Dan pria itu kembali terkekeh, saat Aisyah duduk sedikit jauh dengannya.


"Kau takut padaku?" tanya Aditya tiba-tiba.


"Tidak! Buat apa aku takut pada Tuan, eh! Maksud ku Mas. Aku hanya tidak mau saja duduk terlalu dekat denganmu, nanti para pelaya akan berpikir kalau aku ingin menggodamu."


Seringai kecil di wajah Aditya, begitu mendengar apa yang baru saja Aisyah katakan.


"Siapa yang berpikiran buruk tentang kita. Bahkan di rumah ini, hanya Simon saja yang tahu kalau Bella, dan Sella terlahir karena proses inseminasi."


Keningnya Aisyah mengkerut, sorot mata itu jauh lebih intens, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Aditya-yang membuatnya sedikit kaget.


"Benarkah?!"


"Ya. Jadi mulai sekarang, biasakan apa yang aku lakukan padamu."


"Maksud Mas?"


"Seperti aku harus menciummu, setelah aku pulang, dan pergi kerja."


"Mana bisa seperti itu?!" seru Aisyah yang nampak tidak terima, dengan ucapan Aditya.


"Jadi kau keberatan?"


"Tentu saja Mas, aku keberatan. Karena di sini yang dirugikan adalah aku. Masa kamu harus menciumku setiap hari?!" seru Aisyah dengan mimik cemberutnya.


"Apakah kau pikir aku juga tidak keberatan? Bahkan bibirku juga pasti akan cape, kalau setiap hari harus menciummu. Dan kau sebenarnya harus bersyukur karena Bella, dan Sella hanya meminta aku untuk menciummu, dan tidak meminta kita berdua untuk bersamamu. Jadi sekarang kau pikir, mana yang jauh lebih berat?"


Aisyah terdiam. Gerakan matanya menatap pada Aditya, yang balik menatapnya hingga membuat kedua mata itu saling beradu. Tapi dengan cepat Aditya memalingkan wajahnya ke depan, saat lagi-lagi getaran dalam dada kembali menghantam.


"Baiklah. Setidaknya itu jauh lebih baik, dari pada mereka meminta kita tidur bersama," seru Aisyah pasrah.


"Dan ternyata kau baru menyadarinya."

__ADS_1


"Maaf..." jawab Aisyah pelan.


Hening melanda. Dua sosok dewasa itu tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Malam yang kian menjemput, ditambah udara malam yang semakin mengusai, membuat keduanya masih beranjak dari duduknya.


Aisyah menghimpit tubuh itu dengan kedua tangannya, saat angin malam menghembus sedikit kencang, hingga sampai menyentuh sum-sum tulangnya.


"Kalau dingin? Masuklah!"


"Tidak! Aku masih ingin di sini. Malam ini sangatlah indah." Dengan mendongak memandang, pada gelapnya langit di atas sana.


"Sangat indah?"


"Iya Mas...Coba kau pandang bulan, dan bintang di sana. Sangat indah bukan?" pinta Aisyah seraya menunjukkan jarinya, ke atas langit yang di temani sinar bulan, dan bintang yang bersinar indah.


"Iya sangat indah. Tapi akan jauh lebih indah, jika mereka dapat mengatakan di mana Mamaku." Wajah yang tadi sedikit ceria-kini sudah berubah muram, kala rasa rindu pada sang Bunda-kembali menghinggap dirinya.


"Memang di mana Mama mu, Mas?" Aisyah seketika menampilkan wajah penasarannya. Wanita berbut hitam itu nampak begitu kaget, dengan penuturan Aditya barusan yang seperti misteri.


"Ibuku sudah meninggal."


"Kalau memang sudah meninggal? Kenapa justru kamu meminta bulan, dan bintang mengatakan di mana dia berada? Kamu ada-ada saja Mas! Bukankah kamu tinggal pergi ke makamnya?!" seru Aisyah yang mengakhiri ucapannya, dengan sebuah senyuman.


Menghembuskan napas panjangnya. Arah itu Aditya lemparkan lurus, menatap pada kekosongan di depannya.


"Mamaku mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Mobil yang dia kendarai masuk ke dalam sungai, dan jenasahnya belum ditemukan sampai saat ini. Sudah bertahun-tahun melakukan pencarian, tapi hasilnya selalu nihil."


"Maafkan aku, Mas..Aku tidak tahu. Dan maaf."


Aditya mengukir senyum tipis di wajah. Dengan sekilas melemparkan pandangannya, pada Aisyah.


"Cepat atau lambat, kamu pasti akan mengetahui kehidupan pribadiku."


"Mas..." panggil Aisyah pelan.


"Yaa.."


"Di mana Papamu?"


"Papaku sudah menikah lagi dengan Sekretaris pribadinya, setelah beberapa bulan kematian Mama. Dan sejak saat itu, hubungan kami menjadi tidak baik."


Lagi-lagi Aisyah dibuat terkejut. Dan dia tidak menyangkah, kalau dibalik sempurnanya hidup seorang Aditya, pria itu tidak memiliki keluarga yang harmonis sama seperti dirinya.


"Apakah Mas tidak menyetujui jika Papa-nya Mas, menikah lagi? Jadi itu-kah yang membuat hubungan kalian tidak baik?"


"Awalnya seperti itu, karena Papaku menikah tanpa berbicara terlebih dahulu padaku. Namun lambat laun aku semakin membenci, karena Ibu tiriku memiliki sikap yang begitu buruk."

__ADS_1


"Begitu...Dan kalau boleh aku ingin menanyakan sesuatu."


"Menanyakan apa?!" tanya Aditya cepat.


"Heemmm...!" Dan dia pun terlihat ragu. Sebab yang akan dia tanyakan kali ini, lebih bersikap pribadi.


"Tanyakan, apa yang ingin kau tanyakan?! Jangan buat aku penasaran!" pinta Aditya, dengan nada yang terdengar tegas.


"Apakah Mas memiliki kekasih?"


Aditya menyeringai, begitu mendengar apa yang baru saja Aisyah tanyakan padanya, yaitu tentang kehidupan percintaannya.


"Kau semakin berani padaku, Aisyah? Bahkan sekarang kau menanyakan kehidupan asmaraku."


"Kalau memang Mas keberatan? Aku tidak masalah, kalau tidak ingn mengatakan."


"Aku pernah bertunangan dengan seorang wanita, dan saat itu aku begitu mencintainya. Sangat mencintai, hingga aku menjadi bodoh kalau dia hanya mempermainkanku."


"Sekarang di mana wanita?"


"Aku tidak tahu, lagi pula aku sudah tidak perduli di mana dia berada. Dan karena itu lah.." Dengan tidak melanjutkan lagi, ucapannya.


"Apakah karena Mas, sudah kehilangan kepercayaan pada seorang wanita? Jadi Mas ingin memiliki anak, tanpa harus menikah. Yaitu dengan cara inseminasi."


"Ya!" jawab Aditya tegas.


Aisyah menghembuskan napas dalamnya, setelah mendengar alasan dibalik seorang Aditya Wirawan melakukan inseminasi. Cukup lama Aisyah membungkam bibirnya, membiarkan beberapa menit berlalu. Angin meniup kencang, menerbangkan rambut yang sedikit tertata rapi yang menambah ketampanan pria itu.


"Tidak semua wanita seperti mantan kekasihmu itu. Aku belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta itu seperti apa. Tapi aku sangat yakin, kalau cinta sejati itu ada."


"Dan apa yang kamu lakukan? Jika suatu saat kamu bertemu cinta sejatimu."


"Aku akan mencintainya, dan menyerahkan seluruh hidupku padanya. Dan mendampingi sampai maut memisahkan kami."


"Dan apakah menurutmu, aku bisa menemukan wanita seperti itu?"


"Tentu saja. Karena ada wanita seperti itu. Dan salah satunya aku." Aisyah berucap dengan bangga.


"Kalau begitu mintalah pada Tuhan, agar aku bisa mendapatkan wanita seperti itu."


"Kenapa bukan Mas yang meminta saja? Kenapa harus aku?"


"Baiklah. Kalau begitu kamu memintalah pada Tuhan, agar kamu memiliki suami yang mempunyai kepribadian seperti aku," seru Aditya dengan langsung beranjak dari duduknya.


"Kenapa harus seperti itu?!"

__ADS_1


"Karena agar rumah tanggamu jauh lebih seru, Aisyah! Dan bangunlah mau sampai kapan kamu berada di sini?" seru Aditya dengan langsung menarik tangan Aisyah. Tapi karena wanita itu berada dalam posisi yang tak siap, membuat tubuh itu akhirnya menghantam tubuh Aditya.


__ADS_2