SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KEBAHAGIAN


__ADS_3

Berada di bawah kaki bukit, membuat udara dingin begitu terasa di vila milik Istri seorang pengusaha kaya itu.


Tak ada aktivitas yang nampak mencolok di sana, sejak kematian Karla yang terdengar sampai ke telinga mereka, membuat para Pelayan di sana, tidak terlalu memaksakan diri, untuk bekerja.


Bibi Ima, dan juga Siti nampak menikmati waktu senggang mereka, dengan berduduk santai disebuah pendopo, yang berada di taman itu.


Tatapan mata Siti, tak senjaga berpaling pada arah lain, dan di sana mendapati Baron yang tengah menelpone seseorang.


Siti terus memandang pada Baron, yang masih melakukan panggilan telepone.


"Nyonya Karla sudah meninggal. Aku yakin, Baron juga pasti tengah was-was, takut jika dirinya juga ditangkap,"


"Iya. Bibi juga yakin seperti itu. Kau lihat saja, beberapa hari ini dia nampak uring-uringan, setelah mengetahui kalau selingkuhannya itu, meninggal karena saat mencoba kabur dari kejaran Polisi."


"Dia pasti takut, kalau Polisi menangkapnya juga, karena selama ini terlibat dalam aksi penculikan Nyonya Melinda."


"Iya. Kita lihat saja wajah-nya, nampak resah," timpal Bibi Ani.


Menerangwangkan tatapan mata itu tiba-tiba, kala rindu pada wanita yang begitu dekat dengannya selama ini.


"Kau kenapa Siti? Kenapa kau melamun?"


Senyuman kecil Siti ukir di wajah, dengan membalikkan tatapan matanya, pada Bibi Ima.


"Aku merindukan, Nyonya Melinda Bibi! Sangat merindukan. Ingin menghubunginya, tapi sayangnya kita tidak tahu, nomor yang bisa kita hubungi, agar berbicara dengan dia."


"Bibi juga, sangat merindukannya. Nyonya Karla sudah mendapatkan balasan yang setimpal, dengan perbuatannya."


Suasana tenang begitu tercipta disekitar wilayah vilam dan tak ada yang menyadari sama sekali, kalau tempat itu telah dikepung oleh anggota Polisi.


"ANDA YANG BERNAMA BARON, KAMI MINTA SEGERA MENYERAHKAN DIRI ANDA, KARENA TEMPAT INI TELAH KAMI KEPUNG!"


Suara yang begitu menggema, dengan menggunaka alat pengeras suara, membuat para penghuni vila itu sangat terkejut.


Baron yang baru saja akan kembali ke dalam vila, sangat dibuat kaget, sebab pria itu sama sekali tidak menyangkah, kalau vila yang selama beberapa tahun dia tinggali, sudah dikepung oleh pihak kepolisian.


Tentu saja pria itu tak ingin dirinya ditangkap. Cepat berlalu menuju sebuah ruangan, dan membuka sebuah lemari.


Uang-uang yang berada di dalam, segera dengan cepat dia masukkkan ke dalam sebuah tas, dan menggantungkan di pundaknya.


Melangkah dengan cepat, dan tentu saja dengan sebuah pistol yang berada di dalam genggaman.

__ADS_1


Pintu ruangan dia lebarkan, dan baru saja mengambil satu langkah tiba-tiba pria itu, di buat kaget, dengan seseorang yang menendangnya.


"BUUUGGG!"


Langsung tersungkur ke lantai, dan pistol yang berada di dalam genggaman pun, terlepas.


"Anda??" seru Baron. Pria bertubuh tinggi itu, sangat kaget saat mendapati Aditya yang berada didekatnya.


"Kenapa kau terkejut, melihat aku disini?!" Seringai jahat mengukir di wajah Aditya, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada pria itu.


"Saya tidak perduli dengan siapa anda! Karena saya sama sekali tidak memiliki urusan dengan-Mu, Tuan Aditya!"


"BUUGGG!" Sebuah tendangan kembali Aditya berikan, setelah mendengar ucapan pria itu.


"Kau memang tidak berurusan denganku, tapi tanpa kau sadari kau sudah beurusan denganku, karena kau sudah membantu wanita iblis itu, untuk menculik Ibuku!"


"AKu tidak perduli!" Mendapati Aditya yang tengah lengah, dengan cepat Baron mengambil senjata api miliknya, dan menembak tepat ke arah Aditya.


"DOOR!" Tak menyadari akan hal itu, akhirnya membuat Aditya terkena tembakan di lengan kanannya, hingga pria itu tersungkur.


"Kita memang tidak memiliki urusan, Tuan! Tapi takdir sudah mengatakan, kalau anda akan mati di tanganku." Seringai jahat membingkai di wajah Baron, dengan mengarahkan pistol ke arah Aditya.


Seringai jahat kembali menyelimuti wajah pria itu, saat akan menarik pelatuknya. Baru saja jarinya akan menyentuh-nya, suara tembakan, dan itu mengarah di lutut Baron, hingga membuat pria itu langsung terjatuh, dengan posisi berlutut.


Mendapatkan titah dari sang atasan, kedua anggota Polisi itu langsung bergerak cepat, menangkap Baron.


"Lepaskan saya! Lepaskan.." teriak Baron, saat pria itu digiring ke luar oleh petugas Polisi.


"Tuan anda baik-baik saja?!" tanya Simon cepat, dengan langkah kaki yang dia ayunkan pada Aditya.


"Mana mungkin aku baik-baik saja, Simon! Apakah kau tidak melihat kalau aku tertembak!"


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit!"


"Baiklah, dan perintahkan untuk membebaskan para pekerja di sini."


"Baik Tuan.."


Saat melangkah ke luar Aditya berpapasan dengan dua wanita beda usia. Mengingat cerita Ibu-nya, Aditya meyakini kalau mereka adalah Bibi Ima, dan Siti.


"Apakah kalian berdua yang bernama Bibi Ima, dan Siti?"

__ADS_1


"Terima kasih, karena sudah membantu Mamaku untuk terlepas dari sini. Dan aku minta, kalian untuk sementara mengurus vila ini."


"Baik Tuan.." jawab Bibi Ima, dan Siti bersamaan.


****


Lima bulan telah berlalu setelah insiden penembakan itu. Semua kembali tenang, dalam suasana bahagia walaupun Papa Andi sampai saat ini, belum menunjukkan tanda-tanda pria itu akan sadar dari komanya.


Senyuman kecil membingkai di wajah Aisyah, menatap pada Mama Melinda yang tengah membersikan jari-jari Suami-nya, dengan sebuah lap basah.


"Mama begitu mencintai Papa. Bahkan saat Papa terbaring koma, dia selalu setia berada disampingnya," gumam Aisyah dalam hati.


"Syah..Bisakah kau mengambil tisu untuk Mama?" pinta Mama Melinda tiba-tiba.


"Bisa Maa!" Senyuman kecil, dengan bangkit dari duduknya.


Dua kaki sudah dia ambil, karena posisi letak tisu yang sedikit jauh. Tapi langkah kaki itu tiba-tiba saja Aisyah hentikan, kala merasa dunia berputar.


"Kamu kenapa Syah? Kamu baik-baik saja?" tanya Mama Melinda, yang melihat wajah Aisyah nampak sudah berubah.


Tatapan mata yang jelas perlahan memburam, dan nampak kian gelap. Dua kaki yang sudah tak sanggup menopang tubuh itu sendiri, akhirnya membuat Aisyah ambruk ke lantai.


"Aisyah...." seru Mama Melinda dengan wajah paniknya.


Beberapa jam pingsan, akhirnya Aisyah pun sadar.


Bola mata yang sedari tadi setia tertutup, perlahan membuka. Samar-samar awal tatapan mata itu, dan perlahan terlihat jelas.


"Mas..." panggilnya dengan suara pelan.


Bella, dan Sella yang mendapati sang Bunda sudah membuka matanya, langsung menghampiri.


"Mommy...Mommy...Dokter bilang, kalau dalam perutmu ada adik kami!" seru Sella dengan wajah sumringah.


"Iya Mommy...Tadi Mommy jatuh, karena dalam perut Mommy! Ada adik aku, dan Sella. Iyakan Daddy?" timpal Bella.


Tatapan Aisyah dia alihkan pada Aditya, yang tersenyum padanya.


"Apakah itu benar Mas? Kalau aku sedang hamil?" Tak sanggup membendung rasa bahagia, buliran bening sudah membasahi pipinya.


Tersenyum, dan mengiyahkan pertanyaan sang Istri.

__ADS_1


"Iya, kau sedang hamil."


__ADS_2