SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MEMAKSA MOMMY


__ADS_3

Setelah selesai dengan panggilan teleponenya, Karla memutuskan untuk mengingililingi area vilanya- guna mengusir suasana hati yang tengah buruk saat ini .


Dua kakinya dia ayunkan menuruni tangga dengan alunan kaki yang sedikit cepat, melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa.


"Anda mau ke mana, Nyonya?" Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang, yang bertanya padanya.


Langkah kaki yang tengah Karla ayun-kan seketika dia hentikan, dan berbalik pada asal suara.


"Aku ingin ke jalan-jalan di luar sebentar, Baron." Menjawab dengan senyuman, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Tapi ayunan kaki yang baru beberapa kali dia langkahkan, seketika Karla hentikan saat memorynya teringat akan apa yang disampaikan Sisi tadi.


"Oh..Iya. Dua hari lagi, aku akan pulang ke Jalarta."


"Apakah ada yang penting, hingga anda ingin cepat pulang Nyonya?" tanya Baron dengan sorot mata lebih dalam menatap Karla, setelah mendengar apa yang wanita itu sampai-kan.


Mendesahkan napas tegasnya, teringat kembali akan hal itu yang membuat dadanya seketika terasa sesak, akibat rasa cemburunya.


"Wanita itu, sudah tinggal di rumah Aditya. Dan kau pasti sudah tahu, kalau aku tidak akan membiarkan wanita mana pun mendapatkan Aditya-ku," jawab Karla, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Baron menggeleng-geleng pelan kepalanya, dengan bola mata yang ikut menatap perginya Karla menuju taman.


"Dia benar-benar ingin mendapatkan, Aditya Wirawan. Padahal di sini, Ibu pria itu dia sekap, dan sering dia siksa," gumam Baron.


Dua kaki jenjang Karla mengambil langkah yang panjangnya, menuju taman yang berhamburan dengan rumput-rumput hijau.


Karla mengdesahkan napas panjangnya, menghirup udara sekitar yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon hijau.


Senyum dia tampilkan di wajah, mendapati keindahan alam sekitarnya dengan bunga-bunga bermekaran, dan burung-burung kecil yang terbang ke sana, kemari. Senyum indahnya memudar seketika, saat tak sengaja dia mendapati keberadaan Melinda.


Gemuruh di dalam dada, berkobar seketika akan rasa bencinya pada Ibu dari Aditya Wirawan itu. Dua kakinya segera Karla langkahkan dengan cepat, yang membawanya pada Melinda.


Tumpukan rumput yang sudah sedikit menggunung, Karla hempaskan dengan dua kakinya, yang membuat Melinda menyadai adanya adanya istri-suaminya.


"Kenapa? Kaget melihatku. Ha...Ha....Ha...." Dan dia pun tertawa lebar, dengan tatapan kebenciannya.


"Aku tidak kaget! Bukankah vila ini milikmu?"


"Ya. Dan sebentar lagi, aku akan memiliki lebih banyak lagi kemewahan, setelah aku mendapatkan anakmu. Dan setelah mendapatkan Aditya, aku akan menyingkirkan Andi untuk selamanya."


"Kau memang jahat, Karla.." eriak Melinda.


"Ya aku memang jahat, dan aku tidak akan pernah puas sebelum mendapatkan apa yang aku mau. Dan setelah mendapatkan anakmu, aku akan menyingkirkammu juga untuk selamanya."


"Aku tidak yakin, kalau kau bisa mendapatkan anakku. Mana mungkin, anaku Aditya-mau menjadIkan WANITA MURAHAN sepertimu, sebagai istrinya!" ucap Melinda, dengan menampilkan senyuman mencemoohnya.


"Kau...!" Karla terlihat naik pitam dengan apa yang baru saja Melinda lontarkan padanya. Satu tangannya dia ayunakan setinggi mungkin guna memberi tamparan pada Melinda. Tapi lagi-lagi, gagal karena kedatangan Baron.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku, Baron! Lepaskan!" Dengan berusaha melepaskan tangannya, dari cengkraman tangan anak buahnya itu.


"Ayo Nyonya kita ke dalam!"


"Tidak! Aku harus menampar wanita tua ini!" ucap Karla dengan kilatan api, yang begitu membara didua matanya.


"Ayo Nyonya!" Tiba-tiba saja siti yang merupakan pelayan di vila itu datang, dan menarik tangan Melinda menjauh dari Karla yang sudah tersulut emosi.


Karla nampak tidak puas. Wanita itu terus merontakkan tubuhnya yang berada dalam pelukan erat Baron, dan meneriaki Melinda dengan emosi yang meluap-luap.


"Hei wanita tua.... Aku pastikan akan mendapatkan anakmu... Setelah itu, aku akan membunuhmu.." teriak Karla penuh emosi.


****


Senja kembali menyapa, kala matahari perlahan mulai memberi senyumnya sedikit saja di balik gunung yang berpijak.


Berdiri di bawa kuncuran air yang terus mengalir, dengan tumpukan alat-alat dapur yang sudah terbilas dengan sabun.


Tegakan tubuh Aisyah sedikit oleng, saat tiba-tiba saja salah satu putrinya memeluknya dari belakang.


"Mommy..Apakah kau sudah selesai mencuci piringnya?" tanya Sella nada suara yang manja.


"Sedikitt lagi Sayang..."


"Tapi ini sudha sore, Mommy! Sebentar lagi Daddy akan pulang."


"Kalau Daddy sudah pulang, terus kenapa?" tanya Aisyah balik dengan santainya, sambil terus melakukan kegiatan cuci piringnya.


"Bukankah kau belum mandi, Mommy! Bagaimana kalau Daddy tiba-tiba datang, kau masih jelek begini!" ucapnya sedikit kesal.


"Apa perduli, Mommy! Emang Mommy pikirin!" jawab Aisyah tersenyum, yang kian menambah wajah sangatr Sella.


"Ayo Mommy! Kau harus mandi sekarang. Karena sebentar lagi Daddy akan pulang." Dengan menarik seketika tangan sang Bunda.


"Tapi Sella, Mommy harus mencuci piringnya.." pinta Aisyah, dengan tatapan penuh harap.


"Biar saya saja, yang melakukannya Nona!"ucap Ijah tiba-tIba dengan ayunan kaki, yang mendekat pada Aisyah, dan juga putrinya.


"Tapi aku.."


"Tidak apa-apa Nyonya!"


"Baiklah.." jawab Aisyah pasrah, hingga ayunan kaki yang ikut melangkah mengkuti langkah kaki Sella.


****


Aisyah sudah terlihat cantik, tapi hanya dengan berpenampilan sederhana. Tanpa bedak, dan juga lipstik, atau pun lip-blam yang meronakan bibir itu. Rambut yang sudah sedikit kering dia kuncir, tapi langsung dilepaskan oleh putrinya.

__ADS_1


"Mommy, ingin menguncir rambutnya Sella!" pinta Aisyah.


"Nannti kau tidak cantik Mommy.."


"Bukankah biasanya, Mommy seperti ini?"


"Itu dulu, saat belum ada Daddy bersama kita!" jawab Sella kesal.


"Mommy...Apakah kau tidak memiliki baju yang sediki bagus?" tanya Bella tiba-tiba.


"Mana Mommy punya uang, untuk membelinya."


"Kasian sekali kau Mommy! Memiliki suami yang kaya tapi tidak ada baju yang bagus. Dan nanti jika suamimu datang, aku akan meminta uang padanya, untuk membeli baju," seru Sella dengan bangga.


"Tidak boleh! Mommy tidak mau," jawab Aisyah tegas.


"Aku akan tetap memintanya, Mommy! Walau pun Mommy melarangnya," kekeh Sella.


"Mommy... Pakailah sedikit bedak," pinta Bella tiba-tiba.


"Mommy tidak mau!"


"Mommy harus memakainya, dan juga lipstik ini, kalau tidak aku tidak mau makan!" rajuk Bella.


"Baiklah," jawab Aisyah pasrah yang lagi-lagi hanya bisa menuruti keinginan kedua anaknya.


Sella seketika ber-lari ke arah tangga. Melemparkan tatapan matanya jauh ke arah pintu gerbang, dan mendapati sebuah mobil mewah yang baru saja memasuki area rumahnya. Senyuman mengembang di wajah mungil itu, dan berlari kecil menghampiri pada Bella, dan sang Bunda.


"Kakak! Mommy... Daddy sudah datang!" ucapnya tersenyum.


Bella yang tengah menyisir rambut sang Bunda, seketika menghentikan kegiatannya, dan menarik Ibunya ke luar dari dalam kamar.


"Apa yang akan kalian lakukan pada, Mommy?!"


"Kita harus menyambut kepulangan Daddy, Mommy!"


"Tapi Mommy.." Dan lagi-lagi tubuh itu terbawa, oleh tarikan dua anaknya.


****


Aditya melangkahkan dua kakinya dengan pelan, memasuki rumah mewahnya. Saat baru menginjakkan dua kakinya di dakam rumah, pengusaha muda tampan itu disambut oleh Ani, sang kepala pelayan.


"Selamat sore, Tuan.." sapanya ramah."


"Sore!" Dan tatapan mata itu seketika berpaling pada asal suara, di mana Bella dan Sella berlari tengah menyambanginya.


"Daddy..." Dan dia melemparkan pandangan. Tatapan yang tado Aditya tujuhkan pada kedua putrinya, seketika beralih pada sosok cantik yang baru saja memijakkan dua kakinya pada lantai bawa.

__ADS_1


Tatapan itu sulit diartikan, menatap penuh kagum pada sosok itu, dan betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang sudah melahirkan kedua putriinya.


"Cantik! Kenapa aku jadi berdebar begini?" gumamnya, dengan terus melemparkan pandangannya pada Aisyah.


__ADS_2