SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KAGETNYA PARA PELAYAN


__ADS_3

Sisi, dan Bibi Ijah sekilas melemparkan pandangan. Kedua wanita beda usia itu, terlihat begitu sangat kaget, dengan apa yang baru saja Mama Melinda katakan pada mereka. Kalau selama ini diri-nya diculik, dan dijadikan budak oleh seseorang.


"Siapa yang melakukan-nya, Nyonya?" tanya Bibi Ijah cepat, yang sudah sangat penasaran.


"Iya. Siapa yang melakukannya, Nyonya?" tanya Sisi pula, yang tidak kalah penasarannya.


"Karla!" jawab Aditya. Menjawab apa yang Bibi Ijah, tanyakan.


Sekilas Bibi Ijah, dan Sisi saling menatap, dengan raut wajah tidak percaya-nya. Apalagi Sisi. Pelayan muda itu, menunjukkan rasa tidak percayanya, sebab yang selama ini dia menilai Karla adalah sosok wanita, dan Ibu tiri yang begitu baik pada Majikan pria mereka.


"Apakah anda serius, Tuan?" tanya Sisi memastikan, apa yang Tuannya sampaikan.


Bibir Aditya setengah terbuka, guna untuk menjawab apa yangSisi tanyakan. Tapi gagal, kala perhatian mereka teralih dengan kedatangan Simon, dan beberapa Pelayan dan Pekerja lainnya.


Paula, salah satu Pelayan muda-segera mengambil langkah panjangnya menghampiri pada Sisi.


"Paula...Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Sisi dengan raut wajah herannya, kala dia mendapati Paula, dan rekannya yang lain datang ke ruang utama.


"Ntalah, aku juga tidak tahu kenapa? Tapi Sekretaris Simon bilang, ini atas dasar permintaan Tuan Aditya. Dan bukankah itu Nyonya Besar?"


"Iya."


"Bukankah dia sudah meninggal?


"Dia tidak meninggal, tapi dia diculik, dan dijadikan budak oleh Nyonya Karla."


"Benarkah?" tanya Paula balik, tapi perhatian mereka teralih saat tiba-tiba saja Aditya bersuara.


"Kalian pasti bertanya dalam hati. Buat apa aku memanggil kalian ke sini. Dan aku yakin, kalian juga pasti sangat kaget, saat melihat keberadaan Mama ku, di rumah ini. Karena selama ini yang kalian tahu, kalau beliau sudah meninggal. Dan alasan apa aku memanggil kalian kemari?! Karena aku tidak mau, kalau salah satu diantara kalian, ada yang membocorkan keberadaan Mamaku, pada Karla-Istri kedua Papaku, kalau Mamaku sedang berada di rumah ini!" seru Aditya menekan kata-katanya.


Para Pelayan, dan juga Pekerja lain-nya saling berbisik pelan di sana, setelah mendengar apa yang baru saja sampaikan Majikan pria mereka. . Apalagi pria itu, menyebut nama Karla yang mereka tahu, sebagai Ibu tiri dari Majikan mereka.

__ADS_1


"Kenapa aku meminta kalian jangan memberitahukan pada Karla? Karena wanita itu, adalah biang kehajatan semua ini. Dia menculik Mama-ku, dan membuat seolah Mama-ku sudah meninggal, dengan cara membuat mobil yang Mamaku kendarai, tercebur ke sungai hingga orang semua orang berpikir, kalau jenasahnya hanyut ke sungai.


Wajah kaget seketika menyelimuti semua para Pelayan, dan juga Pekerja lain-nya setelah merekamendengar, apa yang baru saja Aditya sampaikan. KALAU KARLA YANG MEREKA KENAL BEGITU BAIK, MEMILIKI SIFAT YANGA SANGAT JAHAT.


"Dan perlu kalian tahu, kalau Jumina dibunuh oleh orang suruhan dari Karla, jadi dia otak pembunuhan terhadap rekan kalian Jumina."


"Apa?? Apakah anda serius, Tuan? Jadi Nyonya Karla adalah dalang pembunuhan, dari Jumina?!" Bibi Ijah begitu sangat terkejut, setelah mendengar apa yang baru saja Aditya katakan. Kalau rekan sebaya-nya itu, meninggal karena dibunuh oleh seorang Pria, dan Ibu tiri dari Tuan-nya, adalah otak dari pembunuhan.


"Iya. Dan kau Sisi!" seru Aditya tegas, dengan lemparan mata tajam pada Pelayan rumahnya itu.


"Saya Tuan?" tanya Sisi balik.


"Kau adalah orang, yang paling dekat dengan Karla."


"Saya memang dekat dengannya, Tuan! Tapi saya tidak tahu, kalau Nyonya Karla sejahat ini."


"Mamaku sedang berada di rumah. Dan Karla sama sekali tidak mengetahui-nya. Karena yang dia tahu, kalau Mamaku sudah meninggal. Jadi jika keberadaan Mamaku sampai bocor ke telinga-Karla, maka kau adalah orang yang aku salahkan. Dan aku juga tidak segan-segan memasukkan mu ke penjara, karena secara tidak langsung membantu Karla untuk berbuat jahat."


"Bagus, aku pegang kata-katamu. Dan itu juga berlaku bagi kalian yang lain. Jangan membocorkan keberadaan Mamaku, pada wanita itu. Kalau kalian berani melakukannya, aku akan memasukkan kalian ke penjara."


"Kami mengerti Tuan..." jawab mereka bersamaan.


****


Malam kian menenggelamkan, kala rembulan mulai memberi sedikit sinarnya pada bumi, yang tertutup dengan gelap. Duduk berselonjor, dengan kepala ranjang menjadi tumpuan tubun-nya. Tatapan mata Aisyah nampak begotu fokus, saat memberi tatapan mata itu pada sebuah buku, yang berada di dalam genggamannya.


Suara pintu terbuka, mengalihkan arah pandang itu seketika. Menarik-nya cerita dalam Novel itu, kini lebih dia fokuskan pada pemandangan di depan mata, yang justru jauh lebih menarik untuknya.


Terus menatap pada pada Aditya, hingga tatapan mata itu tak ada sedikit pun kedipan di sana. DIA SANGAT SEKSI, itu-lah penampakan dari Aditya saat ini.


Hanya berbalut dengan celana pendek, hingga seksinya tubuh itu, terpampang nyata di depan matanya. Kotakan-kotakan yang membentuk di tubuh pria itu, menggetarkan rasa pada Aisyah sebagai wanita dewasa. Terus memandang, dan ingin sekali dia menyentuh-nya, dan merasakan kehangatan dada pria itu, seraya menarikan jari-jarinya di sana.

__ADS_1


"Ingin sekali aku menerkam-nya, saat ini juga!" Matanya nampak sayu, kala gelora kian membara dalam diri.


Tak menyadari, kalau sedari tadi ada sepasang mata yang terus menatap pada-nya, tanpa kedipan. Dengan santainya pria itu mengeringkan rambutnya yang masih basah, dengan sebuah handuk kecil.


Melemparkan tatapan tak sengaja, dan mendapati Aisyah yang terus menatap padanya. Seringai jahat membentuk sempurna di wajah tampan-nya, dengan ayunan langkah yang dia bawa mengarah pada Aisyah.


Terlalu terpesona dengan ketampanan sang Suami, membuat dunia Aisyah seperti berhenti berputar. Wanita itu terus mengarahkan tatapan mata-nya pada Aditya, hingga dia sama sekali tidak menyadari kalau wajah pria itu sudah berada dengan jarak yang begitu dekat dengannya.


"Mau sampai kapan kau menatapk seperti itu, Nona Aisyah?!"


Aisyah terkesiap. Wanita itu seperti ditarik paksa oleh waktu, yang sudah berhasil menenggelamkan dia ke dasar yang paling dalam.


"A..Aku tidak menatapmu, aku sedang melihat pemandangan," jawab Aisyah terbata, tentunya dengan wajah-nya yang pucat, dan juga gugup.


"Dan pemandangan itu adalah aku, hingga tatapan matamu itu tak berkedip sama sekali!" seru Aditya melebarkan tawanya, yang seketika memerahkan wajah Aisyah karena malu.


Namun sekerjap wanita itu dibuat kaget, saat tiba-tiba saja Aditya menarik diri-nya, ke dalam pelukannya. Senyuman Aisyah lukiskan di wajah. Satu tangannya dia lingkarkan, memeluk tubuh pria itu, merasakan kehangatan dada Suami-nya, yang sudah membuat dia mabuk kepayang.


"Katakan! Apa yang kau rasakan saat ini?!" tanya Aditya tiba-tiba, saat beberapa menit keduanya, sama-sama bungkam.


Jemari Aisyah yang tengah mengukir indah di dada Aditya, dia hentikan seketika kala diberi pertanyaan oleh Aditya.


"Apa yang aku rasa?"


"Iya. Apa yang kau rasakan, saat aku tidak ada disampingmu?"


Apa yang ditanyakan Aditya, tak langsung dijawab oleh Aisyah. Wanita itu mendongakkan kepala, menatap pada sang Suami. Cukup lama dia memandang, tenggelam dalam dua mata elang itu.


"Aku sangat khawatir padamu, Mas... Sangat khawatir. Aku takut, jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Senyuman kecil membingkai di wajah tampan Aditya, mendengar apa yang baru saja Aisyah katakan. Rangkulan tangan itu semakin Aditya eratkan, yang kian mendalamkan Aisyah dalam pelukan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah khawatir padaku, karena itu yang aku harapkan."


__ADS_2