SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
PENASARAN DENGAN APA YANG MEREKA BICARAKAN


__ADS_3

Hati-nya teramat bahagia. Walau-pun sudah mengetahui kalau kedua pria itu tertarik dengan apa yang dia katakan! Tapi Sarah tetap berpura-pura tetap menampilkan wajah malasnya, berbalik pada kedua pria itu.


"Ada apa?" Dua kaki itu kembali mengambil langkah panjang-nya, menghampiri pada kedua-nya.


"Apakah informasi yang akan kau katakan pada Tuan Aditya, berkaitan dengan keberadaan Kakak anda?" tanya salah satu dari mereka.


Sarah terkekeh pelan, mendengar apa yang baru saja ditanyakan salah satu dari anak buah Aditya itu-yang sepertinya terlihat ragu, dengan informasi yang akan dia katakan.


"Ha...Ha...Ha.. Kenapa begitu bodoh, Tuan?! Tentu saja informasi yang aku katakan ini, berkaitan dengan keberadaan Kakakku, Aisyah. Tapi aku ingin mengatakan informasi penting ini, langsung dengan Tuan Aditya sendiri."


Kedua anak buah itu sekilas saling menatap. Salah satu dari mereka kemudian mengangguk kepala, yang menandakan kalau dia menyetujui keinginan Sarah, untuk menemui langsung Bos mereka.


"Baiklah Nona... Kami akan menghubungi Tuan Aditya, agar beliau segera datang ke Surabaya."


"Baiklah." jawabnya tersenyum. "Dan ini nomor Hp-ku, dan hubungi aku, jika dia sudah berada di Surabaya."


"Baik Nona..."


****


COMPANY GROUP


Masing-masing dari ketiga orang dewasa itu, sibuk dengan kegiatan mereka, saat berada di dalam ruang kerja Aditya. Aisyah dengan kegiatan bersih-bersih-nya, yang tengah membersikan dinding kaca, dan Aditya dengan kegiatan-nya yang sedang memeriksa berkas-berkas penting, begitu-pun dengan Simon, yang sedang memeriksa beberapa laporan.


Netra mata-nya yang begitu fokus pada lembaran-lembaran di atas meja, seketika teralih, saat terdengar suara deringan telepone pada ponsel milik-nya.


Menelusup-kan jemari itu ke dalam saku celana, guna mengambil ponsel miliknya.


Mendapati nomor ponsel orang-orang yang ditugaskan Tuan-nya, untuk mengintai sekitar rumah Aisyah yang berada di Surabaya, membuat Simon langsung melabukan jempol-nya, pada icon hijau.


"Hallo..." sapa-nya, pada penelpone diseberang sana.


"Hallo, Sekretaris Simon! Kami punya informasi."


"Katakan informasi apa itu?" tanya Simon, yang mulai diselimuti rasa penasaran-nya.

__ADS_1


"Informasi yang berkaitan dengan Nona Aisyah! Tapi wanita yang tak lain adalah adik Nona Aisyah ini, hanya mau mengatakan informasi ini, pada Tuan Aditya langsung."


"Baiklah... Aku akan mengatakan ini, pada Tuan Aditya. Dan jika dia mau, kami akan langsung menuju ke sana."


"Baik Sekretaris Simon..."


Usai melakukan panggilan telepone, Simon segera beranjak dari duduk-nya, dan sekilas tatapan mata itu, beradu dengan Aisyah- yang juga kebetulan menatap pada-nya.


"Aku sangat yakin, Anisa ini adalah Aisyah Maharani- wanita yang selama ini dicari olehTuan Aditya. Hanya aku belum mempunyai bukti yang kuat untuk membuktikan, siapa dia?" bathin-nya, dengan rasa curiganya.


"Tuan..." panggil Simon tiba-tiba, dengan mengambil langkah menuju meja kerja itu.


"Ada apa?" tanya Aditya balik, dengan menghentikan seketika kegiatan-nya, dan mengailihkan pandangan-nya pada Simon yang melangkah dekat padanya.


Tangan yang sedang bergerak pada dinding kaca, seketika Aisyah hentikan, saar melihat ekspresi kedua pria itu, yang terlihat begitu serius. Dan dia sangat penasaran untuk itu.


" Apa yang mereka bicarakan? Apakah ini berkaitan dengan diriku?" bathin Aisyah, yang dipenuhi dengan tanda tanya.


Saat diri-nya sudah berada dengan jarak yang dekat dengan Tuan-nya, tatapan mata Simon sekali lagi menatap pada Aisyah, dengan melemparkan senyuman-nya. Dan wanita itu hanya menampilkan senyum kikuk-nya, berusaha menutup wajah pucat-nya, agar terhindar dari rasa curiga.


Aisyah semakin mendekatkan jarak-nya, agar dapat mendengar apa yang dibicarakan kedua pria itu. Dan kata hatinya mengatakan, kalau ini berkaitan dengan diri-nya.


Simon mendekat pada Bos-nya, dan berbisik pelan di sana-dan hal itu membuat Aisyah semakin di landa rasa gelisah, akan apa yang dibicarakan kedua pria itu.


"Ada informasi tentang Nona Aisyah, Tuan!"


Sepasang netra mata-nya seketika menatap penuh pada Simon, dengan wajah berbalut rasa penasaran, saat mendengar apa yang dibicarakan sekretarisnya.


"Benarkah?"


Dengan masih berucap pelan, Simon menjawab apa yang ditanyakan oleh Tuan muda-nya.


"Iya, Tuan... Dan dia ingin langsung bertemu dengan anda. Dan orang yang akan mengatakan informasi ini, adalah adik kandung Nona Aisyah sendiri."


Aditya menyeringai kecil, terselip rasa bahagia di sana- saat jalan-nya untuk mengetahui keberadaan Aisyah-wanita yang sudah mengandung anaknya, semakin dekat.

__ADS_1


"Baiklah, kau atur pertemuanku dengan adik-nya. Dan besok pagi, kita akan berangkat ke Surabaya. Dan aku rasa- kita bisa memanfaatkan adik-nya, untuk mencari keberadaan wanita itu."


"Saya juga berpikir seperti itu, Tuan... Kita bisa memanfaatkan adiknya, agar dapat menemukan keberadaan Nona Aisyah.


Aisyah terlihat tidak tenang. Susah payah dia menajamkan telinga-nya, untuk dapat mendengar pembicaraan kedua pria itu, tapi hasilnya nihil, karena mereka berucap dengan pelan.


"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa juga mereka harus berbisik-berbisik begitu? Apakah ini terkait diriku?" bathin Aisyah dengan wajah, yang semakin terselimuti gelisah.


Kala bersandar, arah pandang itu tak sengaja berpaling. Dan mendapati keberadaan Aisyah, yang begitu dekat dengan mereka. Wajah Aditya terlihat kesal, dan seketika berteriak pada Aisyah- yang membuatnya tersentak kaget.


"Apa yang kau lakukan?! Apa kau sengaja mau menguping pembicaraan kami?! Apakah kau aku pecat?!" tanya Aditya dengan nada lantang, yang membuat pucat pasih seketika menyelimuti wajah cantik itu.


"Maafkan saya, Pak..Maafkan saya. Saya tidak sedang ingin menguping, pembicaraan anda, dan sekretaris Simon. Bukankah kacanya, sampai ke sini?" jawab Aisyah dengan memberi senyum kikuknya, dan menjauhkan diri kedua pria itu. Dan hal itu tentu tak luput dari pandangan Simon, yang sedari tadi sudut ekor matanya terus menatap pada Aisyah, untuk memperjhatikan gerik-gerik wanita itu.


"Baik Tuan... Saya akan mempersiapkan semunya. Dan kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya sekarang."


"Baiklah.."


Aisyah kembali mengumpulkan alat-alat bersih, yang dia gunakan untuk membersikan ruangan Aditya, setelah selesai dengan kerjanya.


"Maaf Pak.. Kerja,an saya sudah selesai. Saya pamit."


Aisyah mengayunkan langkah kaki-nya dengan santai, tanpa ada rasa curiga-kalau ada seseorang yang sedari tadi, sudah menunggunya untuk ke luar. Baru saja dia berbelok arah, tiba-tiba saja- ada seseorang yang menarik tangan-nya, dan membawanya ke sudut ruangan.


"Sekretaris Simon! Kenapa kau melakukan ini padaku?" Dengan bola mata yang lebih membulat, akibat kaget dengan apa yang dilakukan pria itu.


"Katakan padaku. Siapa kau sebenarnya?!" Dengan nada tegas, saat bertanya pada Aisyah.


Kaget! Dengan wajah sudah berubah pucat, saat Simon menanyakan, siapa diri-nya.


"A..Aku?"


"Ya. Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?" tanya Simon sekali lagi, dengan tatapan tajamnya.


"Tentu saja saya Anisa, Sekretaris Simon! Memang siapa lagi," jawabnya dengan tersenyum palsu, berusaha menutupi wajah gugup itu.

__ADS_1


"Apakah kau yakin, kau sedang tidak berbohong?" Tatapan matanya menatap penuh selidik pada Aisyah, dengan memperhatikan netra mata wanita itu.


"A.. Aku tidak berbohong. Dan kau bisa melihat pada kartu tanda pengenalku. Di mana-di sini tertulis, nama Anisa Mahardika karena itu adalah nama asliku." jawabnya yang berusaha meyakinkan Simon, dengan kebohongannya.


__ADS_2