SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
AKAN MENGATAKAN KEBENARAN


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, yang terasa sudah menenggelaman dua hari.


Gelap sudah kembali menyambut malam, kala sang mentari telah terbenam di balik bukit yang menjulang.


Wajahnya nampak begitu kusut, itulah gambaran dari Rati saat ini.


Rati seperti kehilangan tenaga, saat Dokter menyampaikan Ibunya harus segera dioperasi dengan biaya yang tidak sedikit.


Dalam kehampaan hati itu, Rati memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit guna menenangkan diri itu.


Lampu-lampu taman bersinar terang, menyambut kedatangannya, dengan indahnya cahaya bintang, dan bulan yang menerangi awah gelap.


Tubuh itu berlabuh pada sebuah kursi panjang, dengan kepala dia dongakkan menatap taburan bintang, yang bersinar diantara bulan.


Cukup lama dia memandangnya, dan tiba-tiba saja dia tersenyum miris, seraya menyeka air matanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?! Sementara untuk hari-hari saja, aku sudah kesusahan,"


Hening... Gadis muda itu begitu hanyut dalam suasana hatinya yang tengah berkabut. Hampa tatapan matanya, menerawang jauh ke depan menikmati kesunyian malam. Sepi yang melanda, tiba-tiba saja dikejutkan saat terdengar suara nada panjang pada ponsel miliknya.


Benda pipih yang tengah berada dalam genggamannya, seketika Rati arahkan tepat di depan wajahnya.


Air mata kembali tumpah, saat mendapati nama Dokter Indah- Dokrer yang tengah menangani penyakit Ibunya.


Rati sudah sangat mengetahui, tujuan apa Dokter wanita itu menelponenya? Kalau bukan untuk membicarakan Ibunya, yang harus segera dioperasi. Memutuskan untuk mengabaikan telepone masuk itu! Dan yang bisa dia lakukan, hnya bisa menangis, dan menangis karena tidak tahu, harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana?


"Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan? Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"


Rati terus saja meneteskan air matanya, tenggelam dalam suasana hati, akan cobaan yang tengah dia hadapi saat ini.


Isak tangis yang masih terdengar, tiba-tiba saja terhenti kala sekali lagi terdengar suara telepone, pada ponsel miliknya.


Ponsel itu kembali dia arahkan tepat di depan matanya, dan sekali lagi Rati mendapatkan nama yang sama. Yaitu Doker Indah.


Isak tangis yang masih terdengar-berusaha Rati redam, saat dia akan menjawab panggilan telepone itu.


"Hallo Dokter.." sapanya pelan.


"Hallo Rati! Apakah kamu masih berada di rumah sakit?"

__ADS_1


"Iya Dokter! Saya masih berada di rumah sakit."


"Rati! Kami tidak mau mengambil resiko dengan keadaan Ibu-mu yang kian memburuk. Mau tidak mau, operasi harus kita lakukan malam ini juga," ucap Dokter Indah, dengan nada yang terdengar tegas.


Tubuh itu serasa tak bertenaga, setelah mendengarkan perkataan Dokter Indah, yang serasa meremukkan tulangnya.


Air mata yang sudah ditahannya kembali tumpah, akan ketidak berdayaannya saat ini.


"Rati! Apakah kamu mendengar saya?" Terdengar suara Dokter Indah di sana, kala Rati hanya diam.


Rati menyeka air matanya, berusaha menahan tangisnya kemabali,


"Iya Dokter! Saya masih di sini."


"Operasinya kita harus segera lakukan. Karena keadaan Ibu-mu, kian memburuk."


"Saya akan ke sana untuk menandatangani suratnya, Dokter! Agar operasi segera bisa dilakukan."


"Baiklah, kalau begitu saya tunggu kedatangan kamu sekarang juga, di ruangan saya."


"Baik Dokter," jawab Rati, dengan langsung memutuskan sambungan telepone itu.


Hening....Hening... Saat diri itu berpikir keras, mencari solusi agar bisa dia mendapatkan uang itu, malam ini juga.


"Aku harus meminjamkan uang sebanyak itu, sama siapa? Mana ada yang meminjamkan uang sebanyak itu? Tanpa adanya jaminan," gumam Rati dengan wajah resahnya.


Berpikir...Dan terus berpikir mencari solusi, akan masalah yang tengah dia hadapi.


Raut wajah itu seketika berubah serius, kala memorynya mengingat akan apa yang pernah dikatakan Aisyah, kalau selama ini Tuan Aditya-yang tak lain adalah Presdir di tempat dia bekerja, sedang mencari keberadaan sahabatnya.


"Tidak ada jalan lain. Hanya ini satu-satunya cara, agar aku dapat memiliki uang malam ini. Aku memang jahat! Tapi aku terpaksa melakukannya! Karena nyawa Mamaku. Maafkan aku, Syah! Maafkan aku. Karena aku sangat mencintai Mamaku," gumam Rati, dengan langsung beranjak dari duduknya.


Tekad bulat dalam dirinya, membuat raut wajah sedih yang tadi menyelimutinya, kini hanya menampakkan wajah semangatnya.


Langkah kaki itu dia ayunkan dengan langkah kaki yang sedikit tergesa-gesa, saat dua kaki itu melewati lorong yang akan membawanya ke depan rumah sakit.


Ya! Dia akan menemui Tuan Aditya, untuk mengatakan kebenaran tentang sahabatnya itu. Kalau Aisyah, adalah wanita yang dicari oleh seorang Aditya Wirawan.


Langkah kaki yang tengah Rati ayunkan seketika terhenti, saa terdengar nada panggilan panjang pada ponselnya. Benda pipih itu dia arahkan, dan mendapati nama Aisyah di sana.

__ADS_1


Sedih seketika melanda, memikirkan penghianatan yang akan dia lakukan pada teman baiknya.


Tapi memikirkan hidup Ibunya yang berada diujung tanduk! Membuat Rati memilih untuk mengabaikan panggilan telepone, sahabatnya.


Nada panjang yang terdengar pada HP milik Rati akhirnya ber,akhir, dan tergantikan dengan dentingan pesan pendek, yang masuk diaplikasi WAnya. Membuka, dan membacanya. Dan ternyata pesan itu, dikirim oleh Aisyah.


"Rati! Bagaimana keadaan Mama-mu? Apakah sudah jauh lebih baik? Nanti kalau ada waktu, aku janji akan kembali menjenguknya. Dan kamu, yang semangatya! Ingat! Selalu berbagi denganku. Ntah itu suka, atau-pun dukamu." Rati tersenyum miris, hatinya begitu hancur saat mendapati pesan dari Aisyah, yang begitu perduli padanya.


Tapi situasi saat ini, membuat dia benar-benar tidak berdaya. Hanya menatap nanar pesan itu, tanpa berniat untuk membalasnya.


"Aku memang bukan sahabat yang baik untukmu, Aisyah! Dan tidak pantas menjadi saudaramu. Dan pada akhirnya akulah yang menghianati persahabatan kita. Maafkan aku, Syah! Maafkan aku. Semoga saja kau dapat memaafkanku, jika kau tahu alasan aku melakukan ini semua," gumam Rati, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


****


KEDIAMAN ADITYA WIRAWAN


Duduk bersandar malas pada sebuah sofa tunggal, dengan jemari yang bergerak lincah pada layar ponselnya.


Senyuman terus Aditya tampilkan di wajahnya, saat rentetan pesan yang masuk diaplikasi WAnya.


Dua hari yang lalu pria itu berkenalan dengan seorang gadis-bernama Jeni, yang tak lain adalah anak dari rekan bisnis ayahnya, Geri Wilson.


Dan pengusaha tampan itu sama sekali tidak menyangkah, kalau wanita itu akan menaruh hati padanya.


"Aku hanya menganggapnya teman. Tapi dia berpikir, kalau aku juga menaruh hati padanya," gumam Aditya.


Aditya terus melukis senyum di wajah, kala Jeni tak henti-hentinya mengrimkan pesan, dengan kata-kata yang menggambarkan perasaanya pada Aditya. Dan itu serasa menggelitik buat pengusaha tampan itu.


"Apa yang membuat anda tersenyum, Tuan?" tanya simon tiba-tiba, dengan ayunan kaki yang dia langkahkan pada Aditya Wirawan.


"Siapa lagi kalau bukan Jeni! Anak rekan bisnis Papaku. Dia selalu saja mengenalkan aku, dengan anak rekan bisnisnya. Kenapa bukan saja, dia yang menikah lagi?!


"Jadi anda sama sekali tidak memiliki perasaan pada Nona Jeni?"


"Tentu saja tidak. Saat di pergelaran lukisan itu, aku hanya menganggapnya sebagai teman. Tapi tidak disangkah! Dia mengartikannya, lebih. Dan wanita itu, sama sekali bukan tipeku."


INFO


Epiode selanjutnya, semuanya sudah terbongkar, dan tentunya Rati yang akan mengatakan semuanya pada Aditya Wirawan.

__ADS_1


__ADS_2