SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MALAM YANG MENGHANYUTKAN


__ADS_3

Dingin-nya udara, kian begitu terasa, hingga mampu menembus tulang-belulang yang bersarang dalam diri, saat malam kian merayap yang menghantarkan waktu pada penghujung tengah malam.


Dingin-nya udara yang begitu terasa, tak berlaku bagi seorang Aisyah saat ini.


Rasa dingin yang tadi begitu terasa di kulit, menguar seketika-saat Aditya menginginkan kedua-nya melakukan malam pertama, tanpa harus menundanya lagi.


Gugup, dan wajah itu kian memucat, mengingat kalau ini adalah hal pertama bagi-nya.


Tapi disatu sisi, terselip juga rasa penasaran-nya akan kenikmatan melakukan hubungan Suami-Istri, saat kembali teringat akan kata-kata dari Sisi, KALAU KAMU SUDAH MERASAKAN-NYA, MAKA KAMU AKAN MENGINGIN-KAN NYA LAGI, DAN LAGI.


"Kenapa wajahmu pucat? Apakah kau takut?" tanya Aditya dengan menghentikan sejenak kegiatan-nya, dan membela lamunan Aisyah.


"Takut??"


"Iya takut."


Aisyah tidak langsung menjawab, apa yang ditanyakan oleh Aditya pada-nya. Bola mata-nya menelusuri setiap inci garis wajah pria itu, yang terlihat begitu sempurna di matanya.


"Mas...." panggil Aisyah, dengan nada suara yang pelan.


"Ada apa?"


"Apakah kau serius dengan pernikahan kita ini? Karena aku yakin, Bella dan Sella pasti menginginkan kita selalu bersama selama-nya."


Aditya menyeringai rendah, karena sesungguhnya dia tak mampu untuk menjawab pertanyaan itu. Diri-nya terlalu malu untuk mengatakan pada Aisyah-kalau dia serius dengan pernikahan ini, dan dia lah yang telah kalah, karena telah jatuh cinta, pada Ibu dari kedua putri-nya.


Tidak menjawab, apa yang Aisyah tanyakan pada-nya? Aditya malah melabuhkan wajah-nya, di curuk lelar istri-nya, dan mulai memberi sentuhan-sentuhan kenikmatan pada area leher Aisyah, dan kembali melanjutkan kegiatan-nya yang tadi-sebagai awal untuk malam pertama mereka.


Aisyah begitu menikmati, saat Aditya memberi-nya hal baru, yang tidak pernah dia rasakan sebelum-nya. Sepasang mata itu perlahan mulai meredup, hingga membuat Aisyah tak memperdulikan adanya cinta, atau tidak diantara dia dan Aditya saat melakukan malam pertama mereka.


"Mas..." Suara panggilan itu terdengar seperti *******, kala bibir Aditya mulai menelusuri setiap inci tubuh Aisyah, yang semakin mengkobarkan gairah dalam diri Ibu muda itu, hingga dirinya hanya pasrah, saat Aditya melepaskan satu-satu pakaian dari tubuh-nya, dan juga dia sendiri.


Tubuh yang sudah sama-sama polos, semakin membakar gairah dalam kedua nya, untuk cepat melakukan penyatuan. Aisyah menggigit kuat bibirnya, seraya mencengkram kuat seprei itu saat Aditya berusaha menembus pertahannya. Dengan satu kali hentakan, akhir benda tumpul itu mampu menembus-nya.


"Apakah sakit??" tanya Aditya, dengan menghentikan kegiatan-nya sejenak.


Mengangguk kecil, dengan bola mata sedikit ber'air akibat menahan kesakitan saat Aditya memaksa untuk menembus ke dalam miliknya.


"Bertahanlah sebentar, lama-kelaman sakit-nya akan hilang,"


"Iya Mas.."

__ADS_1


Aditya kembali melanjutkan ritme, permainan-nya. Sakit yang tadi teramat sangat Aisyah rasakan, perlahan menghilang hingga dia terlihat begitu menikmati-nya.


Suara kenikmatan lolos begitu saja dari bibir kedua-nya, saat ritme permainan semakin Aditya percepat, yang membuat Aisyah semakin tenggelam ke dalam indah-nya, surga dunia.


Disela permaian mereka, Aditya tak melewatkan memberi sentuhan pada titik-titik sensitif istrinya. Dada, leher, dan juga telinga Aisyah tentu-nya tak luput, dari bibir pria itu, yang membuat Aisyah semakin hanyut akan permaian pria itu.


Pinggul itu terus Aditya mainkan, dengan mulut yang menggoroti habis telinga Aisyah.


Aditya memasukan lidanya dalam telinga sang-Istri, menciptakan sensasi dalam malam panas mereka. Dan disela penyatuan mereka, pria itu membisikkan sesuatu di telinga Aisyah.


"AKU MENCINTAIMU ISTRIKU," seru-nya berbisik pelan, di sana.


Bola mata yang tengah meredup, membulat seketika. Aisyah yang begitu tenggelam dalam kenikmatan, seperti ditarik paksa agar kembali dalam dunia yang sebenarnya, saat mendengar bisikan itu.


Walau pun Aditya sedang memacu, tapi Aisyah langsung melontarkan pertanyaan pada pria itu.


"Mas...Apakah tadi kau mengatakan sesuatu padaku?!"


"Mengatakan? Memang apa yang aku katakan?!" tanya Aditya dengan menghentikan kegiatan-nya sejenak, tentu saja dengan tubuh yang masih berada di atas Aisyah.


"Tadi aku mendengar kalau kau bilang..." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, sebab Aisyah takut dia salah mendengar, atau-kah Aditya mengatakan, kalau dia tidak mengatakan apa-apa.


"Tidak! Mungkin saja, aku yang salah dengar. Dan bisakah kau lebih cepat?! Karena kau sangat berat!"


"Kita akan menyesaikan permainan ini, dijam dua, atau tiga pagi."


"Apa?? Bagaimana bisa Mas? Bahkan ini baru mau jam sepuluh!" jawab Aisyah, yang nampak begitu terkejut dengan ucapan Aditya.


"Kau terlalu banyak bicara Aisyah!" seru Aditya kemudian, dengan langsung memenjarakan kedua tangan Aisyah, dan melabuhkan ciuman panjangnya di bibir Istrinya.


Aditya melukis senyum-nya, saat Aisyah kembali tenggelam dengan penyatuan mereka, hingga wanita itu tak henti-hentinya mendesahkan suara kenikmatannya.


****


Burung-burung bernyanyi merdu, memberi siulan indah-nya, saat sang Mentari sudah kembali memberi senyum indah-nya, menyambut pada hari baru yang telah kembali menyapa.


Senyuman tak pernah luntur dari pemilik wajah tampan itu, saat dua kaki-nya melangkah ke luar dari dalam ruang ganti, dengan balutan kemeja, berwarna biru muda, dan celana hitam-nya.


Aditya mendesahkan napas berat-nya, saat bentangan selimut yang menutupi tubuh polos Aisyah, terjatuh ke lantai, hingga terpampang nyata kembali tubuh polos Aisyah, di depan matanya.


"Apakah dia sengaja melakukan-nya? Dan untung saja aku akan menemui Clientku, kalau tidak aku sudah kembali akan menghajarnya, sekali pun dia masih mengantuk, dan lelah."

__ADS_1


Menarik selimut yang terjatuh di atas lantai, dan kembali membentang-nya di atas tubuh Aisyah yang masih polos.


"Apakah kau sengaja, agar aku dapat melihatnya lagi?!" tanya-nya kesal.


Aisyah mengucek mata-nya pelan, berusaha menyempurnakan penghilatan-nya, pada Aditya yang berdiri disisi, ranjang. Mimik wajah itu seketika berubah cemberut, dan memberi tatapan tajam-nya pada Aditya.


Tanpa berucap, Aisyah langsung menarik tangan Suami-nya, hingga membuat Aditya seketika mendaratkan tubuh-nya di atas tubuh Aisyah. Dan tanpa permisi, wanita itu melabuhkan kecupan singkat di bibir Aditya, yang membuat pria itu nampak begitu kaget, dengan tindakan Istri-nya.


"Kau!!" Kesal, dan wajah nya begitu merona.


"Ayolah Mas...Semalam bahkan kau sudah melihat semua-nya, dan mulai sekarang kau harus terbiasa dengan tubuh ini, karena aku akan sering tanpa busana di depanmu," ucap Aisyah, dengan kembali melanjutkan kegiatan tidurnya.


Suara gedoran pintu menyapa di pintu kamar, yang mengalihkan tatapan Aditya seketika.


"Daddy....Mommy...." panggil Bella, dan Sella dengan terus memberi ketukan pada badan pintu.


Mendengar suara putri-putri-nya, Aditya langsung ber-lari cepat pada pintu kamar, karena posisi pintu kamar yang sudah tidak dikunci, dan Aisyah yang masih tidur dalam keadaan polos.


Akhirnya terjadi-lah aksi saling dorong-mendorong pintu kamar, antara siKembar, dengan Ayah mereka.


"Daddy....Daddy....Buka pintunya..." seru Sella, saat pintu kamar telah berhasil kembali dikunci oleh Ayah mereka.


Berlari cepat pada Aisyah. Dan Aditya sangat tahu bagaimana sikap kedua anak-nya, pasti tidak akan berhenti mengetuk pintu kamar sebelum dibuka.


Tanpa berujar Aditya langsung menarik selimut yang menutup tubuh Aisyah, hingga yang terbenam di dalam-nya, langsung mengeluarkan protes.


"Mas! Apa yang kau lakukan?!"


"Cepat pakai pakaian-mu! Sella, dan Bella ada di depan!"


Tanpa menjawab, Aisyah langsung ber-lari menuju arah kamar mandi, tentu-nya dengan tubuh- yang masih polos. Tapi kaki itu terhenti, saat mengingat noda merah di atas seprei.


"Mas itu??" seru Aisyah dengan menunjuk bercak merah, di atas seprei.


Aditya mengalihkan tatapan-mata nya pada arah yang ditunjuk Aisyah. Mengusap kasar wajahnya, saat melihat bercak darah ada di sana.


"Pergilah! Aku akan menggantinya!"


"Daddy....Daddy....Buka pintu-nya..." seru Bella, dan Sella dengan terus menggedor-gedor pintu kamar.


"Iya tunggu...." jawab Aditya sambil melepaskan seprei ranjang itu.

__ADS_1


__ADS_2