
Mama Anita segera mengayunkan langkah kakinya, yang menghantarkan tubuh itu, menuju kamar miliknya. Pintu kamar itu segera dia rapatkan, dan menguncinya saat sudah berada di dalam.
Langkah Mama Anita menuju sebuah pada meja kecil, guna menggapai gawai miliknya, yang dia simpan di atas sana. Menarikan kecil jarinya pada layar HP nya, mencari kontak telepone putri sulungnya.
****
Tubuh itu bertepi di pinggiran balkon, melemparkan pandangan sejauh mungkin, menatap penuh kekosongan, pada hutan kecil di depan mata.
Hanyut...Dan Aisyah begitu tenggelam, dengan apa yang tengah dia pikirkan.
Suara deringan telepone membela, memecahkan kesunyian yang menyelimuti di dalam kamar.
Aisyah mengayunkan langkahnya, menghampiri pada HPnya, yang sedang mendendangkan suara.
Bola mata yang sudah memandang pada layar HP itu, , seketika berkerut keningnya, saat mendapati tulisan MAMA, pada layar ponselnya.
"Mama..." gumam Aisyah pelan.
Membiarkan beberapa detik berlalu, dengan nada yang terus berbunyi, akhirnya Aisyah menjawab panggilan telepone itu.
"Hallo..." Suara Aisyah pelan, saat menyapa pada sang Bunda.
"Hallo, Syah! Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Baik Maa..Mama sendiri bagaimana?"
"Baik, Dan Syah! Ada yang ingin Mama tanyakan. Apakah ada yang kamu sembunyikan dari Mama, selama ini? Karena sudah lama, kamu tidak memberi Mama kabar."
Pucat pasih seketika menyelimuti wajah cantik Aisyah, dan pikiran itu langsung mengarah pada berita tentangnya, dan Aditya yang disiarkan di televisi hari ini.
"Aku..." Dan Aisyah pun terlihat ragu, saat àkan menyampaikan tentang dirinya, dan Aditya.
"Jujur pada Mama, Nak! Apakah benar yang dikatakan media, kalau kau saat ini, sudah tinggal satu atap dengan pria itu?"
Aisyah mendesahkan napasnya berat, dengan pertanyaan yang baru saja Mama Anita lontarkan.
"Aku memang tinggal satu atap dengan dia, tapi ini tidak seperti yang orang di luar sana katakan. Aku terpaksa tinggal satu atap dengannya, karena murni agar terus dapat bersama, kedua anakku."
"Apakah kalian menempati satu kamar?!"
"Ya Tuhan Maa...Aku tidak serendah itu. Mana mungkin kami menempati satu kamar, kalau dia bukan suami-ku."
"Kau tidak berbohong pada Mama kan, Syah?"
"Tidak Maa, aku sama sekali tidak berbohong. Aku memilih satu atap bersamanya, murni agar dapat terus bersama Bella, dan Sella. Tidak yang lain."
__ADS_1
"Mama selalu percaya pada mu, Syah! Mama sangat yakin, kalau kau pasti tidak akan pernah mengecewakan Mama, dan membuat Mama malu."
"Aku tidak akan mungkin, mengecewakanmu. Aku sangat sayang, pada Mama." Dan kemudian hening melanda, saat dia larut dalam apa yang tengah dia pikirkan. Aisyah mendesahkan berat napasnya, saat memutuskan untuk bercerita pada sang Bunda, tentang Aditya yang memintanya, untuk menikah.
"Maa..." panggil Aisyah pelan, dengan nada suara yang berat, saat ragu untuk berkata jujur.
"Ada apa Syah?!"
"Maa..Mas Aditya meminta aku, untuk menikah dengannya."
"Tuan Aditya, meminta kau untuk menjadi istrinya?!" Suara Mama Anita nampak begitu kaget, setelah mendengar apa yang baru saja putrinya sampaikan.
"Iya, dia meminta aku untuk menjadi istrinya. Tapi aku ragu Maa, aku takut..."
"Apa yang kau ragukan, Syah? Dan apa yang kau takutkan?"
"Bagaimana bisa aku membina rumah tangga, dengan pria yang tidak aku cintai, dan tidak mencintaiku. Aku tidak akan bahagia, kalau dijalani tanpa cinta."
"Apakah kamu takut, rumah tanggamu tidak akan bahagia? Karena kalian menikah tanpa cinta?"
"Ima Maa, akan terasa hambar jika menjalaninya tanpa adanya cinta. Bukankah akan bahagia, jika menikah karena saling cinta."
"Apa yang kamu takutkan, Syah?! Banyak pasangan di luar sana menikah bukan karena cinta, tapi karena dijodohkan. Tapi mereka bisa melewatinya, hingga memiliki anak, dan sampai menua bersama, dan hanya maut yang memisahkan. Mungkin saja, Tuhan mentakdirkan jalan jodohmu, dengan cara seperti itu, Nak!"
"Apakah Mama yakin, aku akan bahagia?"
Aisyah menghembuskan napas panjangnya, menghempaskan keraguan yang ada dalam diri itu. Mendengar masukan dari sang Bunda, mampu membuang ragu, dan berat hati dalam diri itu memudar perlahan. Dan dia memutuskan, untuk mendengarkan masukan dari Ibunya, yang mungkin saja Aditya, adalah jodoh yang di kirim Tuhan.
"Baiklah Maa, aku mau. Mungkin saja, dia benar-benar jodohku."
"Dan Mama juga minta maaf, karena sudah berburuk sangkah padamu."
"Tidak perlu meminta maaf Maa..Aisyah yang justru harus minta maaf-pada Mama, karena tidak mengatakan pada Mama, kalau aku sudah tinggal bersama Mas Aditya."
"Ya sudah Syah, kalau begitu Mama tutup teleponenya. Ingat, terus beri kabar sama Mama bagaimana hubungan kalian."
"Hubungan bagaimana, Maa? Bahkan tidak ada apa-apa diantara kami."
"Apa pun itu, yang jelas selalu beri kabar pada Mama. Dan sampai kan salam Mama, pada calon menantu Mama."
"Mama.. Apa-an coba?" Wajah Aisyah nampak merona , dengan kata-kata yang baru saja Mama Anita ucapkan"
"Ya sudah, Mama tutup teleponenya, dan semoga kamu selalu bahagia anakku," Dengan langsung memutuskan sambungan telepone itu.
****
__ADS_1
Senja perlahan memudar, seiring berjalannya waktu yang sudah menyambut, kembali malam. Jutaan bintang bertabur indah di atas sana, mengelilingi bulan yang begitu memancarkan cahaya penuh, di atas sana.
Duduk bersandar pada sebuah sofa tunggal, dengan mata yang begitu Aisyah intenskan pada sebuah buku tebal, yang berada dalam genggamannya.
Aisyah melemparkan mata-nya, menuju jam dinding yang menempel di tembok, dan mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Buku yang berada dalam genggaman-kembali dia letakkan di atas meja, seraya menggapai gawai miliknya yang berada samping.
Menarikan lincah jari nya pada layar HP itu, dan mengetik beberapa kata pada aplikasi WA, yang dia kirimkan pada Simon.
"Malam Skretaris Simon!" Mengetik, dan langsung menekan anak panah. Dia pun menunggu, dan beberapa detik pesan itu terbalaskan.
"Malam Nona..Ada apa?"
Gawai yang berada di atas meja segera Aisyah gapai, setelah sekilas nada pendek menyapa pada ponsel miliknya.
Membaca, dan memainkan kembali jemarinya pada huruf-huruf di layar HP itu.
"Kau sedang berada di mana? Apakah saat ini, kau sedang bersama Mas Aditya?"
Gelisah melanda-saat pesan itu, sudah terbaca oleh Simon. Menunggu, dan beberapa detik berlalu nada pesan kembali menyapa.
"Aku, dan Tuan Aditya sedang berada di ruang kerja. Ada apa?"
Tak lagi membalas pesan itu, Aisyah langsung memasukkan ponsel miliknya, ke dalam jacket hoddy yang dia pakai. Tubuh itu beranjak bangun, menghampiri pada ranjang, di mana kedua putrinya sudah terlelap, dengan mimpi indahnya. Selimut yang terkoyak dari tubuh kedua gadis kecilnya, Aisyah tarikkan hingga mencapai leher Bella, dan Sella.
"Kalian tahu! Mommy akan menyetujui, untuk menikah dengan Daddy kalian." Senyuman kecil menyapa di wajah cantiknya, dengan langkah kaki yang membawa tubuh itu ke luar dari dalam kamar.
Satu persatu anak tangga Aisyah lewati, yang menghantarkan tubuh itu pada lantai bawa. Setelah dua kaki itu sudah berpijak pada lantai dasar, Aisyah segera mengayunkan langkahnya menuju ruang kerja Aditya.
Tubuh itu sudah berada di depan ruangan. Tak langsung memberi ketukan, Aisyah masih mendiamkan diri di sana, menimang kembali keputusan yang tidak boleh dia sesali seumur hidupnya.
"Oh Tuhan...Semoga Mas Aditya, adalah pria yang benar-benar dikirim Tuhan buatku," gumam Aisyah dengan langsung memberi suara, pada pintu ruangan.
"Masuk..."
Mendengar suara titah dari dalam, Aisyah langsung meraih gagang pintu. Menghembuskan napas tegasnya, dengan mematakan gagang pintu-yang membuat pintu ruangan terbuka lebar.
Aditya, dan Simon segera melemparkan pandangannya ke arah pintu, dan mendapati Aisyah di sana.
"Aisyah..." gumam Aditya yang begitu intens, menatap wanita itu dari jauh.
"Masuk-lah Nona Aisyah! Buat apa kau masih di sana?!"
Aisyah segera mengayunkan langkah itu, yang membawanya kian ke dalam ruang kerja Aditya.
__ADS_1
"Apakah ada hal penting apa, yang ingin kau bicarakan denganku, Nona Aisyah?" Aditya menampilkan senyuman, yang nyaris tak terlihat di wajah.
"Saya mau, menikah denganmu Mas!"