SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MENCARI RATI


__ADS_3

Simon membentuk senyum kikuknya, akan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Kiran padanya.


"Maaf. Dan sudah berapa lama kau tinggal di sini?"


"Sudah hampir tujuh tahun. Dan kalau boleh aku tahu-apa yang kau bawa itu Sekretaris Simon?" tanya Aisyah penasaran, ketika dua matanya tertuju pada dua kantong plastik, yang berada dalam genggaman dua tangan Sekretaris itu.


"Tadi saat akan ke sini, aku mampir di toko terlebih dahulu, untuk membeli mainan buat anak-anakmu," jawab Simon, dengan menyerahkan dua kantong plastik itu, pada Aisyah.


Karena sedikit berat dengan isi dalamnya yang penuh-membuat Aisyah segera meletakkan dua kantong itu, di atas lantai rumahnya. Tatapan mata itu segera dia tenggelamkan dalam kantong plastik, dan betapa kagetnya Aisyah saat mendapati begitu banyaknya mainan di dalamnya.


"Apakah kau serius, ini buat kedua anakku?" tanya Aisyah memastikan, dengan melongokan wajahnya pada Simon.


"Tentu saja. Memang buat siapa lagi! kalau bukan buat kedua anakmu." Dengan mengukir senyum di wajah. Dan dua mata itu seketika menelusuri dalam rumah Aisyah, saat tidak mendapati keberadaan sikembar. "Di mana dua anakmu, Aisyah? Karena dari tadi aku tidak melihat mereka."


"Mereka sedang bermain boneka di belakang. Kau tunggulah di sini, aku akan memanggil mereka," jawab Aisyah. Baru saja satu kakinya akan mengambil langkah panjang, tiba-tiba dirinya dan Simon dikejutkan dengan kedatangann Bella, dengan raut wajah sedih


"Mommy.... Mommy..." panggilnya, saat hentakan kaki itu dia ayunkan pada sang Mommy.


"Kau kenapa Bella? Kenapa kau bersedih begitu?"


"Sella mengambil mainanku, Mommy! Dia mengambil mainanku.." jawabnya, dengan iris mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mengambil mainanmu?"


"Iya, Mommy! Dia mengambil mainanku."


Mendengar apa yang disampaikan Kakaknya, membuat seketika menyela saat baru saja berada tiba di ruang itu.


"Aku tidak mengambilnya Mommy! Aku hanya meminjamnya saja." Dengan nada yang terdengar tegas, akibat kesal dengan ucapan Kakaknya.


Simon melukis senyum kecilnya, dengan tatapan mata yang dia intenskan pada kedua anak Tuannya, yang baru saja menampakkan batang hidungnya.


"Apakah mereka putrimu?" tanya Simon tiba-tiba.


"Iya. Mereka berdua adalah anakku."


Arah pandang Bella, dan Sella seketika beralih pada Simon, saat mendapati sosok asing di rumah mereka.


"Mommy... Siapa Paman ini?" tanya Bella dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah penasaran.

__ADS_1


"Iya Mommy! Siapa Paman ini. Apakah dia temanmu?" tanya sella pula, dengan tatapan penuhnya pada Simon.


Simon mengukir senyum di wajah, dengan memberi tatapan hangatnya pada Bella, dan Sella yang tengah menatapnya dengan intens.


Tubuhnya segera bangkit dari duduknya, menghampiri pada kedua gadis kecil itu, yang masih terus menatap padanya.


Mensejajarkan tingginya dengan mereka, dan menatapnya dalam.


"Kenalkan! Nama Paman adalah Simon. Paman adalah teman, dari Mommy kalian."


"Aku Bella, Paman! Dan ini adikku Sella. Dan apakah kau akan menjadi Daddy, kami?" tanya Bella dengan wajah polosnya.


Wajah Aisyah memucat seketika, akibat malu dengan pertanyaan yang dilayangkan putri tertuanya, pada Simon.


"A..Apa yang kau bicarakan, Bella? Paman ini, adalah teman Mommy." Dan arah pandang itu beralih pada Simon, yang hanya menampilkan senyum kecilnya, begitu mendengarkan pertanyaan dari Simon. "Maafkan anakku, Sekretaris Simon! Dia masih kecil, jadi belum memahami apa yang dia katakan," ucap Aisyah, dengan membentuk senyum kikuknya.


"Tidak masalah, aku bisa mengerti." Tatapan mata yang tadi beralih pada Aisyah, dia alihkan kembali pada Bella, dan Sella. "Ohh.. Iya. Paman punya hadiah buat kalian."


"Hadiah??" jawab Bella, dan Sella dengan wajah kagetnya.


"Iya. Coba kalian lihat di dalam dua kantong itu. Apa yang Paman bawa."


Kaget menyelimuti wajah Bella, dan Sella seketika dengan bola mata lebih membulat penuh, saat melihat isi di dalamnya.


"Apakah ini untuk kami, Paman?!" tanya Sella, dengan segera melemparkan tatapan matanya pada Simon.


"Iya, itu untuk kalian berdua. Dan tidak usah berebut, karena isi di dalam semuanya sama."


Sella, dan Bella saling melemparkan pandangannya sekilas, dan tersenyum bahagia di sana-dengan begitu banyak mainan yang mereka dapat, dari teman Ibunya.


"Terima kasih, Paman! Karena kau sudah membawakan aku, dan Kakak mainan."


"Sama-sama," jawab Simon tersenyum, dan kembali mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di samping Aisyah.


Simon terus memberi tatapan mataya pada Bella, dan Sella yang sibuk dengan mainan baru mereka. Dan hening yang melanda ruangan itu terbela, saat tiba-tiba saja Simon bersuara.


"Apakah mereka sering menanyakan Ayahnya?" tanya Simon, tiba-tiba.


Aisyah menghembuskan napas panjangnya. Sedikit sesak yang dia rasakan di dada, mendengar apa yang baru saja Simon tanyakan.

__ADS_1


"Tentu saja, Sekretaris Simon! Sangat mustahil, jika mereka sama sekali tidak menanyakan Ayahnya."


"Terus apa yang kau jawab? Jika mereka bertanya tentang Ayahnya," tanya Simon kembali.


Aisyah tersenyum kikuk, sebelum menjawab apa yang ditanyakan oleh Sekretaris itu.


"Maaf. Tapi aku rasa ini jawaban yang paling tepat, mengingat bagaimana mereka bisa hadir di dunia ini. Aku selalu menjawab, kalau Ayah mereka sudah berada di surga."


Simon menghembuskan napas dalamnya. Sorot matanya begitu intens pada Bella, dan Sella yang sedang sibuk dengan mainan-mainan yang dia bawa. Ada rasa iba dalam pria itu, mendapati kedua putri Tuannya, menjalani hidup dengan sangat sederhana, sementara Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya.


"Seandainya saja Tuan tidak egois, dan mau menikahi Aisyah! Pasti aku sudah mengatakan di mana saat ini, anaknya berada. Tapi mengetahui keinginan Tuan Aditya yang hanya menginginkan darah dagingnya! Membuatku mau tidak mau, harus terus menutup mulut ini."


****


Mentari kembali bersinar terang, menampilkan senyumnya pada dunia. Kicuan burung bernyanyi merdu, memberi selamat pagi pada hari yang baru.


Di bawah cahaya matahari yang bersinar, dua kaki itu segera mengambil langkah panjangnya, saat tiba-tiba di Company Group- Aisyah mendapati para Cleaning Service sudah akan membentuk barisan, untuk mendengar arahan Ibu Lidya.


Tubuh rampingnya segera Aisyah telusupkan ke dalam barisan para tenaga OB, dengan dua mata yang mengedar kesegalah arah.


Wajah itu sedikit menampakkan gelisahnya, ketika tidak mendapati keberadaan Rati di antara mereka.


" Di mana Rati? Sepertiniya hari ini, dia tidak masuk kerja!" gumam Aisyah, dengan bertanya pada diri sendiri.


"Kamu mencari Rati?" tanya salah satu CS wanita, yang tak sengaja mendengar gumam Ibu muda itu.


"Iya aku mencarinya. Tapi sepertinya dia tidak masuk kerja. Dan apakah kamu melihatnya Susan?"


"Tadi pagi Rati datang, tapi hanya untuk meminta ijin. Ibunya sakit keras, dan sedang menjalani perawatan disalah satu rumah sakit."


Kaget seketika menyelimuti wajah Aisyah, dengan tatapan mata yang lebih membulat, saat mendengar ucapan rekan seprofesinya itu.


"Menjalani perawatan?"


"Iya. Ibunya Rati-menderita penyakit serius, dan harus menjalani perawatan. Tapi apa penyakitnya? Aku sama sekali tidak tahu."


Apa yang baru saja dikatakan oleh Susan-membuat Aisyah seperti hanyut dalam apa yang dia pikirkan. Hingga diri itu seketika dilanda rasa penasaran, dengan penyakit apa?! Yang diderIta oleh Ibunda dari Rati.


"Sebenarnya Ibunya sakit apa? Kenapa Rati sama sekali tidak pernah menceritakan padaku?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2