SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERPURA-PURA SAKIT PERUT


__ADS_3

Sisi terus melemparkan pandangannya pada suasana ruang hangat di ruang makan. Teringat dia kembali akan apa yang diktatakan oleh Ibu tiri Tuannya, kalau dia harus memberiItahukan informasi jIka saja ada wanita yang hadir di rumah anak tirinya itu.


"Aku harus memberitahukan berita baik ini pada Nyonya Karla. Dan aku sangat yakin, kalau dia pasti akan sangat bahagia, mendengar berita yang aku sampaikan ini," gumam Sisi dalam hati, dan mengayunkan langkah kakinya berlalu, dari ruangan itu.


"Kau mau ke mana Sisi?" tanya Ani tiba-tiba, kala Sisi berlalu dari tempat itu.


Sisi memalingkan setengah wajahnya, untuk menjawab apa yang ditanyakan wanita paruh baya itu.


"Aku mau ke kamar Bibi!" jawabnya dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Aditya telah selesai dengan sarapannya. Tubuh itu segera beranjak dari duduknya, setelah bibir itu dia lap dengan kain kecil.


"Daddy.. Apakah Daddy sudah akan berangkat kerja?" tanya Bella, saat mendapati Ayahnya menyudahi sarapan paginya.


"Sudah, Daddy sudah selesai sarapan paginya. Kalian lanjutkan sarapan paginya, Daddy akan berangkat kerja sekarang."


Sella, dan Bella seketika berajak dari duduknya, begitu Ayahnya bersiap akan meninggalkan ruang kerjanya.


"Selamat pagi Tuan," sapa Simon yang baru saja datang.


"Apakah kendaraannya, sudah siap?"


" Sudah Tuan,!" Dan arah pandang itu dia alihkan pada Aisyah, yang duduk diam di kursi makan itu.


"Selamat pagi Nona Aisyah!"


"Selamat pagi Sekretaris Simon!"


Aditya yang tengah berdiri, seketika tersentak kaget kala tiba-tiba saja dua kakinya dipegang oleh kedua putrinya.


"Daddy... Kami akan mengantarkan kau sampai ke depan," ucap Sella dengan semangatnya.


Aditya menampilkan senyuman hangatnya, dengan tangan menggenggam jemari Bella, dan Sella disisi Kiri, dan kanan.


"Ayoo~" ajak Aditya dengan melangkahkan dua kakinya, beriringan bersama kedua putrinya.


Langkah kaki yang tengah beriringan, tiba-tiba saja terhenti kala Sella menghentikan langkah kakinya seketika.


"Ada apa?" tanya Aditya heran.


"Mommy.. Daddy! Mommy..." jawabnya. Sella melepaskan genggaman tangannya, dan melangkah menuju sang Bunda yang masih setia duduk di kursi.

__ADS_1


Tanpa meminta persetujuan sang Bunda, tangan mungilnya langsung menggapai jemari Aisyah.


" Ada apa Sella?" tanya Aisyah penasaran.


"Ayo kIta antar Daddy sampai ke depan pintu, Mommy!"


Wajah Aisyah nampak memucat. Wajah itu kemudian menampilkan senyum kikuknya. Bagaimana bisa dia yang bukan siapa-siapa Aditya? Harus mengantarkan pria itu ke depan pintu. Bisa-bisa Aditya mengirah, kalau Aisyah diam-diam menaruh hati padanya.


"Maaf Sella, tapi pengen di sini saja."


"Tidak Mommy! Bagaimana pun kau harus ikut mengantarkan Daddy ke sampai ke depan pintu," kekeh Sella yang tetap memaksa Ibunya, agar ikut mengantar Ayah mereka sampai ke depan pintu.


Tak menjawab apa yang dipinta putrinya. Pupil matanya Aisyah lemparkan pada Aditya, yang tengah menatap padanya dengan sikapnya yang dingin.


"Mommy... Ayo!"


"Tapi Sella, Mommy.." Belum selesai kata-kata itu dia selesaikan, tangannya sudah ditarik sang putri yang membuat tubuh itu mau tidak mau ikut melangkah, menuju langkah kaki putrinya.


Walau pun berat, tapi akhirnya kaki itu Aisyah langkahkan juga, hanya untuk membuat putrinya bahagia tentunya.


"Ini sangat memalukan. Aku seperti tengah melakoni peranku sebagai istrinya," gumam Aisyah dalam hati.


Mereka kembali melanjutkan langkahnya, dengan Sella yang kembali mengenggam jemari Ayahnya.


"Ya Tuhan... Kenapa terjadi seperti ini? Ini sangat memalukan," bathin Aisyah lagi.


Di sini-lah mereka berada. Dengan adanya juga Simon, yang sudah menunggu kedatangan Tuannya, di depan pintu.


"Baiklah, Daddy akan berangkat bekerja sekarang." Aditya melukis senyumnya, menatap penuh kasih sayang pada kedua putrinya.


"Daddy.. Apakah kau akan cepat pulang?" tanya Sella.


"Selesai kerjanya, Daddy janji akan cepat pulang." Dan dia pun mengayunkan langkahnya. Baru saja dua kakinya mengambil dua langkah, Aditya harus menghentikan ayunan kakinya saat Aisyah menyeruhkan namanya.


"Tuan... Eh! Maksudku Mas Adit."


"Ada apa?"


"Maaf, kalau aku lancang tapi dasi anda."


"Dasi?"

__ADS_1


"Iya." Dan dua kaki itu dia langkahkan yang semakin mendekatkan, tubuh itu pada Aditya. Dengan ragu-ragu Aisyah menggapai dasi, yang menyimpul tidak dengan rapi pada kra baju Aditya.


Aditya sedikit kaget, dengan apa yang dilakukan Aisyah padanya. Berada dengan jarak yang begitu dekat, hingga membuat hembusan napas mereka, bisa terasakan oleh keduanya. Debaran jantung sedikit berdetak, dan wajahnya sedikit gugup kala bisa menatap wajah cantik Aisyah dengan begitu dekat.


"Sial! Kenapa jantung jadi berpacu lebih cepat begini? Semoga saja dia tidak mendengarnya,"


Aisyah melukis senyum tipisnya, setelah sudah memasangkan dasi dengan posisi yang benar, pada lingkara kra baju itu.


"Maaf Mas..Jika saya lancang." Aisyah memberi senyuman semanis mungkin, yang membuat Aditya sedikit salah tingkah.


Untuk mencairkan suasana hatinya, yang bagai terserang sengatan-Aditya sengaja berdehem, agar menghilangkan kegugupan itu.


"Tidak masalah, dan terima kasih," ucap Aditya dengan gayanya yang cool.


"Wah Daddy! kau memang sangat tampan, kau buat Mommy pasti akan semakin mencintaimu." Sella menampilkan senyum genitnya, melihat pemandangan manis kedua orang tuanya.


"A...Apa yang kau bicarakan Sella?! Itu sama sekali tidak benar! Jangan percaya Mas..." Aisyah mengayunkan cepat tangannya, untuk menyanggah ucapan putrinya yang sama sekali tidak benar.


"Tidak masalah!" ucap Aditya dengan membanting dua kra bajunya, dengan menampilkan sikap sombongnya. Dan arah pandang itu dia alihkan pada Simon yang melukis senyum tipisnya. Tapi kala matanya beradu dengan Aditya, senyuman itu langsung memudar seketika.


"Ayo kita berangkat!"


"Baik Tuan!" jawab Simon dengan mengayunkan langkahnya, mengikuti langkah sang Tuan.


"Daddy..." panggil Bella tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya-nya, dengan menatap penasaran putri tertuanya.


"Apakah kau tidak mencium Mommy?!"


"Cium??" ucap Aditya, dan Aisyah bersama yang begitu kaget, dengan ucapan mereka.


Aisyah sangat tahu, kalau kedua putrinya pasti akan tetap memaksa keinginan mereka. Dan sebagai wanita yang bukan siapa-siapa Aditya-tidak mungkin dia melakukannya, dan memang juga dia juga tidak akan melakukannya.


"Daddy... Kenapa kau diam saja? Ayo cepat cium Mommy!" pinta Bella dengan menarik kecil ujung jas, Daddynya.


Tidak ingin hal itu terjadi, Aisyah langsung tiba-tiba berpura-pura sakit perut.


"Aduh perutku sakit!" rintih Aisyah tiba-tiba, dengan menyentuh perutnya tiba-tiba.


"Sella... Bella... Sepertinya Mommy harus ke kamar mandi, Mommy sudah kebelet!" ucapnya dengan ayunan kaki, yang Aisyah ayunkan dengan cepat.

__ADS_1


Mereka semua yang berada di sana ikut melemparkan pandangannya, mengikuti arah perginya Aisyah dengan tatapan heran.


"Apakah dia benar-benar sakit perut?! Atau dia sengaja, agar aku tidak menciumnya. Sial! Dia benar-benar membuat harga diriku terinjak, baru kali ini ada wanita yang menolak pesona seorang Aditya," gerutu Aditya dalam hati.


__ADS_2