
Simon mengedarkan pandangan-nya kesegalah arah, memantau area sekitar dalam rumah Lila.
"Apakah di sini ada tabung gas, Nona Lila?" tanya Simon, tiba-tiba.
"Ada Tuan? Tapi memang apa yang akan anda lakukan dengan tabung gas itu?" tanya LIla, yang menunjukkan rasa penasarannya.
"Segera kemasi pakaianmu! Karena saya akan membocorkan tabung gas itu, agar warga mengirah kalau ini murni karena kecelakaan."
"Baik Tuan, saya akan mengemasi barang-barang saya," jawab Lila, dengan segera melangkah ke dalam kamar.
Mama Melinda ikut melangkahkan kaki-nya mengikuti pergi-nya Lila ke dalam kamar, setelah pergi-nya gadis itu. Melabuhkan tubuh-nya di atas ranjang kecil, menatap pada Lila yang tengah sibuk memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas.
"Lila..." panggil Mama Melinda tiba-tiba, yang mengalihkan tatapan gadis berusia dua puluh tahun itu, seketika.
"Ada apa Buu?"
"Kamu tinggal sendirian?"
"Iya."
"Di mana kedua orang tuamu?"
"Mereka sudah lama meninggal, dalam sebuah kecelakaan."
"Jadi kamu sebatang kara?" Raut wajah Mama Melinda nampak sedikit kaget, saat mendengar penuturan gadis muda itu.
"Iya Buu," jawab Lila yang menghentikan kegiatannya sejenak, dan kembali melanjutkan memasukkan barang-barang miliknya.
"Ikut-lah Ibu ke Jakarta."
Bola mata Lila seketika nampak lebih membulat, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Mama Melinda, yang membuat-nya nampak sedikit kaget.
"Ikut Ibu ke Jakarta. Kebetulan Ibu tidak memiliki anak perempuan. Anggap saja, ini sebagai balas jasa Ibu sama kamu, yang sudah menolong Ibu."
"Tapi Buu.." seru Lila yang nampak terlihat ragu.
Bangkit dari duduk-nya, dan melangkah menghampiri pada Lila. Dua mata itu nampak begitu dalam, saat memberi tatapan penuh harap pada gadis muda didekatnya.
"Ibu mohon, ikut Ibu. Tanpa kamu, mungkin Ibu tidak tahu bagaimana nasip Ibu, di luar sana."
"Nyonya...Nona Lila... Ayo!" panggil Simon tiba-tiba, yang mengalihkan tatapan mata kedua wanita beda usia itu seketika.
__ADS_1
"Ada apa Simon?"
"Cepat kemasi barang-barang-nya, karena saya akan segera membocorkan tabung gas-nya."
"Kami sudah selesai, Simon!" jawab Mama Melinda, dengan segera melangkah kaki-nya ke luar dari dalam kamar, bersama Lila.
Mama Melinda segera mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada putra-nya Aditya, yang sedang duduk di salah satu kursi.
"Adit.."
"Ada apa Maa?"
"Mama ingin mengajak Lila ikut ke Jakarta, dan mengangkat dia menjadi adikmu! Bagaimana menurutmu?"
Senyuman kecil Aditya lukis di wajah, setelah mendengar apa yang baru saja sang Bunda tuturkan.
"Terserah Mama saja, kalau itu bisa membuat Mama bahagia, aku akan selalu mendukung."
Simon ke luar dari dalam dapur dengan langkah tergesa-gesa, setelah pria itu berhasil membocorkan tabung gas.
"Ayo Tuan... Nyonya... cepat kita ke luar, rumah ini sebentar lagi akan terbakar, karena tabung gas-nya sudah kami bocor-kan!" seru Simon, dengan raut wajah yang terlihat panik.
Tanpa berbicara lagi, mereka semua yang berada di dalam sana, segera melangkahkan kakinya cepat, berlalu dari dalam rumah. Saat semua-nya sudah di dalam mobil, dan baru berlalu sedikit jauh, terdengar suara ledakan yang begitu menggema, hingga tak berapa lama-pun sijago merah mulai melalap rumah kecil itu, yang membuat warga sekitarnya terlihat begitu panik.
"Maafkan Ibu, karena menolong Ibu, kamu harus kehilangan tempat tinggalmu,"
Tidak menjawab, Lila hanya melukis senyuman kecil di wajah-nya, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Mama Melinda.
Warga terlihat begitu panik, kobaran api begitu cepat melahap rumah kecil milik Lila. Karena yang mereka tahu, kalau disenja seperti ini, gadis muda itu pasti berada di rumah-nya. Hingga membuat mereka terus berusaha memadamkan kobaran api.
Nampak dari kejauhan sebuah mobil mewah melaju dengan pelan, dan berhenti di tepian jalan, dan memberi jarak sedikit beberapa meter, dari lokasi kejadian. Pintu mobil terbuka lebar, dan dari dalam sana, ke luar beberapa pria bertubuh tinggi, di mana salah satu diantara mereka, adalah Baron. Pria yang merupakan kekasih dari Karla itu sangat terkejut, setelah mengetahui dari salah satu anak buahnya, kalau Melinda telah melarikan diri dari Vila.
Pria berwajah sangar itu melangkah-kan kakinya cepat menghampiri kerumunan warga, yang tengah menonton kejadian rumah terbakar itu.
"Maaf Pak.. Saya mau tanya! Apakah rumah-nya baru saja terbakar?"
"Iya Tuan, rumah-nya baru saja terbakar."
"Siapa pemilik rumah ini Pak?"
"Pemilk rumah ini, bernama Lila. Dia seorang anak yatim piatu, dan bekerja disalah satu supermarket."
__ADS_1
"Dan apakah dia sedang berada di dalam, saat kejadian?"
"Iya. Karena biasa-nya kalau sudah soreh begini, dia sudah berada di rumah."
"Terima kasih, informasi Pak!" jawab Baron, dengan melangkah-kan dua kakinya menjauh dari kerumunan warga.
"Bagaimana Tuan?" tanya salah satu anak buah, saat Baron sudah kembali menuju mobil,
"Menurut yang kita lacak, kalau posisi Melinda berada di rumah ini, dan para warga mengatakan kalau seorang gadis yang menghuni rumah itu, juga ikut terbakar. Dan tadi ada warga yang mengatakan, kalau kebakaran disebabkan, karena ledakan tabung gas. Bisa jadi, Melinda juga ikut terbakar."
"Kalau begitu segera hubungi Nyonya Karla, Tuan! Agar dia tidak perlu khawatir."
"Baiklah, saya akan menghubunginya sekarang," jawab Baron, dengan langsung meraih ponsel dari dalam saku celananya.
****
Karla terlihat begitu gelisah. Wanita itu nampak sangat kaget, saat siang tadi dia menerima kabar dari salah sat anak buah-nya, kalau Melinda berhasil kabur dari vila-nya yang berada di Jawa tengah.
Takut, tentu saja dia sangat takut, jika saja semua kejahatan-nya akan terbongkar, jika Melinda sampai kembali muncul.
Hingga wanita itu langsung menugaskan para anak buah-nya, untuk segera mencari keberadaan Melinda, n,tah itu hidup, atau pun mati.
Akibat rasa cemas yang teramat sangat, membuat wanita itu tak dapat tenang. Tidak lama duduk, atau pun bangun, dan berjalan ke sana kemari.
"Sisi bilang, Aditya sedang ke luar negeri, moga-moga saja itu benar. Aku tidak mau semua-nya terbongkar, sebelum apa yang aku mau, aku dapatkan."
Larut dalam suasana yang begitu resah, tiba-tiba saja panggilan telepone menyapa pada ponselnya. Gawai yang berada dalam genggaman, dia hadapkan pada sepasang pupil mata-nya, dan melihat nama Baron di sana. Dan Karla segera melabuhkan jemari-nya, pada logo dengan warna hijau itu.
"Hallo.." sapa karla saat benda pipih itu, telah dia tempel-kan pada daun telinga-nya.
"Maaf Nyonya! Karena saya baru saja memberi kabar pada anda. Kami sudah mendapati tempat di mana Melinda bersembunyi. Ternyata dia ditolong oleh seorang gadis yatim piatu, dan saat kami datang rumah milik gadis itu sudah habis terbakar. Dan seperti yang kita tahu, kalau Melinda sama sekali tidak tahu, kalau kalung yang dia pakai itu terpasang GPS. Jadi kami sangat yakin, kalau Melinda juga ikut terbakar bersama gadis itu."
"Apakah kau yakin Baron? Kalau siTua-itu, sudah mati terbakar?"
"Saya sangat yakin, Nyonya! Jadi anda tidak perlu khawatir. Sekarang yang tinggal anda pikirkan adalah, bagaimana menyingkirkan Aisyah, dan Tuan Besar."
"Baiklah, setidak-nya mendengar apa yang kau katakan ini membuat aku jadi lega."
Tiba-tiba saja terdengar suara Papa Andi, yang bertanya pada Karla, hingga membuat wanita itu, begitu panik dan langsung mematikan sambungan telepone-nya dengan Baron, begitu saja.
"Siapa yang menelponemu, Karla?" tanya Papa Andi tiba-tiba.
__ADS_1
"Sayang.." Dan tentu saja wajah itu sudah berubah pucat, dan langsung mengakhiri sambungan teleponenya.
"Bukan siapa-siapa, Sayang!" Senyuman begitu manis berusaha menyamarkan wajah pucat, dan juga gugup itu seraya melangkahkan dua kakinya menghampiri pada sang Suami.